Title: Bad Romance (Part VIII/X)
cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki
author note: long chapter, here we go!!
CHAPTER VIII
“Menurutmu bagaimana, Ahjussi?” Kata Hyebin sambil mengaduk-aduk latte di cangkir yang ia pegang. Suasana kafe di sore hari itu tidak terlalu ramai, masih sama seperti suasana ketika Jonghyun dan Hyebin pertama kali sepakat untuk menyadarkan Minho dan Jessica.
Jonghyun hanya menghela nafas, belum terbiasa dengan panggilan Hyebin. “Dengar, Gadis Kecil. Minho pasti merasa kesal saat itu, makanya ia mengatai kita ‘tidak bisa mencari tempat pribadi’.” Kata Jonghyun yang membuat pipinya memanas karena pikirannya kembali melayang kepada hal yang ia lakukan ketika Minho berbicara seperti itu. “Kalau dia tidak kesal, atau bahkan tidak merasakan apapun, dia tidak akan peduli.”
Hyebin masih terdiam tanpa menatap Jonghyun. Dahinya mengernyit tanda ia masih berpikir. Sebenarnya, bukan Hyebin tidak percaya pada omongan Jonghyun. Ia percaya, tapi ia menimbang apakah hal tersebut cukup untuk membuat Minho menyesal.
“Tentu saja percikan api sekecil itu tidak akan langsung membuat seluruh rumah terbakar. Setidaknya, kita memberi lampu merah pada Minho. Kejadian kemarin adalah gertakan pertama darimu untuk Minho.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Hyebin menaruh gelasnya di atas meja dan memusatkan pandangannya pada Jonghyun.
Merasa tidak nyaman diperhatikan, Jonghyun langsung memperhatikan segelas green tea di hadapannya seolah hal tersebut begitu menarik. “Sebenarnya aku memiliki beberapa rencana. Tetapi rencana tersebut akan membutuhkan waktu yang lama dan kau sebentar lagi akan ujian, jadi…”
“Ah, sayang sekali.” Pundak Hyebin turun dan matanya berubah sayu. Jonghyun tak tega melihat Hyebin kecewa seperti itu.
“Aku belum selesai bicara.” Kata Jonghyun dengan senyum penuh kepercayaan dirinya. “Jadi kita harus melakukannya dengan cepat. Kita harus membuat Minho merasa hancur dan Jessica menjadi jera. Minho harus merasa menyesal telah meninggalkanmu dan juga merasa rendah diri ketika kau tidak akan kembali padanya karena kau sudah punya yang lebih baik.” Seru Jonghyun sambil berharap Hyebin menangkap maksud kalimat terakhirnya.
“Lalu Jessica…? Dia hanya akan merasa kehilangan salah satu mainannya dan segera mencari mainan baru.”
Jonghyun, sedikit kecewa karena Hyebin tidak menanggapi pernyataan tidak langsungnya barusan, berkata dengan sebal, “Jessica urusanku.”
“Baiklah. Lalu apa rencanamu, Ahjussi?”
“Habiskan saja dulu minumanmu.” Kata Jonghyun santai sambil bersender di bangkunya, menikmati rasa dingin yang menggilas tenggorokannya.
“Kau bilang kita harus melakukannya dengan cepat.” Sungut Hyebin.
“Minum saja dulu,” Jonghyun menampakkan pandangan nakalnya. “Kau akan membutuhkannya nanti.”
~~~
“Ahjussi! Kenapa kita di sini?” Hyebin berbisik di telinga Jonghyun sambil memandang takut ke sekeliling. Sudah 5 menit Jonghyun berada di toko pakaian dalam dan pakaian renang ini. Satu-satunya hal yang dilakukannya adalah menatap dan memperhatikan detail setiap potong kain yang besarnya hanya selebar serbet meja. “Aku tahu kau mesum, tapi jangan ajak aku un…”
“Aku mau membelikanmu pakaian.” Sahut Jonghyun santai.
“Aku berpakaian baik-baik saja, Ahjussi. Sekarang mari keluar dan temui Minho.” Bisik Hyebin sambil berusaha menekan bahu Jonghyun agar telinganya sejajar dengan bibir Hyebin.
“Kau mau menemui Minho dengan pakaian seperti ini?” tanya Jonghyun sarkastis sambil melihat Hyebin dari atas ke bawah. Diberi tatapan seperti itu, Hyebin merasa takut dan tidak nyaman.
“Jangan mesum!” Hyebin menaruh tangannya di depan dada. “Lalu kau berharap aku menemui Minho dengan pakaian seperti itu?” katanya sambil menunjuk asal sebuah pakaian renang di rak.
