Welcome!

howdy!

 

Just going to say hi through this post to everyone who just open this blog. first of all, hello! I am rebecca, a highschooler and girl. go to page ABOUT OWNER if you want to know more about me and go to page FIND ME! if you want to talk to me in other site.

Like another site you ever visit, this private blog is also has some rules. well, its not a hard rule to do. let me tell you the rule.

  1. Leave a comment. I do need something like critics, suggestion and something more to make all my post getting better each time, right?
  2. Don’t Bash. don’t like, don’t see. I know its a bit hard because all of you have a pair of eyes. but please, did you ever think about people who you bashed?
  3. Don’t use rude nor inapproprate words nor tYp3 Lyk tHis. I’m just an innocent highschooler so, dont make this innocent mind of mine contaminated.
easy uh? I Know right? I already told you! 😀
and see ya in every post of mine.
x.o.x.o
Owner,
Rebecca Mularia

[Fanfics] Bad Romance – Part VIII

Title: Bad Romance (Part VIII/X)

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

author note: long chapter, here we go!!

CHAPTER VIII

“Menurutmu bagaimana, Ahjussi?” Kata Hyebin sambil mengaduk-aduk latte di cangkir yang ia pegang. Suasana kafe di sore hari itu tidak terlalu ramai, masih sama seperti suasana ketika Jonghyun dan Hyebin pertama kali sepakat untuk menyadarkan Minho dan Jessica.

Jonghyun hanya menghela nafas, belum terbiasa dengan panggilan Hyebin. “Dengar, Gadis Kecil. Minho pasti merasa kesal saat itu, makanya ia mengatai kita ‘tidak bisa mencari tempat pribadi’.” Kata Jonghyun yang membuat pipinya memanas karena pikirannya kembali melayang kepada hal yang ia lakukan ketika Minho berbicara seperti itu. “Kalau dia tidak kesal, atau bahkan tidak merasakan apapun, dia tidak akan peduli.”

Hyebin masih terdiam tanpa menatap Jonghyun. Dahinya mengernyit tanda ia masih berpikir. Sebenarnya, bukan Hyebin tidak percaya pada omongan Jonghyun. Ia percaya, tapi ia menimbang apakah hal tersebut cukup untuk membuat Minho menyesal.

“Tentu saja percikan api sekecil itu tidak akan langsung membuat seluruh rumah terbakar. Setidaknya, kita memberi lampu merah pada Minho. Kejadian kemarin adalah gertakan pertama darimu untuk Minho.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Hyebin menaruh gelasnya di atas meja dan memusatkan pandangannya pada Jonghyun.

Merasa tidak nyaman diperhatikan, Jonghyun langsung memperhatikan segelas green tea di hadapannya seolah hal tersebut begitu menarik. “Sebenarnya aku memiliki beberapa rencana. Tetapi rencana tersebut akan membutuhkan waktu yang lama dan kau sebentar lagi akan ujian, jadi…”

“Ah, sayang sekali.” Pundak Hyebin turun dan matanya berubah sayu. Jonghyun tak tega melihat Hyebin kecewa seperti itu.

“Aku belum selesai bicara.” Kata Jonghyun dengan senyum penuh kepercayaan dirinya. “Jadi kita harus melakukannya dengan cepat. Kita harus membuat Minho merasa hancur dan Jessica menjadi jera. Minho harus merasa menyesal telah meninggalkanmu dan juga merasa rendah diri ketika kau tidak akan kembali padanya karena kau sudah punya yang lebih baik.” Seru Jonghyun sambil berharap Hyebin menangkap maksud kalimat terakhirnya.

“Lalu Jessica…? Dia hanya akan merasa kehilangan salah satu mainannya dan segera mencari mainan baru.”

Jonghyun, sedikit kecewa karena Hyebin tidak menanggapi pernyataan tidak langsungnya barusan, berkata dengan sebal, “Jessica urusanku.”

“Baiklah. Lalu apa rencanamu, Ahjussi?”

“Habiskan saja dulu minumanmu.” Kata Jonghyun santai sambil bersender di bangkunya, menikmati rasa dingin yang menggilas tenggorokannya.

“Kau bilang kita harus melakukannya dengan cepat.” Sungut Hyebin.

“Minum saja dulu,” Jonghyun menampakkan pandangan nakalnya. “Kau akan membutuhkannya nanti.”

~~~

“Ahjussi! Kenapa kita di sini?” Hyebin berbisik di telinga Jonghyun sambil memandang takut ke sekeliling. Sudah 5 menit Jonghyun berada di toko pakaian dalam dan pakaian renang ini. Satu-satunya hal yang dilakukannya adalah menatap dan memperhatikan detail setiap potong kain yang besarnya hanya selebar serbet meja. “Aku tahu kau mesum, tapi jangan ajak aku un…”

“Aku mau membelikanmu pakaian.” Sahut Jonghyun santai.

“Aku berpakaian baik-baik saja, Ahjussi. Sekarang mari keluar dan temui Minho.” Bisik Hyebin sambil berusaha menekan bahu Jonghyun agar telinganya sejajar dengan bibir Hyebin.

“Kau mau menemui Minho dengan pakaian seperti ini?” tanya Jonghyun sarkastis sambil melihat Hyebin dari atas ke bawah. Diberi tatapan seperti itu, Hyebin merasa takut dan tidak nyaman.

“Jangan mesum!” Hyebin menaruh tangannya di depan dada. “Lalu kau berharap aku menemui Minho dengan pakaian seperti itu?” katanya sambil menunjuk asal sebuah pakaian renang di rak.

“Pakaian dalam yang bagus akan membuatmu lebih percaya diri. Dan hal tersebut adalah hal paling penting yang kau butuhkan karena yang aku tahu, selama kau berpacaran dengan Minho, kau merendahkan dirimu dan mau melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pesuruh dan bukan pacar.” Sahut Jonghyun dalam satu nafas membuat Hyebin ketakutan. Jonghyun merasa panas di dadanya, membayangkan Hyebin kecil yang polos ini harus menjadi pembantu pribadi lelaki bodoh seperti Minho dengan cap seorang kekasih.

“Aku tak akan mau memakai pakaian dalam yang kau belikan. Aku bisa membelinya sendiri.”

“Sudah terlambat, karena aku sudah membelinya.” Kata Jonghyun sambil menerima beberapa tas belanjaan dari pegawai toko. “Ini adalah toko langganan kakakku dan aku sudah memesannya dari beberapa hari yang lalu.” Pamer Jonghyun.

“Huh, bagaimana mungkin kau bisa tahu ukuranku?” kata Hyebin meragukan isi di dalam tas belanjaan tersebut.

“Aku bisa merasakannya saat…” Jonghyun berhenti berbicara, tak ingin membuat Hyebin merasa takut dan menarik dirinya.

“Ya, Tuhan! Kau menyentuh… ku kira kita hanya berciuman. Ya, Tuhan! Astaga.” Hyebin menutup matanya rapat-rapat seolah hal tersebut bisa menghapus rekaman ingatan yang terus terputar dipikirannya. Hyebin bersumpah tidak akan pernah mau mabuk lagi, apalagi jika ada seorang Kim Jonghyun dalam radius 100 meter.

~~~

“Untuk apa kita kesini?” Bisik Hyebin lagi kepada Jonghyun yang sedang melihat pantulan wajah Hyebin di cermin.. Mata Hyebin melirik liar ke kiri dan ke kanan, merasa takut akan hal yang akan terjadi selanjutnya.

“menggali sawah.” Kata Jonghyun acuh-tak acuh. Seorang lelaki berusia tigapuluhan kemudian menghampirinya. “Potong saja rambutnya, model rambut manapun yang sedang banyak digunakan di majalah. Biarkan ia memilih model rambut yang ia suka. Kau bisa mewarnai rambutnya. Mungkin warna cokelat tua mendekati hitam. Jangan terlalu terang karena ia masih harus pergi ke sekolah. Lalu rapihkan alisnya. Jangan buat alisnya terlalu tebal, tetapi natural dan sederhana. Terakhir, berikan juga perawatan kuku.” Kata Jonghyun sambil menatap mata Hyebin melalui pantulan di cermin. Hyebin yang duduk di bangku salon tersebut hanya bisa tercengang akan kalimat panjang yang baru saja Jonghyun ucapkan. “Oh, dan jangan lupa waxing.”

Hyebin yakin dagunya baru saja lepas dari rahangnya.

“Kemudian ajari dia make up sederhana yang bisa ia lakukan sehari-hari.” Kata Jonghyun sambil menepuk bahu laki-laki itu. “Berapa lama, Hyung?”

“Kim Jonghyun, kau manusia brengsek. Sudah berapa tahun kau tidak bertemu denganku dan kini kau malah memerintahku?” Sergah lelaki tersebut sambil mengancam untuk memukul Jonghyun. “Kau bahkan tidak mengenalkanmu pada kekasihmu. Dasar anak tidak berguna.”

Hyebin hanya melongo melihat keduanya bertengkar. Pada akhirnya, lelaki itu memperkenalkan dirinya kepada Hyebin. Seorang Senior Jonghyun semasa SMA, pemilik salon-yang ternyata salon ternama di daerah ini.

Setelah satu jam lebih Hyebin berada di salon tersebut, hal yang sudah ia selesaikan hanyalah membuat perih sekujur tubuhnya dengan cairan lilin saat waxing serta memotong rambutnya menjadi sebahu. Jonghyun kini tertidur di bangku sebelah Hyebin dengan tenang. Hyebin yang kini sedang dipotong kuku kakinya, memperhatikan wajah Jonghyun yang sedang tertidur pulas. Ia merasa begitu bersyukur karena, berkebalikan dengan Minho dan label “kekasih” yang ia berikan waktu itu, Jonghyun yang bukan siapa-siapa bagi Hyebin malah memperlakukannya dengan sangat baik.

“Kau pasti menyukainya.” Kata Jonghyun tiba-tiba tanpa membuka matanya. Hyebin mengira Jonghyun sedang mengigau, maka dari itu ia menggerakkan tangannya di depan wajah Jonghyun.

“Aku tidak tidur. Aku biasa tertidur dengan mata sedikit terbuka.” Aku Jonghyun masih tanpa membuka matanya.

“lalu kenapa kau berpura-pura tidur?” tanya Hyebin, berharap agar Jonghyun melupakan fakta bahwa dirinya baru saja memperhatikan lelaki itu.

“Agar tidak ada yang menggangguku.” Jawab Jonghyun singkat.

“Kau bisa mengobrol dengan temanmu itu, atau berkenalan dengan pegawai-pegawai cantik, Ahjussi.”

“Aku tidak suka melakukan hal jika tidak ada tujuannya.”

“Hmm…” Hyebin terdiam seolah berpikir. “Lalu apa tujuanmu membantuku?” tanyanya polos.

Jonghyun tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia tak menyangka akan kembali pada titik awal ketika ia mempertanyakan alasannya terlibat dengan drama picisan seperti ini. Jonghyun bisa saja melangkah pergi tanpa sekalipun menatap Jessica. Meskipun hidupnya di China hanya berfokus untuk mencari pengganti Jessica, Jonghyun sadar Jessica bukanlah segalanya. Namun Jonghyun malah memilih menenangkan gadis kecil ini dalam tangisnya dan membantunya mengubah dirinya menjadi seorang perempuan dewasa, baik secara fisik maupun mental.

“Sejak kecil, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakak perempuan dan ibuku.” Kata Jonghyun kini membuka matanya perlahan, namun enggan menatap Hyebin. “Ayahku selalu sibuk. Aku menghabiskan banyak waktu mencoba memahami diriku sendiri dan orang lain. Aku melakukan banyak kebodohan tanpa menyadari bahwa keputusanku salah.” Hyebin menatap wajah Jonghyun nanar. Ia tak pernah tahu orang seperti Jonghyun akan memiliki sisi kelam seperti ini. “Ibuku dan kakakku memang dua wanita yang sangat baik dan menyayangiku. Tapi aku merasa hilang arah karena ayahku tak pernah ada di sampingku.”

“Aku tahu kau juga hanya tinggal berdua dengan ibumu, tanpa ayah. Aku tahu kau juga kesulitan melihat bahwa keputusanmu untuk berpacaran dengan Minho adalah keputusan yang salah. Aku merasa kita telah melalui banyak hal yang serupa.”

“Tetapi aku tak mau kau merasakan rasa sakit yang dulu selalu ku rasakan.” Bisik Jonghyun dalam hati.

Hyebin terdiam. Entah dari mana Jonghyun dapat mengetahui sejarah keluarganya, namun yang lebih mengejutkan adalah bahwa Jonghyun mengetahui persis apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Hyebin terdiam, terlarut dalam pikirannya sendiri.

“Ya ampun, dia datang lagi.” Desah petugas salon yang sedang merawat kuku-kuku Hyebin, menginterupsi pikiran penat Jonghyun dan Hyebin.

Keduanya segera melirik ke arah meja resepsionis. Seorang gadis dengan rambut pirang sepunggung sedang mengobrol dengan seorang petugas salon. Darah di wajah Hyebin seolah di hisap oleh jantungnya dan menyisakan kulit pucat. Jonghyun kaget, namun segera mengatasi keterkagetannya.

“Ahjussi. Cepat berbuat sesuatu. Nanti ia bisa tahu bahwa kita tidak berpacaran. Kemudian ia akan memberitahukannya pada Minho. Sia-sia semua usaha, dan uang yang kau gunakan hari ini.” Bisik Hyebin ke arah Jonghyun.

“Salon ini gratis, kok.” Kata Jonghyun sambil mendekatkan bangkunya kepada Hyebin. “Kau tidak boleh menyalahkanku atas semua tindakanku di dekat Jessica, mengerti?”

Hyebin yang kebingungan tak sempat menjawab karena detik berikutnya, bibir Jonghyun sudah mendarat ke bibirnya dan memberikan ciuman singkat. Tangan Jonghyun melingkar di bahu Hyebin membuat tubuh Hyebin terpaksa mendekat ke dada Jonghyun. Petugas salon yang sedari tadi sibuk membersihkan kaki Hyebin kini hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kagum.

“Kau mau makan apa setelah ini?” Tanya Jonghyun dengan suara manis dan tatapan mata yang begitu lembut. Tangannya menyisir rambut Hyebin ke belakang telinga gadis itu tanpa meninggalkan matanya.

“A… apa saja.” Jawab Hyebin terlihat panik yang membuat Jonghyun tertawa dalam hatinya. Hyebin bisa saja mengira bahwa ini hanyalah acting agar rencana mereka tetap berjalan dengan lancar, namun Jonghyun melakukan hal ini karena dirinya memang menginginkan Hyebin.

“Hem… baiklah. Aku akan carikan tempat nanti. Oh, ya. Bagaimana kalau kita pergi menonton juga? Film apa yang kau suka?” Tangan Jonghyun kini menggenggam kedua tangan Hyebin sambil terus menatap matanya.

“D.. Disney.” Jawab Hyebin ragu yang nyaris disambut dengan tawa Jonghyun. Bagaimana mungkin dirinya bisa menyukai gadis kecil yang masih tergila-gila dengan karakter fiksi disney?

Menyukai?

Jonghyun kembali tertegun dengan pikirannya. Ia segera mengenyahkan pikiran itu dan mengecup bibir Hyebin singkat sekali lagi. Jonghyun benar-benar sudah kehilangan pikirannya. Ia tak tahu kemana arahnya melangkah.

“Wah, kalian lagi?” kata sebuah suara dari balik punggung Jonghyun. Hyebin segera melepaskan bibir Jonghyun yang sempat membuat nafasnya terhenti. Kini ia menatap sesosok semampai yang tersenyum manis ke arah mereka berdua. “kegiatan kalian sama persis seperti waktu dulu di bar. Aku penasaran di mana lagi kalian pernah melakukannya?”

“Bukan di lantai auditorium, yang jelas.” Bisik Hyebin pelan sehingga Jessica tidak dapat mendengarnya, namun hal tersebut di dengar dengan jelas oleh Jonghyun. Kini lelaki itu berusaha keras menahan tawanya.

“Curiousity kills the bird, Jessica. Kenalkan, ini Kang Hyebin. Kekasihku.” Jonghyun memperkenalkan Hyebin kepada Jessica. Hyebin dengan sopan mengangkat tangannya agar mereka bisa bersalaman, namun Jessica hanya menatap tangan itu dan mengacuhkannya.

“Tumben sekali, Kim Jonghyun. Tak biasanya kau memilih kekasih yang… “ Hyebin menunggu perkataan Jessica selanjutnya. Jessica tampak berpikir keras sambil memperhatikan bayangan Hyebin melalui cermin. “…berbeda.”

“Ya, dia memang berbeda.” Ucap Jonghyun sambil menatap ke wajah Hyebin. “Dia selalu terkejut saat ku cium, bukan memaksaku menciumnya bahkan ketika aku sedang tidak ingin. Dia selalu menolak kubelikan sesuatu, bukan menyeretku dan kartu kreditku ke setiap toko di pusat perbelanjaan. Dia berpakaian sederhana hampir setiap hari, sehingga membuatku selalu terpesona ketika ia memakai pakaian yang cantik dan berdandan. Dia memang berbeda.”