“Pakaian dalam yang bagus akan membuatmu lebih percaya diri. Dan hal tersebut adalah hal paling penting yang kau butuhkan karena yang aku tahu, selama kau berpacaran dengan Minho, kau merendahkan dirimu dan mau melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pesuruh dan bukan pacar.” Sahut Jonghyun dalam satu nafas membuat Hyebin ketakutan. Jonghyun merasa panas di dadanya, membayangkan Hyebin kecil yang polos ini harus menjadi pembantu pribadi lelaki bodoh seperti Minho dengan cap seorang kekasih.
“Aku tak akan mau memakai pakaian dalam yang kau belikan. Aku bisa membelinya sendiri.”
“Sudah terlambat, karena aku sudah membelinya.” Kata Jonghyun sambil menerima beberapa tas belanjaan dari pegawai toko. “Ini adalah toko langganan kakakku dan aku sudah memesannya dari beberapa hari yang lalu.” Pamer Jonghyun.
“Huh, bagaimana mungkin kau bisa tahu ukuranku?” kata Hyebin meragukan isi di dalam tas belanjaan tersebut.
“Aku bisa merasakannya saat…” Jonghyun berhenti berbicara, tak ingin membuat Hyebin merasa takut dan menarik dirinya.
“Ya, Tuhan! Kau menyentuh… ku kira kita hanya berciuman. Ya, Tuhan! Astaga.” Hyebin menutup matanya rapat-rapat seolah hal tersebut bisa menghapus rekaman ingatan yang terus terputar dipikirannya. Hyebin bersumpah tidak akan pernah mau mabuk lagi, apalagi jika ada seorang Kim Jonghyun dalam radius 100 meter.
~~~
“Untuk apa kita kesini?” Bisik Hyebin lagi kepada Jonghyun yang sedang melihat pantulan wajah Hyebin di cermin.. Mata Hyebin melirik liar ke kiri dan ke kanan, merasa takut akan hal yang akan terjadi selanjutnya.
“menggali sawah.” Kata Jonghyun acuh-tak acuh. Seorang lelaki berusia tigapuluhan kemudian menghampirinya. “Potong saja rambutnya, model rambut manapun yang sedang banyak digunakan di majalah. Biarkan ia memilih model rambut yang ia suka. Kau bisa mewarnai rambutnya. Mungkin warna cokelat tua mendekati hitam. Jangan terlalu terang karena ia masih harus pergi ke sekolah. Lalu rapihkan alisnya. Jangan buat alisnya terlalu tebal, tetapi natural dan sederhana. Terakhir, berikan juga perawatan kuku.” Kata Jonghyun sambil menatap mata Hyebin melalui pantulan di cermin. Hyebin yang duduk di bangku salon tersebut hanya bisa tercengang akan kalimat panjang yang baru saja Jonghyun ucapkan. “Oh, dan jangan lupa waxing.”
Hyebin yakin dagunya baru saja lepas dari rahangnya.
“Kemudian ajari dia make up sederhana yang bisa ia lakukan sehari-hari.” Kata Jonghyun sambil menepuk bahu laki-laki itu. “Berapa lama, Hyung?”
“Kim Jonghyun, kau manusia brengsek. Sudah berapa tahun kau tidak bertemu denganku dan kini kau malah memerintahku?” Sergah lelaki tersebut sambil mengancam untuk memukul Jonghyun. “Kau bahkan tidak mengenalkanmu pada kekasihmu. Dasar anak tidak berguna.”
Hyebin hanya melongo melihat keduanya bertengkar. Pada akhirnya, lelaki itu memperkenalkan dirinya kepada Hyebin. Seorang Senior Jonghyun semasa SMA, pemilik salon-yang ternyata salon ternama di daerah ini.
Setelah satu jam lebih Hyebin berada di salon tersebut, hal yang sudah ia selesaikan hanyalah membuat perih sekujur tubuhnya dengan cairan lilin saat waxing serta memotong rambutnya menjadi sebahu. Jonghyun kini tertidur di bangku sebelah Hyebin dengan tenang. Hyebin yang kini sedang dipotong kuku kakinya, memperhatikan wajah Jonghyun yang sedang tertidur pulas. Ia merasa begitu bersyukur karena, berkebalikan dengan Minho dan label “kekasih” yang ia berikan waktu itu, Jonghyun yang bukan siapa-siapa bagi Hyebin malah memperlakukannya dengan sangat baik.
“Kau pasti menyukainya.” Kata Jonghyun tiba-tiba tanpa membuka matanya. Hyebin mengira Jonghyun sedang mengigau, maka dari itu ia menggerakkan tangannya di depan wajah Jonghyun.
“Aku tidak tidur. Aku biasa tertidur dengan mata sedikit terbuka.” Aku Jonghyun masih tanpa membuka matanya.
“lalu kenapa kau berpura-pura tidur?” tanya Hyebin, berharap agar Jonghyun melupakan fakta bahwa dirinya baru saja memperhatikan lelaki itu.
“Agar tidak ada yang menggangguku.” Jawab Jonghyun singkat.