Hyebin menenggak ludahnya berkali-kali. Mungkin awalnya ditatap oleh Jonghyun terasa tidak nyaman, namun kini matanya malah menginginkan lebih dari sekedar tatapan. Tiga puluh detik yang lalu ketika Jonghyun mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat jantungnya melemah, Hyebin merasa matanya hanya seperti sepotong spons yang mencoba menerima segala macam emosi yang Jonghyun kirimkan.

“Kim Jonghyun, kau begitu polos.” Jessica mendengus kasar. “Kalau kau tak pernah berhasil dengan wanita manapun selama ini, apa yang membuatmu kali ini akan berhasil?”

“Karena kami berdua sama-sama berusaha.” Kata Jonghyun dengan yakin.

“Terserah kau saja.” Jessica menghentakkan kakinya kemudian melangkah menuju bangku kosong di sisi lain salon tersebut. Jonghyun hanya tertawa pelan melihat gadis dengan usia mental seperti anak kecil tersebut.

“Aku membencinya.” Kata Hyebin tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Dia merebut Minho dariku. Dia juga menyelingkuhimu.”

Jonghyun tertawa pelan. “Dia tidak merebut Minho darimu. Dia bahkan mungkin tidak tahu bahwa Minho sudah punya kekasih.” Jonghyun kemudian terdiam, menimbang apakah dirinya akan menanggapi kalimat kedua Hyebin. Jonghyun ingin membuat Hyebin mempercayainya. Namun di sisi lain Jonghyun ingin jujur dan mengatakan segalanya kepada Hyebin, melepas segala topeng ‘manusia baik’ yang ia pakai ketika ia bersama dengan orang lain.

“Sebenarnya, Jessica tidak selingkuh dariku.” Jonghyun menghela nafasnya panjang. “Aku pergi ke China tanpa benar-benar memberi tahunya. Aku… berhubungan dengan beberapa gadis lain juga selama di China, tanpa sepengetahuan Jessica. Setelah beberapa bulan tinggal di China, aku mencoba menghubunginya dan kami sepakat untuk mengakhiri hubungan kami. Kurasa itu terjadi beberapa waktu sebelum Minho dan Jessica menjalin hubungan.”

“Berhubungan… dengan beberapa gadis?” tanya Hyebin ragu.

“Dengar, aku tahu mungkin sulit bagimu untuk paham. Aku mengalami masa yang berat saat itu. Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku, tapi tidak ada! Satu-satunya kehangatan yang bisa kudapatkan adalah dengan bersama perempuan-perempuan itu.” Jonghyun mencoba menatap mata Hyebin, namun tatapan Hyebin kosong, masih terkejut. “Hyebin, Kang Hyebin, dengarkan aku. apapun yang aku lakukan di masa lalu, semua adalah diriku yang belum dewasa. Aku tidak akan kembali menjadi seperti orang itu.”

Hyebin terdiam sejenak, memikirkan kembali semua perkataan Jonghyun. Tentu saja Hyebin tidak berhak menghakimi kehidupan Jonghyun karena mereka tidak memiliki hubungan apa-apa kecuali ‘kenalan yang saling membantu untuk membalas dendam’. Apalagi segalanya terjadi di masa lalu. Tapi Hyebin ragu, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa Jonghyun akan mengulanginya lagi di masa depan, kan?

Masa depan? Memang ada masa depan bagiku dan Jonghyun?

~~~

Hyunki memainkan tas kecil yang ada di tangannya. Perjalanan menuju rumah sakit memang selalu terasa lama, namun kali ini pikirannya yang kalut berhasil membuatnya tak sadar bahwa dirinya sudah hampir sampai. Setelah satu jam perjalanan dengan kereta menuju pinggiran kota Seoul ini, Hyunki bersiap untuk memasuki gedung besar berwarna putih tersebut.

Lantai 3, ruang 309, itulah informasi yang ia ulang berkali-kali sedari tadi di kepalanya. Meski sudah hampir setahun tidak kesini, namun Hyunki tak akan pernah melupakan nomor ruangan tempat dimana kakaknya telah menghabiskan waktu selama ini.

Hyunki menarik nafasnya dalam. Ia datang membawa pikiran yang kacau dan hati yang hancur. Ia hanya berharap dengan bertemu kakaknya dan melihat senyum tulusnya itu, Hyunki dapat melupakan dunia sejenak dan kembali disadarkan bahwa hidupnya masih bisa diselamatkan.

Hyunki membuka pintu geser itu perlahan, membuat suara decitan halus yang memenuhi ruangan. Kakaknya dengan cepat menengok dengan tatapan tajam, namun kemudian tatapan itu berubah menjadi lembut dan sebuah senyum terkembang di wajahnya. Song Hyoyeon segera berlari, menyambut tubuh adiknya tersebut dalam pelukan. Hyunki hanya bisa tertawa singkat ketika kehangatan tubuh kakaknya menyelimuti kulitnya. Dalam sekejap, tubuh Hyunki sudah dibawa dalam lompatan kegirangan khas mereka berdua sejak kecil.

“Eonni!” Hyunki memanggil kakaknya dengan bersemangat.

Namun perempuan yang dipanggil itu tak membalas, hanya terus memeluknya dalam dan menyenderkan dahinya di bahu Hyunki.

Ada sentilan perasaan sakit di dalam dada Hyunki. Ia sadar penuh bahwa kakaknya tak pernah merespon apapun secara verbal lagi semenjak kejadian traumatis waktu itu. Hyunki juga sadar bahwa pelukan dan senyuman yang diberikan kakaknya terjadi bukan karena kakaknya mengenal Hyunki sebagai seorang adik, melainkan karena ia biasa melihat Hyunki setelah kejadian itu. Dokter bilang kakaknya telah menghapus sebagian besar ingatannya sebelum malam itu, sehingga menyisakan sedikit ingatan dan kemampuan yang dapat membuatnya bertahan hidup. Maka dari itu hingga saat ini kakaknya tinggal di rumah sakit jiwa. Para dokter dan suster yang akan merawatnya agar ia bisa melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri.

Hyunki hanya dapat meringis ketika melihat kakaknya kembali sibuk dengan jarum dan benang wol yang ia gunakan untuk merajut. Hyoyeon membuat perkembangan yang sangat pesat dalam dua tahun terakhir. Tubuhnya sudah tidak terlalu kurus, ia sudah mau merespon orang lain yang ia kenal dengan tatapan mata, inisiatif untuk makan dan berolahraga sudah muncul. Dokter sudah menelepon Hyunki beberapa kali untuk memberitahukan bahwa Hyoyeon sudah siap di bawa pulang.

Kata-kata rutukan kembali tergaung di dalam kepala Hyunki. Seharusnya Appa yang mengurus ini semua, aku belum siap. Tidak dengan masalah Kibum dan kehamilan ini.

“Eonni…” Hyunki duduk di sebuah bangku di seberang kakaknya, menghadap ke pintu balkon yang terbuka lebar. Angin musim semi yang sejuk masuk perlahan, memainkan rambut-rambut halus di sekitar wajah Hyunki. “Dokter bilang kau sudah berusaha keras selama disini.”

Hyoyeon masih terus memperhatikan rajutan di tangannya, sesekali menengok ke arah Hyunki.

“Aku benar-benar ingin membawamu pulang. Ingin sekali mengenalkanmu kepada rumah yang saat ini kutempati sendiri. Kau bisa merajut sementara aku pergi ke sekolah. Lalu pada akhir minggu, kita bisa pergi berbelanja bersama, pergi ke taman bersama, atau menonton film bersama. Segalanya pasti terasa menyenangkan.” Hyunki kembali memainkan tas kecil yang ada di tangannya. Ia ragu untuk mengatakan kalimat selanjutnya kepada kakak yang begitu ia cintai ini. “Tapi saat ini aku sibuk. Sebentar lagi ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi, belum lagi… masalah…” Hyunki mencoba keras membendung air matanya, tapi tak bisa. Ia ingin berteriak di depan wajah Kim Kibum karena lelaki itu telah menghamilinya dan kini menghilang.

Sebuah tangan kini mendarat di puncak kepala Hyunki, mengelusnya lembut dan pelan. Hyunki mendongakkan kepalanya, mendapati kakaknya tersenyum sambil terus mengelus kepalanya. Hyunki menikmatinya. Sentuhan yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, seakan tak ada yang berubah di dalam diri kakaknya itu.

Hyoyeon kemudian meninggalkan bangkunya, membuka lemari pakaian dan mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebelum ia menyerahkan benda itu ke dalam tangan Hyunki, Hyoyeon menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, menandakan bahwa Hyunki harus merahasiakannya.

Hyunki terkejut ketika Hyoyeon menyerahkan sebotol susu pisang ke dalam tangannya. Ia menatap kakaknya heran, bagaimana mungkin kakaknya bisa ingat bahwa susu pisang adalah minuman favorit mereka saat masih kecil?

Apakah ini berarti ingatan kakaknya sudah kembali?

Atau mungkin, ayahnya sedang berada di Korea dan mengunjunginya baru-baru ini?

Sreek! Suara pintu geser kembali terdengar di ruangan itu. Hyunki memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Seolah menjawab semua pertanyaannya barusan, sesosok lelaki dengan dua kantung plastik penuh belanjaan masuk ke dalam kamar itu.

“Noona hari ini aku datang lag…”

Suasana hening sejenak. Tidak ada yang bergerak. Sedetik kemudian Hyoyeon berlari kegirangan dan menyambar kantung plastik dari tangan Key yang masih berdiri di depan pintu.

“Oh… Halo, Song Hyunki.”

~~~

“Kau bajingan!” teriak Hyunki tepat di depan wajah Kibum. Beberapa suster yang sedang mengajak pasien berjalan di taman turut memperhatikan mereka, tapi Hyunki tak peduli. Ia merasa harus mengeluarkan segalanya dari dalam dadanya.

“Kau manusia paling jahat!” sekali lagi Hyunki mengatakan kalimat itu dengan keras, tangannya mengepal dan meninju bahu Kibum. Air matanya sudah tak terbendung, mengalir begitu deras dari pipinya.

Kibum hanya dapat melihat wajah Hyunki sambil terdiam. Terlalu banyak yang terjadi dalam kepala Kibum sehingga tidak terpikir bagamaina harus merespon kepada Hyunki.

“Kau meninggalkanku. Setelah aku memberitahumu semua rahasiaku, setelah aku memberi tahumu seberapa hancurnya hidupku, setelah kau melihatku menangis seperti anak kecil, kau meninggalkanku.”

“Song Hyunki…”

“Aku kira kau akan menolongku. Aku kira kau akan memahamiku. Aku kira… Aku kira…” Hyunki kehabisan kata-kata. Kepalanya terlalu berat untuk terus berpikir. Ia menjatuhkan tubuhnya, duduk ke bangku taman dan terus menangis. Kibum duduk di sebelahnya, terus berpikir cara terbaik untuk menenangkan gadis ini.

“Aku…”

“Aku mempercayaimu, Kibum. Bahkan setelah kau meniduriku malam itu, aku masih mempercayaimu. Tapi, tidak. Kau malah memilih untuk pergi dan meninggalkanku sendiri di pagi hari. Lalu apa bedanya aku dan kakakku? Menjadi korban perkosaan? Sekarang aku hamil, dan aku yakin 100% kau tidak peduli dengan semua ini.”

“HAMIL?”

“puas kau, Kibum? Puas?” Kata Hyunki sambil terus meninju bahu Kibum. Kali ini benang kusut di kepala Kibum telah terurai. Ia segera menangkap tangan Hyunki yang kini pukulannya telah melemah, menggenggamnya dalam tangannya dan mencoba mengangkat wajah Hyunki dengan tangan lainnya yang bebas. “Kau telah menghancurkan hidupku, Kibum.”

“Meniduri.. memperkosa… hamil… apa yang kau bicarakan?” Kibum mencoba memahami sudut pandang berpikir Hyunki. Tak mungkin Hyunki berpikir dirinya hamil setelah perbuatan mereka berdua di malam itu.

“Malam itu, di pesta. Kita mabuk. Aku menceritakan segalanya kepadamu. Lalu kau minum beberapa gelas lagi. Setelahnya kau membuka bajuku.. Kemudian kita..” Hyunki tak melanjutkan kalimatnya. Bukan karena ia malu atau takut, namun karena dirinya sendiri tidak ingat kejadian malam itu dengan persis. “Kemudian esok paginya kau menghilang. Aku sendiri di kamar itu, hanya dengan pakaian dalamku.” Cerita Hyunki sambil sesenggukan.

Key merasakan sebersit kelegaan menghinggapi dadanya. Ia meraih bahu Hyunki dan membawanya ke dalam pelukannya. “Song Hyunki, aku minta maaf kalau pagi itu aku meninggalkanmu sendirian. Banyak hal yang ada di pikiranku, dan aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum aku siap memulai segalanya denganmu.”

“Memulai segalanya? Kau berencana memulai apa denganku?” Tanya Hyunki kasar, melepaskan dirinya dari pelukan Key. Namun genggaman tangan Key terasa seperti hal yang biasa mereka lakukan sehingga Hyunki merasa nyaman dan lupa untuk melepasnya.

“Dengarkan aku. Pagi itu aku merasa menjadi lelaki yang paling bodoh karena…”

“Karena kau telah meniduri gadis yang..”

Tiba-tiba saja bibir Hyunki dibungkam oleh ciuman singkat dari bibir Key. Wajah Hyunki yang memerah karena habis menangis menjadi semakin merah.

“Dengarkan aku dulu.” Kata Kibum dengan tegas, menatap lurus ke dalam mata Hyunki. “Aku merasa bodoh, gadis yang kucari selama ini ada di hadapanku, tapi aku malah mengejar gadis lain dan cemburu mati-matian dengan sahabatku. Aku merasa bodoh, karena aku tak ada di masa-masa terburukmu. Hell, aku bahkan tidak tahu kau sedang menderita. Aku merasa bodoh, karena untuk sekian detik pada malam itu, aku sempat terpikir untuk menidurimu…”

Hyunki tertegun. “Jadi.. kau tidak…”

“Tidak, Hyunki.” Key kembali menegaskan kalimat itu, menenangkan Hyunki dengan ibu jarinya yang bergerak melingkar di punggung tangan gadis itu. “Aku mabuk, sangat mabuk. Tapi aku tidak kehilangan akal sehatku.”

“Lalu… kehamilan ini…” Hyunki mulai meragukan dirinya sendiri. Ia terus berpikir akan kemungkinan yang terjadi.

“Kau muntah setiap pagi, aku tahu. Itu karena kau jarang makan pada malam hari. Kau terlambat datang bulan, mungkin karena kau terlalu stres.” Key menjelaskan dengan gamblang.

“Bagaimana kau tahu bahwa aku selalu muntah setiap pagi dan telat datang bulan?”

“Aku bertanya pada Hyebin. Dia khawatir dengan keadaanmu. Suatu pagi saat aku menitipkan bekal sarapanmu padanya, Ia menceritakan semuanya.” Key menatap Hyunki lembut.

“Bekal… jadi kau yang mengirimkan makanan itu selama ini?” Hyunki kembali bertanya pada Key. Otaknya seolah mengalami bencana yang besar sehingga isinya begitu berantakan.

Sunyi menyelimuti keduanya, sibuk dengan pikiran yang berkecamuk di kepala masing-masing. Hyunki menyadari dirinya begitu paranoid dan berpikir terlalu jauh akan hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Ia merasa segala pikiran negatifnya adalah pembuangan tenaga yang sia-sia. Pada akhirnya, tak ada satupun kekhawatirannya yang benar-benar terjadi.