“Kau bisa mengobrol dengan temanmu itu, atau berkenalan dengan pegawai-pegawai cantik, Ahjussi.”
“Aku tidak suka melakukan hal jika tidak ada tujuannya.”
“Hmm…” Hyebin terdiam seolah berpikir. “Lalu apa tujuanmu membantuku?” tanyanya polos.
Jonghyun tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia tak menyangka akan kembali pada titik awal ketika ia mempertanyakan alasannya terlibat dengan drama picisan seperti ini. Jonghyun bisa saja melangkah pergi tanpa sekalipun menatap Jessica. Meskipun hidupnya di China hanya berfokus untuk mencari pengganti Jessica, Jonghyun sadar Jessica bukanlah segalanya. Namun Jonghyun malah memilih menenangkan gadis kecil ini dalam tangisnya dan membantunya mengubah dirinya menjadi seorang perempuan dewasa, baik secara fisik maupun mental.
“Sejak kecil, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakak perempuan dan ibuku.” Kata Jonghyun kini membuka matanya perlahan, namun enggan menatap Hyebin. “Ayahku selalu sibuk. Aku menghabiskan banyak waktu mencoba memahami diriku sendiri dan orang lain. Aku melakukan banyak kebodohan tanpa menyadari bahwa keputusanku salah.” Hyebin menatap wajah Jonghyun nanar. Ia tak pernah tahu orang seperti Jonghyun akan memiliki sisi kelam seperti ini. “Ibuku dan kakakku memang dua wanita yang sangat baik dan menyayangiku. Tapi aku merasa hilang arah karena ayahku tak pernah ada di sampingku.”
“Aku tahu kau juga hanya tinggal berdua dengan ibumu, tanpa ayah. Aku tahu kau juga kesulitan melihat bahwa keputusanmu untuk berpacaran dengan Minho adalah keputusan yang salah. Aku merasa kita telah melalui banyak hal yang serupa.”
“Tetapi aku tak mau kau merasakan rasa sakit yang dulu selalu ku rasakan.” Bisik Jonghyun dalam hati.
Hyebin terdiam. Entah dari mana Jonghyun dapat mengetahui sejarah keluarganya, namun yang lebih mengejutkan adalah bahwa Jonghyun mengetahui persis apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Hyebin terdiam, terlarut dalam pikirannya sendiri.
“Ya ampun, dia datang lagi.” Desah petugas salon yang sedang merawat kuku-kuku Hyebin, menginterupsi pikiran penat Jonghyun dan Hyebin.
Keduanya segera melirik ke arah meja resepsionis. Seorang gadis dengan rambut pirang sepunggung sedang mengobrol dengan seorang petugas salon. Darah di wajah Hyebin seolah di hisap oleh jantungnya dan menyisakan kulit pucat. Jonghyun kaget, namun segera mengatasi keterkagetannya.
“Ahjussi. Cepat berbuat sesuatu. Nanti ia bisa tahu bahwa kita tidak berpacaran. Kemudian ia akan memberitahukannya pada Minho. Sia-sia semua usaha, dan uang yang kau gunakan hari ini.” Bisik Hyebin ke arah Jonghyun.
“Salon ini gratis, kok.” Kata Jonghyun sambil mendekatkan bangkunya kepada Hyebin. “Kau tidak boleh menyalahkanku atas semua tindakanku di dekat Jessica, mengerti?”
Hyebin yang kebingungan tak sempat menjawab karena detik berikutnya, bibir Jonghyun sudah mendarat ke bibirnya dan memberikan ciuman singkat. Tangan Jonghyun melingkar di bahu Hyebin membuat tubuh Hyebin terpaksa mendekat ke dada Jonghyun. Petugas salon yang sedari tadi sibuk membersihkan kaki Hyebin kini hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kagum.
“Kau mau makan apa setelah ini?” Tanya Jonghyun dengan suara manis dan tatapan mata yang begitu lembut. Tangannya menyisir rambut Hyebin ke belakang telinga gadis itu tanpa meninggalkan matanya.
“A… apa saja.” Jawab Hyebin terlihat panik yang membuat Jonghyun tertawa dalam hatinya. Hyebin bisa saja mengira bahwa ini hanyalah acting agar rencana mereka tetap berjalan dengan lancar, namun Jonghyun melakukan hal ini karena dirinya memang menginginkan Hyebin.
“Hem… baiklah. Aku akan carikan tempat nanti. Oh, ya. Bagaimana kalau kita pergi menonton juga? Film apa yang kau suka?” Tangan Jonghyun kini menggenggam kedua tangan Hyebin sambil terus menatap matanya.
“D.. Disney.” Jawab Hyebin ragu yang nyaris disambut dengan tawa Jonghyun. Bagaimana mungkin dirinya bisa menyukai gadis kecil yang masih tergila-gila dengan karakter fiksi disney?
Menyukai?