“Song Hyunki…” Panggil key singkat, menarik kembali Hyunki dari kesibukan berpikirnya. “Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

Hyunki diam, memperhatikan wajah Key. Ada keraguan yang muncul di kepala Hyunki. Bagaimana kalau kejadian seperti di kamar hotel itu terjadi lagi, atau lebih parah…

“Hanya kita berdua. Tanpa alkohol, tanpa menginap…” Ucap Key seolah memotong pikiran negatif yang kembali meracuni isi kepala Hyunki. “… dan tanpa seekor cicak.”

~~~

“Ke sini?” tanya Hyebin heran ketika mobil yang disetir oleh Jonghyun memasuki gerbang besar universitas itu. Jonghyun terus berfokus mencari tempat teduh untuk memarkirkan mobilnya. “Kenapa?”

“Terakhir kali kau kesini, Minho berjanji untuk mengantarmu berkeliling, kan? Sayangnya ia terlalu sibuk saat itu. Maka hari ini aku akan mengantarmu. Ujianmu semakin dekat dan kau harus memasukkan pilihan universitas sesegera mungkin.” Jonghyun mencoba menjelaskan sambil mematikan mesin mobil yang telah terparkir rapih. “Kau ingin kemana sekarang?”

“Perpustakaan?” tanya Hyebin dengan bersemangat. Keduanya berjalan ke luar mobil dan berjalan di bawah bayang-bayang pepohonan.

“Aku bahkan tidak pernah ke perpustakaan.” Kata Jonghyun di tengah-tengah perjalanan mereka.

“Benarkah? Kau tidak pernah mengerjakan tugas atau membaca buku?” Hyebin bertanya, penasaran.

“Aku lebih sering menggunakan sumber dari internet dan membeli e-book. Aku tidak terlalu senang bertemu dengan banyak orang di perpustakaan.” Jawab Jonghyun jujur.

Hyebin tertawa ringan, “Ya, ya, ‘tidak terlalu senang bertemu dengan banyak orang’, kata seseorang yang sering pergi ke pesta.”

“Kalau maksudmu pergi ke pesta di bar atau club, aku hanya pergi dua atau tiga kali dalam setahun. Aku lebih senang minum sendiri di rumah, menghindari kejadian yang tidak kuinginkan.”

Hening tiba-tiba menyelimuti keduanya. Hyebin terlarut dalam pikirannya yang masih belum terbiasa akan fakta-fakta baru mengenai Jonghyun yang membuatnya jauh lebih mengenal lelaki itu lagi.

Memasuki gedung kampus, Jonghyun meraih tangan Hyebin dan menggenggamnya erat. Hyebin yang kebingungan menatap Jonghyun, berharap lelaki itu mau memberinya penjelasan. “Siapa tahu Minho lewat dan melihat kita.” Kata Jonghyun mencoba mencari alasan.

Mereka berdua berjalan dalam diam menyusuri ruangan menuju perpustakaan. Bahkan ketika sampai di dalam perpustakaan pun, keduanya terdiam dan sibuk melihat-lihat. Pada Akhirnya, keduanya memilih untuk duduk di bangku di sudut ruang baca yang sepi.

“Universitas ini sangat bagus. Aku tak yakin bisa diterima di sini.” Ucap Hyebin masih terkagum dengan rak-rak tinggi perpustakaan itu.

“Kenapa tidak? Aku saja bisa masuk.”

“Kau punya uang dan otak. Aku hanya punya otak. Sulit untuk mengandalkan otak saja”

Jonghyun mencoba menatap mata Hyebin, mengagumi betapa polos dan jujurnya gadis ini. “Kau berusaha, itu yang penting. Banyak orang yang memiliki uang yang banyak dan otak yang cukup pintar, tapi tidak berusaha.” Jonghyun membenarkan rambut Hyebin yang menutupi wajahnya. Jonghyun benar-benar merasa seolah ada magnet yang sedang menarik dirinya. “Aku bisa membantumu belajar.”

“Benarkah?” Hyebin mengangkat wajahnya dan menatap mata Jonghyun yang kini kembali mengirimkan berjuta emosi. Hyebin tidak berkedip, ia ingin melihat Jonghyun terus, tanpa henti.

Jonghyun yang memulainya, mendekatkan bibirnya ke bibir Hyebin. Bahkan sentuhan singkat selembut kapas itu saja bisa membuat Hyebin kehilangan pikirannya. Jonghyun tidak mencium Hyebin seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Jonghyun menghirup aroma kulit Hyebin, campuran antara aroma manis buah musim panas  yang menyenangkan dan menenangkan, namun juga memabukkan di saat yang bersamaan.

Hyebin menarik dirinya tiba-tiba, berusaha keras untuk melepaskan diri dari tatapan mata Jonghyun yang kian menggelap. “Oh, sebelum aku lupa sesuatu…” Hyebin menarik keluar sebuah boneka kelinci dengan telinga besar dari tasnya. Boneka itu tampak sudah tua dan agak lusuh, namun masih terawat dengan baik.

“Beberapa hari lalu di salon, kau bilang kau sering membutuhkan orang untuk mendengarkanmu, tapi tidak ada. Kau bisa menceritakan segalanya kepada boneka ini.” Kata Hyebin sambil menyerahkan boneka itu ke dalam tangan Jonghyun. “Ibuku membelikannya saat kami baru tiba di Seoul. Saat itu kami tidak punya terlalu banyak uang dan ia menyisakan sedikit dari gaji pertamanya untuk membelikanku mainan agar aku tidak kesepian. Katanya, telinga kelinci ini cukup besar untuk mendengar semua ceritamu.”

Jonghyun menatap boneka kelinci itu dan mengelusnya dalam diam. Dia terharu, menyadari bahwa Hyebin mendengarkan setiap kalimat yang ia ucapkan. Tidak hanya itu, Hyebin bahkan mengingatnya dan membantunya.

“Terima kasih.” Kata Jonghyun kembali menatap mata Hyebin lembut. Ia meraih leher Hyebin dan mengecup keningnya singkat. Jika beberapa hari lalu Jonghyun ingin mengenyahkan suara-suara di pikirannya yang selalu mempertanyakan perasaannya terhadap Hyebin, saat ini, ia ingin berterima kasih kepada suara-suara itu.

[FANFICS] Brokenhearted – SHINee Flash Fiction

 

Title: Brokenhearted

Rating: G

Genre: angst, romance

Character: Onew, Jonghyun, Key, Minho, and Taemin

~~~

Aku memeriksa gaun musim panas yang melekat di tubuhku sekali lagi, meluruskan bagian-bagian yang terlihat kusut di mataku. Di hadapanku, tergeletak dua cangkir hangat dengan asap mengepul. Gelas yang pertama telah habis ku minum setengahnya, yang lainnya masih menunggu pemiliknya untuk datang.

“Hai!” sapa Onew, lelaki yang telah mencuri hatiku semenjak kali pertama ia memanggil namaku. “Lama tak bertemu.”

“Semenjak kau mengundurkan diri dari kantor untuk ‘mengejar mimpi’-mu? Itu baru beberapa minggu yang lalu.” Kataku sambil tertawa kecil. Aku memandang matanya yang selalu tersenyum dengan gugup. Ia tak pernah mengajakku untuk mengobrol berdua seperti ini. Apakah ia akan mengucapkan kalimat yang sudah kuimajinasikan berkali-kali di kepalaku, hari ini?

Onew kembali tersenyum, senyum manis yang membuat lututku melemas. “Aku sudah mendapatkan mimpiku.” Kata Onew tiba-tiba. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya dan mendorongnya ke arahku. “Aku akan menikahi putri presdir bulan depan.”

~~~

“Morning, sunshine…” Aku mendengar suara serak itu dari kejauhan. Aku membuka mataku dan menatap lurus ke arah matanya. Jonghyun menggaruk rambutnya asal lalu beranjak dari tempat tidur. Mematikan alarm jam yang membuat kepalaku pusing.

“Kau akan pergi sepagi ini?” tanyaku merajuk ke arahnya. Ia berbalik menatap ke arahku dan tersenyum manis.

“Disini sudah jam delapan pagi, sayang.” Katanya mencoba menegakkan layar laptop yang menjadi penghubung komunikasi kami.

“Tapi disini masih pukul dua pagi dan aku merindukanmu.” Jawabku sayu. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang sulit kujelaskan.

“Kau sudah menunggu lebih dari 400 hari. Tinggal 83 hari lagi. Bersabarlah.” Katanya lalu menghilang ke sisi lain dari kamarnya yang tak bisa ku lihat.

“Love you, Jonghyun.” Kata ku pelan sambil menutup layar laptop, memutus sambungan komunikasi yang lebih banyak menyiksaku daripada membuatku senang.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, aku dibawa kembali tidur oleh air mata.

~~~

“Dia yang mengajariku menyetir mobil. Suatu malam kami mengendap-endap keluar rumah dan membawa mobil ayahnya” Semua orang menatapku dengan emosi yang sulit di jelaskan. Aku hanya mencoba tersenyum, namun tetap saja tenggorokanku rasanya kering dan tercekat.

“Yang kami tak duga, ada seorang kakek tua berjalan di depan kami.” aku mencoba meraih selembar tisu yang disediakan petugas gereja di atas podium. “Ia terus berteriak, ‘Rem! Injak remnya!’, tapi karena aku masih belum pandai menyetir mobil, aku malah menginjak gas dan kami tidak sengaja menabrak tiang listrik. Tidak sampai di situ, gardu listrik yang ada di atas kami tampak goyah dan nyaris jatuh. Saat itu jantungku terasa mau copot. Dengan lihai ia menarik tuas dan menyuruhku menginjak gas dalam, membuat mobil kami mundur dengan cepat.” Di akhir kalimatku itu, beberapa orang tertawa dan menyeka air matanya.

“Key lalu bilang, ‘Aku yakin kau akan membicarakan kejadian ini saat kau membacakan pidato kematian bagiku.’” Semua orang kembali terdiam, menatapku dalam. “Segera setelah dia bilang hal itu, dua ekor kucing melompat ke atas bagasi mobil ayahnya dan mulai bertengkar. Kucing itu membuat lecet seluruh bagasi dan membuat kami harus bekerja paruh waktu selama enam bulan.”

“Dan Key, teman terbaikku, kau salah ketika kau bilang aku akan menceritakan hal ini di pidato kematianmu. Aku menceritakan hal ini di pidato pernikahanmu agar istrimu tahu betapa bodohnya dirimu kadang-kadang. Tapi hal itu yang membuatmu begitu mudah dicintai, dan diingat.”

Atau setidaknya, begitu kata hatiku.

~~~

‘Choi Minho! Jangan lupa bawakan aku sebotol anggur, ingat itu!’

Aku terkikik membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh sahabat-sahabatku. Ini adalah hari kelima dari bulan maduku di Itali dan besok, aku dan istriku akan kembali ke Korea untuk melanjutkan hidup kami.

Segalanya berjalan lancar. Tak kusangka gadis yang kutemui dua tahun lalu ini bersedia menikah denganku walaupun kami baru dua setengah bulan berpacaran. Ia tidak keberatan dengan pesta yang mewah dan cincin yang sederhana. Namun aku begitu mencintainya sehingga memberikannya pesta pernikahan yang tak pernah ia bayangkan.

Malam pertama kami.. sungguh hebat. Aku takkan bisa berhenti tersenyum jika kembali mengingatnya. Ia begitu cantik, begitu menawan. Setiap sentuhan yang ia berikan benar-benar mengirimku langsung ke surga. Pikiranku dipenuhi oleh suaranya, dadaku panas akan setiap pikiran mengenai tubuhnya.

Jika hal ini terus berlangsung, mungkin aku akan meninggalkan sebelum usia 40.

‘Selamat atas pernikahan anda, Tuan dan Nyonya Choi.’ Sebuah email masuk ke handphoneku. Aku segera membuka email yang tidak kukenali pengirimnya itu, mendapati sebuah file video disisipkan di sana.

“Ah.. J.. Jongki-ya.. Ah… Ah.. ya.. Te.. teruskan.. Ya…”

Dan video 40 detik itu telah meruntuhkan duniaku.

~~~

Aku hanya dapat menatap laptopku yang sudah terlipat rapi di meja. Map yang kupegang erat saat ini adalah hasil kerja kerasku setelah tidak tidur selama dua malam. Aku mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja, berharap detakan waktu bisa berjalan secepat tempo ketukannya.

“Lee Taemin!” panggil seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan besar itu. Ia melewati rak-rak tinggi dan berjalan ke arahku. Aku tersenyum, melahap pemandangan indah yang ia berikan melalui ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Bajunya sederhana, putih dan polos seperti perilakunya. Rambutnya hanya dibiarkan tergerai dan membuatnya masih pantas disamakan dengan adikku yang duduk di bangku SMP. Bibirnya berwarna merah muda, bibir yang selalu berhasil membuatku menelan ludahku berkali-kali setiap melihatnya.

“Hai, Lee Taemin! Sudah selesai?” katanya sambil menyentuh tanganku dengan tangannya yang halus. Tak lama, tangan lembut itu meninggalkan tanganku dan kini sibuk memeriksa lembaran kertas yang ada di dalam map yang sebelumnya ku pegang. “Wah, kau memang jenius, Lee Taemin. Kau mengerjakannya dalam dua hari! Terima kasih.” Ia lalu mendekat dan mencium pipi kananku dengan bibirnya yang terasa hangat.

“Jadi.. maukah kau minum kopi hari Sab…”

“Sebentar, pacarku menelepon.” Katanya sambil mengangkat saluran telpon yang bergetar di tangannya.

Taemin hanya memperhatikan punggung gadis itu yang kini berjalan kembali, keluar dari perpustakaan.

[Fanfics] Bad Romance – Part VII

Title: Bad Romance (Part VII/X)

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

author note: THREE FREAKIN CHAPTER TO GO. BARE WITH ME PLEASE. PLEASE.

CHAPTER VII

“Tonic and gin.” Kata Minho kepada bartender yang sedang sibuk mengelap beberapa gelas. Matahari belum lama tenggelam, namun Minho sudah bersiap menenggelamkan pikirannya bersama alkohol. Ia merasa kalut dan butuh cairan itu mengalir bersama darahnya, membersihkan otaknya dari ide-ide tak masuk akal.

Beberapa hari belakangan, segala hal yang dikerjakan Minho tidak ada yang benar. Teman-teman sekelasnya, dosennya, bahkan pelatih basketnya merasa ada yang salah dengan Minho. Lelaki itu sering tidak fokus, mengerjakan beberapa hal berulang kali, serta melupakan banyak hal.

“Argh…” Minho mengerang setelah tegukan pertamanya. Lidahnya terasa panas saat cairan menusuk itu mengalir melalui tenggorokannya. Minho menutup matanya rapat, merasakan pahitnya. Mungkin itu yang kubutuhkan, pikirnya.

Minho menggerak-gerakkan gelas minumannya, membuat potongan jeruk nipis di dalamnya ikut bergerak. Pikirannya kembali melayang, mengingat sosok gadis kecil yang sampai sebulan lalu masih menjadi kekasihnya. Kang Hyebin, Minho menghela nafasnya dalam mengingat nama itu. Ia merasa dirinya begitu bodoh karena mau tergoda untuk menduakan gadis yang selalu mendukungnya itu.

Semuanya terjadi semenjak setahun yang lalu. Choi Minho yang telah bersusah payah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi kini berhasil menempati bangku universitas terbaik di negeri ini. Ia merasakan hidupnya berubah, tak ada lagi aturan, tak ada lagi seragam SMA, tak ada lagi pelajaran membosankan yang tidak ia ketahui gunanya. Minho merasa dirinya sudah menjadi manusia dewasa.

Rasa kedewasaan itu disambut dengan kedatangan Jessica, seorang wanita cantik dengan senyum yang menawan. Awalnya Minho tak percaya bahwa seorang senior secantik dan sepopuler Jessica mendekati dirinya, namun akhirnya, aksi Jessica yang makin terang-terangan membuat Minho sadar. Setiap kali ia berjalan bersama Jessica noona, semua orang akan menatapnya. Para lelaki merasa iri sedangkan para perempuan meratap sedih. Tatapan itu membuat jantungnya memompa darah jauh lebih cepat, merasa bangga di luar batas.

Untuk sesaat, Minho tak merasa menyesal memiliki hubungan yang spesial dengan Jessica. Ia merasa Jessica adalah tiketnya menuju ketenaran di kampusnya. Sampai suatu ketika, Jessica mencium bibir Minho, membawanya ke dunia yang tak pernah ia tapaki. Saat itu, otak Minho seolah ditutup kabut kebahagiaan yang membuatnya berhenti bernapas. Namun detik berikutnya, Minho sadar bahwa dirinya masih terikat dengan Hyebin, kekasihnya dari masa SMA.

Hyebin adalah gadis yang amat baik, meski dulu Minho menganggap kebaikannya itu sebagai bentuk kebodohan Hyebin. Sejak pertama kali mereka berkenalan, Hyebin selalu berusaha keras mendekatinya. Menontonnya ketika latihan basket, menyiapkan handuk ketika Minho selesai latihan, membawakan minum, menyalin catatan, membuatkan tugas, bahkan membersihkan kamar Minho-pun Hyebin mau. Hyebin juga bukan gadis yang menuntut. Ketika Minho tiba-tiba membatalkan janji kencan mereka karena alasan sakit—yang tentu saja dikarangnya—Hyebin tidak marah, ia malah membuatkan Minho semangkuk sup panas agar Minho cepat sembuh. Saat Minho hendak menghadapi ujian, Hyebin selalu membawakan bekal makan siang setiap hari Sabtu dan Minggu karena Hyebin tahu benar Minho sering melupakan waktu makannya. Minho hanya dapat meringis mengingat betapa banyak pengorbanan Hyebin untuk mempertahankan hubungan mereka.