Jonghyun kembali tertegun dengan pikirannya. Ia segera mengenyahkan pikiran itu dan mengecup bibir Hyebin singkat sekali lagi. Jonghyun benar-benar sudah kehilangan pikirannya. Ia tak tahu kemana arahnya melangkah.
“Wah, kalian lagi?” kata sebuah suara dari balik punggung Jonghyun. Hyebin segera melepaskan bibir Jonghyun yang sempat membuat nafasnya terhenti. Kini ia menatap sesosok semampai yang tersenyum manis ke arah mereka berdua. “kegiatan kalian sama persis seperti waktu dulu di bar. Aku penasaran di mana lagi kalian pernah melakukannya?”
“Bukan di lantai auditorium, yang jelas.” Bisik Hyebin pelan sehingga Jessica tidak dapat mendengarnya, namun hal tersebut di dengar dengan jelas oleh Jonghyun. Kini lelaki itu berusaha keras menahan tawanya.
“Curiousity kills the bird, Jessica. Kenalkan, ini Kang Hyebin. Kekasihku.” Jonghyun memperkenalkan Hyebin kepada Jessica. Hyebin dengan sopan mengangkat tangannya agar mereka bisa bersalaman, namun Jessica hanya menatap tangan itu dan mengacuhkannya.
“Tumben sekali, Kim Jonghyun. Tak biasanya kau memilih kekasih yang… “ Hyebin menunggu perkataan Jessica selanjutnya. Jessica tampak berpikir keras sambil memperhatikan bayangan Hyebin melalui cermin. “…berbeda.”
“Ya, dia memang berbeda.” Ucap Jonghyun sambil menatap ke wajah Hyebin. “Dia selalu terkejut saat ku cium, bukan memaksaku menciumnya bahkan ketika aku sedang tidak ingin. Dia selalu menolak kubelikan sesuatu, bukan menyeretku dan kartu kreditku ke setiap toko di pusat perbelanjaan. Dia berpakaian sederhana hampir setiap hari, sehingga membuatku selalu terpesona ketika ia memakai pakaian yang cantik dan berdandan. Dia memang berbeda.”
Hyebin menenggak ludahnya berkali-kali. Mungkin awalnya ditatap oleh Jonghyun terasa tidak nyaman, namun kini matanya malah menginginkan lebih dari sekedar tatapan. Tiga puluh detik yang lalu ketika Jonghyun mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat jantungnya melemah, Hyebin merasa matanya hanya seperti sepotong spons yang mencoba menerima segala macam emosi yang Jonghyun kirimkan.
“Kim Jonghyun, kau begitu polos.” Jessica mendengus kasar. “Kalau kau tak pernah berhasil dengan wanita manapun selama ini, apa yang membuatmu kali ini akan berhasil?”
“Karena kami berdua sama-sama berusaha.” Kata Jonghyun dengan yakin.
“Terserah kau saja.” Jessica menghentakkan kakinya kemudian melangkah menuju bangku kosong di sisi lain salon tersebut. Jonghyun hanya tertawa pelan melihat gadis dengan usia mental seperti anak kecil tersebut.
“Aku membencinya.” Kata Hyebin tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Dia merebut Minho dariku. Dia juga menyelingkuhimu.”
Jonghyun tertawa pelan. “Dia tidak merebut Minho darimu. Dia bahkan mungkin tidak tahu bahwa Minho sudah punya kekasih.” Jonghyun kemudian terdiam, menimbang apakah dirinya akan menanggapi kalimat kedua Hyebin. Jonghyun ingin membuat Hyebin mempercayainya. Namun di sisi lain Jonghyun ingin jujur dan mengatakan segalanya kepada Hyebin, melepas segala topeng ‘manusia baik’ yang ia pakai ketika ia bersama dengan orang lain.
“Sebenarnya, Jessica tidak selingkuh dariku.” Jonghyun menghela nafasnya panjang. “Aku pergi ke China tanpa benar-benar memberi tahunya. Aku… berhubungan dengan beberapa gadis lain juga selama di China, tanpa sepengetahuan Jessica. Setelah beberapa bulan tinggal di China, aku mencoba menghubunginya dan kami sepakat untuk mengakhiri hubungan kami. Kurasa itu terjadi beberapa waktu sebelum Minho dan Jessica menjalin hubungan.”
“Berhubungan… dengan beberapa gadis?” tanya Hyebin ragu.
“Dengar, aku tahu mungkin sulit bagimu untuk paham. Aku mengalami masa yang berat saat itu. Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku, tapi tidak ada! Satu-satunya kehangatan yang bisa kudapatkan adalah dengan bersama perempuan-perempuan itu.” Jonghyun mencoba menatap mata Hyebin, namun tatapan Hyebin kosong, masih terkejut. “Hyebin, Kang Hyebin, dengarkan aku. apapun yang aku lakukan di masa lalu, semua adalah diriku yang belum dewasa. Aku tidak akan kembali menjadi seperti orang itu.”