Pada akhirnya, setelah ciuman Minho dan Jessica yang pertama itu, Minho menyerah. Minho memilih untuk melupakan keberadaan Hyebin dan menjalani hubungannya dengan Jessica. Hari berganti hari, lalu bulan, kemudian ia tak sadar sudah setahun mengabaikan Hyebin. Pesona Jessica terlalu kuat sehingga tempat dimana otak Minho menyimpan Hyebin seolah selalu terkunci rapat. Cara Jessica itu berjalan, cara gadis itu berbicara, cara gadis itu menyentuh tangan Minho, cara gadis itu mencium bibirnya, hingga cara gadis itu berbisik manis di telinga Minho adalah bayangan yang selalu memenuhi pikiran Minho. Setiap dirinya berada di dekat Jessica, Minho merasakan uap panas yang mendorongnya semakin ke ujung jurang. Ia tahu hal ini salah dan hanya akan menyakiti hati gadis yang tak tahu apa-apa itu. Tetapi tubuhnya tampak menikmati debaran jantungnya tiap ia menengok ke bawah jurang, seolah menantang takdir untuk membawanya kepada hempasan adrenalin.

Kini Minho merasa menyesal. Rasa bahagia itu ternyata datang hanya seperti sorot lampu blitz kamera, sekejap dan membutakan matanya. Kini ketika Minho benar-benar dihempas kenyataan ke dasar jurang, tubuhnya terasa sakit. Melihat sorot mata Hyebin yang menatap lurus ke mata Minho dengan pandangan terluka membuat darah di sekujur tubuh merinding, merasa bersalah. Ia ingin memukul dirinya sendiri, bagaimana ia bisa begitu bodoh dan menukar Hyebin yang begitu baik pada dirinya dengan wanita yang baru saja dikenalnya?

Namun perasaan itu langsung berubah menjadi kilatan amarah ketika ia melihat laki-laki lain yang bersama Hyebin. Lelaki itu dengan mudahnya menggenggam tangan Hyebin, memeluk pinggangnya, bahkan mencium bibirnya. Darah di sekujur tubuh Minho mendidih oleh amarah. Bagaimana mungkin bisa Hyebin mengijinkan lelaki seperti Kim Jonghyun untuk menyentuh tubuhnya?

Saat itu, yang ada di pikiran Minho hanyalah ego-nya. Jika itu adalah cara Hyebin untuk membuat Minho menyesal, gadis itu telah salah langkah. Minho menantang Hyebin dengan menarik Jessica dan menciumnya dalam, berharap hal itu dapat membuat Hyebin merasa menyesal dan meminta Minho untuk kembali, namun cara itu ternyata tak berhasil.

Kini, Minho sadar bahwa dirinya telah kalah dan perbuatan Hyebin telah berhasil membuatnya cemburu. Benar-benar berhasil. Ia merasakan penyesalan setiap kali ia mengingat kembali bagaimana ia memperlakukan Hyebin. Minho tahu bahwa perlakuan Hyebin, pembalasan dendam yang gadis itu rencanakan belumlah seberapa dibanding pengkhianatan yang Minho lakukan. Namun dada Minho benar-benar sakit dibuatnya.

“Satu lagi…” Kata Minho sambil mengangkat gelas kosong di tangannya ke arah bartender. Dengan sigap bartender berkemeja hitam itu menghampirinya dengan gelas lain yang sudah terisi penuh dengan alkohol lainnya. Minho merogoh kantong celananya, mengambil sekotak rokok yang baru saja ia beli sebelum ke bar ini. Minho bukan perokok, namun kini ia sadar tubuhnya butuh berbagai macam zat untuk kembali seperti sedia kala.

“Sejak kapan kau merokok?” sebuah suara menghentikan tangan Minho yang hendak menyulut korek api. Diliriknya si pemilik suara, Key. Sahabatanya itu kini duduk di sebelah Minho dan meminta sebotol bir ke arah bartender di hadapannya. “Pelatih bilang kau bolos latihan dua hari ini. Dia memintaku untuk berbicara denganmu. Dua hari lagi pertandingan akan dimulai dan kau har…”

“Kau pernah merasa sakit hati, Key?” tanya Minho menghentikan kalimat Key. Lelaki yang ditanya itu hanya menatap mata kosong Minho, memintanya untuk melanjutkannya. “Aku merasakannya, tiga hari yang lalu. Ketika kekasihku sendiri berjalan dengan lelaki lain.”

“Mantan kekasihmu.” Kata Key santai sambil menenggak bir di tangannya. Key merasa kasihan pada sahabatnya, namun di sisi lain, perasaan Key terhadap Hyebin yang belum hilang sepenuhnya membuat Key juga merasa kesal. “Lagipula, kau yang menyelingkuhinya lebih dulu. Dia pergi dengan lelaki itu setelah putus darimu.” Diam sejenak, Key mencoba menerka apa yang sedang merasuki pikiran sahabatnya itu. “Kenapa kau menyelingkuhinya?

Minho kembali meringis, menghisap rokok yang ada di tangannya lalu menghembuskannya perlahan. Dia tertawa melihat kepulan asap yang menutupi pandangannya. “Aku.. entahlah. Seperti rokok ini. kau tahu hal ini berbahaya, tapi kau terus menghisapnya hingga habis sebatang, sekotak, entah berapa banyak. Kau menikmati asap panas yang meremas paru-parumu perlahan. Kau menikmatinya begitu dalam hingga kau tak sadar hal itu sedang mencoba membunuhmu.”

“Aku tak merokok.” Komentar Key tak acuh.

Minho tidak memperdulikannya. “Awalnya aku hanya menikmati saat bersama Jessica. Menikmati kenikmatan yang ia tawarkan, melupakan keberadaan Hyebin, orang yang benar-benar mencintaiku.”

Key mengernyitkan dahinya, tak mengerti jalan pikiran Minho. “Pernahkan kau mencintai Hyebin?”

Minho hanya meresponnya dengan tawa kecil. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Key yang masih tak mengerti. “Kau melihat asap ini? perasaanku pada Hyebin hanyalah seperti ini, awalnya. Pekat, mengecoh pandangan. Namun hanya dengan hembusan angin…” Minho meniupkan angin ke arah kepulan asap itu, membuatnya menghilang tanpa bekas. “hilang.”

“Kalau kau tak benar-benar menyayangi gadis itu…” Key mengambil rokok yang ada di tangan Minho, menghempasnya ke dalam asbak. “Kenapa kau menerima cintanya?” tanya Key dengan ekspresi terluka.

“Hari pertama Hyebin datang ke sekolah, kau bertingkah heboh dan mendatangi kelasku. Kau bilang kau akan menjadikan salah satu junior itu menjadi milikmu. Aku hanya tertawa kecil, melihat tingkahmu yang aneh.” Minho menenggak habis minumannya, berkonsentrasi pada ceritanya. “Lalu aku tahu siapa gadis yang kau incar. Kang Hyebin. Tidak buruk, pikirku saat itu.”

Kata-kata Minho tersebut membuat Key mengingat kembali hari itu. Suatu pagi di musim semi, hari pertama kembali ke sekolah. Key memperhatikan juniornya satu-persatu, berharap bahwa gadis yang ia tunggu-tunggu, gadis yang pernah berjanji untuk masuk ke sekolah itu bersama-sama dengan Key, akhirnya datang. Saat itu Hyebin lewat, mengenakan ikat rambut persis seperti yang selalu dikenakan Ki-chan, teman kecil Key.

“Key.. Key.. Key…” Minho yang kini telah mabuk menepuk-nepuk pipi Key pelan. “Kau pintar, Kau pandai bermain basket, kau… kau punya segalanya.” Kata Minho tampak berusaha keras untuk menyelesaikan kalimatnya. “Kau adalah MVP di setiap pertandingan, sementara aku hanyalah finalis. Kau selalu mendapat nilai tertinggi di kelas, sementara aku hanya bisa berada di urutan ke dua, ke tiga. Kau selalu di dampingi orang tuamu saat menerima penghargaan. Aku…” Minho tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Key merasa marah, namun juga kasihan. Ia tak pernah tahu perasaan Minho sekacau itu.

“Aku menerima gadis itu karena aku ingin membuatmu marah.” Kata Minho pada akhirnya.

Key tak bereaksi. Ia hanya memperhatikan Minho yang kini mencoba untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. “Sedihnya, kini malah diriku yang merasa marah, kesal, bodoh, tolol…” Minho melanjutkan ocehannya lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja.

“Menurutmu… aku, si brengsek yang telah menyakiti Hyebin ini, masihkah aku punya kesempatan untuk kembali bersama Hyebin?

***

“Hyebin, cepatlah, bel sekolah tidak akan menunggumu.” Kata Hyunki sudah tak sabar setelah menunggu selama sepuluh menit di depan pintu rumah Hyebin. Dengan sigap Hyebin keluar rumah sambil meneriakkan salam kepada ibunya yang sedang berada di dapur.