Hyebin terdiam sejenak, memikirkan kembali semua perkataan Jonghyun. Tentu saja Hyebin tidak berhak menghakimi kehidupan Jonghyun karena mereka tidak memiliki hubungan apa-apa kecuali ‘kenalan yang saling membantu untuk membalas dendam’. Apalagi segalanya terjadi di masa lalu. Tapi Hyebin ragu, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa Jonghyun akan mengulanginya lagi di masa depan, kan?
Masa depan? Memang ada masa depan bagiku dan Jonghyun?
~~~
Hyunki memainkan tas kecil yang ada di tangannya. Perjalanan menuju rumah sakit memang selalu terasa lama, namun kali ini pikirannya yang kalut berhasil membuatnya tak sadar bahwa dirinya sudah hampir sampai. Setelah satu jam perjalanan dengan kereta menuju pinggiran kota Seoul ini, Hyunki bersiap untuk memasuki gedung besar berwarna putih tersebut.
Lantai 3, ruang 309, itulah informasi yang ia ulang berkali-kali sedari tadi di kepalanya. Meski sudah hampir setahun tidak kesini, namun Hyunki tak akan pernah melupakan nomor ruangan tempat dimana kakaknya telah menghabiskan waktu selama ini.
Hyunki menarik nafasnya dalam. Ia datang membawa pikiran yang kacau dan hati yang hancur. Ia hanya berharap dengan bertemu kakaknya dan melihat senyum tulusnya itu, Hyunki dapat melupakan dunia sejenak dan kembali disadarkan bahwa hidupnya masih bisa diselamatkan.
Hyunki membuka pintu geser itu perlahan, membuat suara decitan halus yang memenuhi ruangan. Kakaknya dengan cepat menengok dengan tatapan tajam, namun kemudian tatapan itu berubah menjadi lembut dan sebuah senyum terkembang di wajahnya. Song Hyoyeon segera berlari, menyambut tubuh adiknya tersebut dalam pelukan. Hyunki hanya bisa tertawa singkat ketika kehangatan tubuh kakaknya menyelimuti kulitnya. Dalam sekejap, tubuh Hyunki sudah dibawa dalam lompatan kegirangan khas mereka berdua sejak kecil.
“Eonni!” Hyunki memanggil kakaknya dengan bersemangat.
Namun perempuan yang dipanggil itu tak membalas, hanya terus memeluknya dalam dan menyenderkan dahinya di bahu Hyunki.
Ada sentilan perasaan sakit di dalam dada Hyunki. Ia sadar penuh bahwa kakaknya tak pernah merespon apapun secara verbal lagi semenjak kejadian traumatis waktu itu. Hyunki juga sadar bahwa pelukan dan senyuman yang diberikan kakaknya terjadi bukan karena kakaknya mengenal Hyunki sebagai seorang adik, melainkan karena ia biasa melihat Hyunki setelah kejadian itu. Dokter bilang kakaknya telah menghapus sebagian besar ingatannya sebelum malam itu, sehingga menyisakan sedikit ingatan dan kemampuan yang dapat membuatnya bertahan hidup. Maka dari itu hingga saat ini kakaknya tinggal di rumah sakit jiwa. Para dokter dan suster yang akan merawatnya agar ia bisa melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri.
Hyunki hanya dapat meringis ketika melihat kakaknya kembali sibuk dengan jarum dan benang wol yang ia gunakan untuk merajut. Hyoyeon membuat perkembangan yang sangat pesat dalam dua tahun terakhir. Tubuhnya sudah tidak terlalu kurus, ia sudah mau merespon orang lain yang ia kenal dengan tatapan mata, inisiatif untuk makan dan berolahraga sudah muncul. Dokter sudah menelepon Hyunki beberapa kali untuk memberitahukan bahwa Hyoyeon sudah siap di bawa pulang.
Kata-kata rutukan kembali tergaung di dalam kepala Hyunki. Seharusnya Appa yang mengurus ini semua, aku belum siap. Tidak dengan masalah Kibum dan kehamilan ini.
“Eonni…” Hyunki duduk di sebuah bangku di seberang kakaknya, menghadap ke pintu balkon yang terbuka lebar. Angin musim semi yang sejuk masuk perlahan, memainkan rambut-rambut halus di sekitar wajah Hyunki. “Dokter bilang kau sudah berusaha keras selama disini.”
Hyoyeon masih terus memperhatikan rajutan di tangannya, sesekali menengok ke arah Hyunki.
“Aku benar-benar ingin membawamu pulang. Ingin sekali mengenalkanmu kepada rumah yang saat ini kutempati sendiri. Kau bisa merajut sementara aku pergi ke sekolah. Lalu pada akhir minggu, kita bisa pergi berbelanja bersama, pergi ke taman bersama, atau menonton film bersama. Segalanya pasti terasa menyenangkan.” Hyunki kembali memainkan tas kecil yang ada di tangannya. Ia ragu untuk mengatakan kalimat selanjutnya kepada kakak yang begitu ia cintai ini. “Tapi saat ini aku sibuk. Sebentar lagi ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi, belum lagi… masalah…” Hyunki mencoba keras membendung air matanya, tapi tak bisa. Ia ingin berteriak di depan wajah Kim Kibum karena lelaki itu telah menghamilinya dan kini menghilang.
Sebuah tangan kini mendarat di puncak kepala Hyunki, mengelusnya lembut dan pelan. Hyunki mendongakkan kepalanya, mendapati kakaknya tersenyum sambil terus mengelus kepalanya. Hyunki menikmatinya. Sentuhan yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, seakan tak ada yang berubah di dalam diri kakaknya itu.
Hyoyeon kemudian meninggalkan bangkunya, membuka lemari pakaian dan mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebelum ia menyerahkan benda itu ke dalam tangan Hyunki, Hyoyeon menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, menandakan bahwa Hyunki harus merahasiakannya.
Hyunki terkejut ketika Hyoyeon menyerahkan sebotol susu pisang ke dalam tangannya. Ia menatap kakaknya heran, bagaimana mungkin kakaknya bisa ingat bahwa susu pisang adalah minuman favorit mereka saat masih kecil?
Apakah ini berarti ingatan kakaknya sudah kembali?
Atau mungkin, ayahnya sedang berada di Korea dan mengunjunginya baru-baru ini?
Sreek! Suara pintu geser kembali terdengar di ruangan itu. Hyunki memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Seolah menjawab semua pertanyaannya barusan, sesosok lelaki dengan dua kantung plastik penuh belanjaan masuk ke dalam kamar itu.
“Noona hari ini aku datang lag…”
Suasana hening sejenak. Tidak ada yang bergerak. Sedetik kemudian Hyoyeon berlari kegirangan dan menyambar kantung plastik dari tangan Key yang masih berdiri di depan pintu.
“Oh… Halo, Song Hyunki.”
~~~
“Kau bajingan!” teriak Hyunki tepat di depan wajah Kibum. Beberapa suster yang sedang mengajak pasien berjalan di taman turut memperhatikan mereka, tapi Hyunki tak peduli. Ia merasa harus mengeluarkan segalanya dari dalam dadanya.
“Kau manusia paling jahat!” sekali lagi Hyunki mengatakan kalimat itu dengan keras, tangannya mengepal dan meninju bahu Kibum. Air matanya sudah tak terbendung, mengalir begitu deras dari pipinya.
Kibum hanya dapat melihat wajah Hyunki sambil terdiam. Terlalu banyak yang terjadi dalam kepala Kibum sehingga tidak terpikir bagamaina harus merespon kepada Hyunki.
“Kau meninggalkanku. Setelah aku memberitahumu semua rahasiaku, setelah aku memberi tahumu seberapa hancurnya hidupku, setelah kau melihatku menangis seperti anak kecil, kau meninggalkanku.”
“Song Hyunki…”
“Aku kira kau akan menolongku. Aku kira kau akan memahamiku. Aku kira… Aku kira…” Hyunki kehabisan kata-kata. Kepalanya terlalu berat untuk terus berpikir. Ia menjatuhkan tubuhnya, duduk ke bangku taman dan terus menangis. Kibum duduk di sebelahnya, terus berpikir cara terbaik untuk menenangkan gadis ini.
“Aku…”
“Aku mempercayaimu, Kibum. Bahkan setelah kau meniduriku malam itu, aku masih mempercayaimu. Tapi, tidak. Kau malah memilih untuk pergi dan meninggalkanku sendiri di pagi hari. Lalu apa bedanya aku dan kakakku? Menjadi korban perkosaan? Sekarang aku hamil, dan aku yakin 100% kau tidak peduli dengan semua ini.”
“HAMIL?”
“puas kau, Kibum? Puas?” Kata Hyunki sambil terus meninju bahu Kibum. Kali ini benang kusut di kepala Kibum telah terurai. Ia segera menangkap tangan Hyunki yang kini pukulannya telah melemah, menggenggamnya dalam tangannya dan mencoba mengangkat wajah Hyunki dengan tangan lainnya yang bebas. “Kau telah menghancurkan hidupku, Kibum.”
“Meniduri.. memperkosa… hamil… apa yang kau bicarakan?” Kibum mencoba memahami sudut pandang berpikir Hyunki. Tak mungkin Hyunki berpikir dirinya hamil setelah perbuatan mereka berdua di malam itu.
“Malam itu, di pesta. Kita mabuk. Aku menceritakan segalanya kepadamu. Lalu kau minum beberapa gelas lagi. Setelahnya kau membuka bajuku.. Kemudian kita..” Hyunki tak melanjutkan kalimatnya. Bukan karena ia malu atau takut, namun karena dirinya sendiri tidak ingat kejadian malam itu dengan persis. “Kemudian esok paginya kau menghilang. Aku sendiri di kamar itu, hanya dengan pakaian dalamku.” Cerita Hyunki sambil sesenggukan.
Key merasakan sebersit kelegaan menghinggapi dadanya. Ia meraih bahu Hyunki dan membawanya ke dalam pelukannya. “Song Hyunki, aku minta maaf kalau pagi itu aku meninggalkanmu sendirian. Banyak hal yang ada di pikiranku, dan aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum aku siap memulai segalanya denganmu.”
“Memulai segalanya? Kau berencana memulai apa denganku?” Tanya Hyunki kasar, melepaskan dirinya dari pelukan Key. Namun genggaman tangan Key terasa seperti hal yang biasa mereka lakukan sehingga Hyunki merasa nyaman dan lupa untuk melepasnya.
“Dengarkan aku. Pagi itu aku merasa menjadi lelaki yang paling bodoh karena…”
“Karena kau telah meniduri gadis yang..”
Tiba-tiba saja bibir Hyunki dibungkam oleh ciuman singkat dari bibir Key. Wajah Hyunki yang memerah karena habis menangis menjadi semakin merah.
“Dengarkan aku dulu.” Kata Kibum dengan tegas, menatap lurus ke dalam mata Hyunki. “Aku merasa bodoh, gadis yang kucari selama ini ada di hadapanku, tapi aku malah mengejar gadis lain dan cemburu mati-matian dengan sahabatku. Aku merasa bodoh, karena aku tak ada di masa-masa terburukmu. Hell, aku bahkan tidak tahu kau sedang menderita. Aku merasa bodoh, karena untuk sekian detik pada malam itu, aku sempat terpikir untuk menidurimu…”
Hyunki tertegun. “Jadi.. kau tidak…”
“Tidak, Hyunki.” Key kembali menegaskan kalimat itu, menenangkan Hyunki dengan ibu jarinya yang bergerak melingkar di punggung tangan gadis itu. “Aku mabuk, sangat mabuk. Tapi aku tidak kehilangan akal sehatku.”
“Lalu… kehamilan ini…” Hyunki mulai meragukan dirinya sendiri. Ia terus berpikir akan kemungkinan yang terjadi.
“Kau muntah setiap pagi, aku tahu. Itu karena kau jarang makan pada malam hari. Kau terlambat datang bulan, mungkin karena kau terlalu stres.” Key menjelaskan dengan gamblang.
“Bagaimana kau tahu bahwa aku selalu muntah setiap pagi dan telat datang bulan?”
“Aku bertanya pada Hyebin. Dia khawatir dengan keadaanmu. Suatu pagi saat aku menitipkan bekal sarapanmu padanya, Ia menceritakan semuanya.” Key menatap Hyunki lembut.
“Bekal… jadi kau yang mengirimkan makanan itu selama ini?” Hyunki kembali bertanya pada Key. Otaknya seolah mengalami bencana yang besar sehingga isinya begitu berantakan.
Sunyi menyelimuti keduanya, sibuk dengan pikiran yang berkecamuk di kepala masing-masing. Hyunki menyadari dirinya begitu paranoid dan berpikir terlalu jauh akan hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Ia merasa segala pikiran negatifnya adalah pembuangan tenaga yang sia-sia. Pada akhirnya, tak ada satupun kekhawatirannya yang benar-benar terjadi.
“Song Hyunki…” Panggil key singkat, menarik kembali Hyunki dari kesibukan berpikirnya. “Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
Hyunki diam, memperhatikan wajah Key. Ada keraguan yang muncul di kepala Hyunki. Bagaimana kalau kejadian seperti di kamar hotel itu terjadi lagi, atau lebih parah…
“Hanya kita berdua. Tanpa alkohol, tanpa menginap…” Ucap Key seolah memotong pikiran negatif yang kembali meracuni isi kepala Hyunki. “… dan tanpa seekor cicak.”
~~~
“Ke sini?” tanya Hyebin heran ketika mobil yang disetir oleh Jonghyun memasuki gerbang besar universitas itu. Jonghyun terus berfokus mencari tempat teduh untuk memarkirkan mobilnya. “Kenapa?”
“Terakhir kali kau kesini, Minho berjanji untuk mengantarmu berkeliling, kan? Sayangnya ia terlalu sibuk saat itu. Maka hari ini aku akan mengantarmu. Ujianmu semakin dekat dan kau harus memasukkan pilihan universitas sesegera mungkin.” Jonghyun mencoba menjelaskan sambil mematikan mesin mobil yang telah terparkir rapih. “Kau ingin kemana sekarang?”
“Perpustakaan?” tanya Hyebin dengan bersemangat. Keduanya berjalan ke luar mobil dan berjalan di bawah bayang-bayang pepohonan.
“Aku bahkan tidak pernah ke perpustakaan.” Kata Jonghyun di tengah-tengah perjalanan mereka.
“Benarkah? Kau tidak pernah mengerjakan tugas atau membaca buku?” Hyebin bertanya, penasaran.
“Aku lebih sering menggunakan sumber dari internet dan membeli e-book. Aku tidak terlalu senang bertemu dengan banyak orang di perpustakaan.” Jawab Jonghyun jujur.
Hyebin tertawa ringan, “Ya, ya, ‘tidak terlalu senang bertemu dengan banyak orang’, kata seseorang yang sering pergi ke pesta.”
“Kalau maksudmu pergi ke pesta di bar atau club, aku hanya pergi dua atau tiga kali dalam setahun. Aku lebih senang minum sendiri di rumah, menghindari kejadian yang tidak kuinginkan.”
Hening tiba-tiba menyelimuti keduanya. Hyebin terlarut dalam pikirannya yang masih belum terbiasa akan fakta-fakta baru mengenai Jonghyun yang membuatnya jauh lebih mengenal lelaki itu lagi.
Memasuki gedung kampus, Jonghyun meraih tangan Hyebin dan menggenggamnya erat. Hyebin yang kebingungan menatap Jonghyun, berharap lelaki itu mau memberinya penjelasan. “Siapa tahu Minho lewat dan melihat kita.” Kata Jonghyun mencoba mencari alasan.
Mereka berdua berjalan dalam diam menyusuri ruangan menuju perpustakaan. Bahkan ketika sampai di dalam perpustakaan pun, keduanya terdiam dan sibuk melihat-lihat. Pada Akhirnya, keduanya memilih untuk duduk di bangku di sudut ruang baca yang sepi.
“Universitas ini sangat bagus. Aku tak yakin bisa diterima di sini.” Ucap Hyebin masih terkagum dengan rak-rak tinggi perpustakaan itu.
“Kenapa tidak? Aku saja bisa masuk.”
“Kau punya uang dan otak. Aku hanya punya otak. Sulit untuk mengandalkan otak saja”
Jonghyun mencoba menatap mata Hyebin, mengagumi betapa polos dan jujurnya gadis ini. “Kau berusaha, itu yang penting. Banyak orang yang memiliki uang yang banyak dan otak yang cukup pintar, tapi tidak berusaha.” Jonghyun membenarkan rambut Hyebin yang menutupi wajahnya. Jonghyun benar-benar merasa seolah ada magnet yang sedang menarik dirinya. “Aku bisa membantumu belajar.”
“Benarkah?” Hyebin mengangkat wajahnya dan menatap mata Jonghyun yang kini kembali mengirimkan berjuta emosi. Hyebin tidak berkedip, ia ingin melihat Jonghyun terus, tanpa henti.
Jonghyun yang memulainya, mendekatkan bibirnya ke bibir Hyebin. Bahkan sentuhan singkat selembut kapas itu saja bisa membuat Hyebin kehilangan pikirannya. Jonghyun tidak mencium Hyebin seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Jonghyun menghirup aroma kulit Hyebin, campuran antara aroma manis buah musim panas yang menyenangkan dan menenangkan, namun juga memabukkan di saat yang bersamaan.
Hyebin menarik dirinya tiba-tiba, berusaha keras untuk melepaskan diri dari tatapan mata Jonghyun yang kian menggelap. “Oh, sebelum aku lupa sesuatu…” Hyebin menarik keluar sebuah boneka kelinci dengan telinga besar dari tasnya. Boneka itu tampak sudah tua dan agak lusuh, namun masih terawat dengan baik.
“Beberapa hari lalu di salon, kau bilang kau sering membutuhkan orang untuk mendengarkanmu, tapi tidak ada. Kau bisa menceritakan segalanya kepada boneka ini.” Kata Hyebin sambil menyerahkan boneka itu ke dalam tangan Jonghyun. “Ibuku membelikannya saat kami baru tiba di Seoul. Saat itu kami tidak punya terlalu banyak uang dan ia menyisakan sedikit dari gaji pertamanya untuk membelikanku mainan agar aku tidak kesepian. Katanya, telinga kelinci ini cukup besar untuk mendengar semua ceritamu.”
Jonghyun menatap boneka kelinci itu dan mengelusnya dalam diam. Dia terharu, menyadari bahwa Hyebin mendengarkan setiap kalimat yang ia ucapkan. Tidak hanya itu, Hyebin bahkan mengingatnya dan membantunya.
“Terima kasih.” Kata Jonghyun kembali menatap mata Hyebin lembut. Ia meraih leher Hyebin dan mengecup keningnya singkat. Jika beberapa hari lalu Jonghyun ingin mengenyahkan suara-suara di pikirannya yang selalu mempertanyakan perasaannya terhadap Hyebin, saat ini, ia ingin berterima kasih kepada suara-suara itu.