“Wow, Hyunki, kau tahu kau bisa menggunakan kamar mandi rumahku jika kau tak sempat mandi di kamarmu.” Kata Hyebin ketika melihat wajah Hyunki yang begitu berantakan. Rambutnya di ikat asal dan seragamnya terlihat tak rapih.

“Hem.. ya, ya, lucu sekali Kang Hyebin. Aku hanya tak sempat menyetrika bajuku.”

“Nampaknya wajahmu juga butuh disetrika.” Sahut Hyebin asal. “Katakan padaku, Hyunki.”

Hyunki menatap sahabatnya itu heran, “katakan apa?

“Kau berubah semenjak malam dimana kita pergi ke pesta itu. Ada hal yang tidak kau ceritakan, kan?” Kata Hyebin mencoba memperhatikan wajah Hyunki yang kini memucat.

Hyunki sebenernya ingin menceritakan segalanya kepada Hyebin, mengenai Key, mengenai kakaknya, mengenai keluarganya…

Tetapi Hyunki tak pernah berani mengatakannya kepada Hyebin. Hyunki tak ingin Hyebin tahu seberapa kelam hidupnya. Hyunki tak mau Hyebin menjauhinya karena hal itu.

Selain itu, Hyunki merasa beban Hyebin saat ini sama beratnya. Ditinggalkan kekasih yang selalu ia sayangi bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, Hyunki tak pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar hotel Jonghyun Ajussi dan Hyebin malam itu.

“Hyunki, awas!” Hyebin menarik tangan Hyunki untuk kembali ke trotar. Sebuah sepeda motor baru saja hampir menyerempet Hyunki.

“FUCK!” umpat Hyunki tiba-tiba membuat Hyebin terkejut dan menatapnya heran.

“Sudahlah, sudah. Tadi.. itu.. kita yang jalannya tidak di pinggir.” Kata Hyebin mencoba menenangkan Hyunki.

Hyunki menatap ke arah kejauhan dengan dada yang masih berdebar, merasa marah dan kesal. “Dia yang mengendarai sepeda motor dengan asal-asalan. Kita sedang berada di trotoar, jalan ini adalah hak pejalan kaki.” Sahut Hyunki kesal membuat Hyebin kelimpungan.

Hyebin hanya dapat memperhatikan sosok kurus Hyunki berjalan menuju ke gerbang sekolah. Ada yang salah dengan Hyunki. Meski telah berteman selama tiga tahun, Hyebin memang tidak terlalu mengenal Hyunki. Selain dari keseharian mereka di sekolah dan mengerjakan tugas rumah bersama, Hyebin tak mengena l keluarga atau sahabat lain Hyunki. Tentu saja Hyebin sangat ingin menanyakan keseharian Hyunki, tetapi tak mau mendobrak batasan-batasan yang selama ini selalu di buat oleh Hyunki secara diam-diam.

Hyunki menghempaskan tubuhnya ke atas bangku dan melempar tas ranselnya ke atas meja. Hari ini Hyunki benar-benar tidak berniat mendengar celotehan guru tentang ujian akhir yang semakin dekat, tentang pilihan universitas dan fakultas yang belum ia tentukan, juga pilihan karir yang akan ia geluti. Hyunki sedang tidak ingin berpikir, namun pembicaraan dengan konselor sekolah barusan, yang merupakan perintah ayahnya, tak urung membuatnya berpikir.

Hyunki menaruh kepalanya di atas meja. Pikirannya melayang kembali saat ayahnya masih tinggal bersama mereka di rumah. Meski ayahnya jarang berada di rumah karena bisnisnya, Hyunki selalu menuruti kemauan ayahnya. Namun kini keadaannya berbeda. Hyunki merasa tak mengenal ayahnya lagi. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya memilih untuk menenggelamkan diri pada bisnisnya dan memutuskan komunikasi dengan Hyunki. Ia harus melalui masa SMP dan SMA nya hidup sendiri di sebuah rumah kecil. Tentu saja segala kebutuhannya dapat dengan mudah dipenuhi oleh uang yang dikirimkan ayahnya, tapi Hyunki tak pernah merasa benar-benar hidup ketika sendiri di rumah.

Hyunki tak mau mengikuti kemauan ayahnya yang membujuknya untuk berkuliah di jurusan bisnis. Hyunki tak mau disibukkan dengan hal-hal yang menjauhkan dirinya dengan ayahnya. Mimpi Hyunki untuk menjadi atlet kini berubah. Hyunki ingin menjadi seorang hakim. Tekadnya sudah bulat. Hyunki akan menjadi hakim dan memastikan tidak ada satupun pelaku pemerkosaan bisa lari dari tanggung jawabnya hanya karena alasan ‘dibawah umur’.

Hyunki ingin menjadi seperti kakak perempuannya. Sederhana dan pemberani. Hyunki ingin meneruskan cita-cita kakaknya menjadi seorang hakim, dengan demikian, hidup kakaknya tidak akan sia-sia.

“Song Hyunki…” panggil Hyebin yang kebingungan melihat sahabatnya itu melamun. Entah sudah berapa kali Hyebin memanggil namanya, namun mata Hyunki tetap menatap kosong ke arah papan tulis. “Song Hyunki…” panggil Hyebin yang akhirnya di sambut oleh tatapan sadar Hyunki. Hyebin baru menyadari mata Hyunki agak memerah dihiasi dengan kantung mata menghitam di bawahnya. Mungkin tidak tidur lagi, pikir Hyebin.

“Aku mau mengganti baju untuk pelajaran olahraga. Kau mau menunggu di kelas atau langsung ke lapangan?”

Pertanyaan Hyebin membuat Hyunki mengernyitkan dahinya. “Aku akan ikut berganti baju denganmu.”

Kini ganti Hyebin yang mengernyit. Gadis itu mencoba mengecek kalender di ponselnya kemudian berkata, “Bukankah biasanya tanggal segini kau sedang datang bulan?”

Hyunki memucat mendengar perkataan Hyebin. Direbutnya ponsel Hyebin untuk memastikan sendiri tanggal yang tertera di layarnya. Otak Hyunki berputar keras untuk menutupi pikirannya barusan kepada Hyebin. “Ah, ya. Aku lupa bahwa aku sedang datang bulan karena kali ini tidak begitu sakit. Tapi.. kurasa aku tetap tidak akan ikut pelajaran olahraga. Aku akan menyusul ke lapangan nanti.” Kata Hyunki yang membuat Hyebin segera bergegas ke kamar mandi.

Hyunki berjalan lunglai kemudian duduk di tangga yang menghadap lapangan yang masih kosong. Ia hanya diam, menatap ring basket yang berdiri kokoh di samping kanannya. Hyunki mengingat jelas dua tahun yang lalu, Para senior selalu bermain basket ketika tidak ada jam pelajaran. Jiwa atlet Hyunki membuatnya senang melihat pertandingan dan latihan basket para senior, namun Hyunki tak pernah benar-benar memperhatikan siapa yang sedang bermain. Sampai suatu hari, seorang senior bernama Key duduk di sebelahnya, tepat di posisi ia duduk sekarang. Mereka berkenalan, dan Key mulai menanyakan banyak hal mengenai Hyunki, dan juga Hyebin.

Hyunki hanya bisa tertawa miris mengingat pengakuan Key malam itu. Key menyangka bahwa Hyebin adalah Ki-chan, karena di hari pertama mereka masuk sekolah, Hyebin meminjam ikat rambut milik Hyunki, ikat rambut yang selalu ia gunakan ketika berenang. Saat itu Key mendekati Hyunki agar bisa berkenalan dengan Hyebin. Sayangnya, Hyebin malah berakhir di pelukan seorang bodoh bernama Minho.

DANG!!! Suara keras pantulan bola ke lapisan besi ring basket membuat Hyunki tersadar dari pikirannya. Teman-teman sekelasnya telah berkumpul di lapangan.  Kebanyakan siswa lelaki bermain basket, membuat keributan setiap kali bolanya masuk ke ring. Hal tersebut membuat Hyunki teringat akan Key yang selalu berteriak paling keras ketika ada bola yang masuk ke dalam ring. Entah sudah berapa kali bekal Hyunki tumpah, atau tulisannya tercoret karena teriakan keras Key. Mengingat hal itu, Hyunki hanya bisa kembali tersenyum pahit.

“Bommie Oppa…” desah Hyunki pelan. Sudah hampir sebulan semenjak kejadian malam itu. Hyunki tak tahu apa yang terjadi. Mereka memang bercerita banyak, saling mengisi kembali lembaran memori lama dan lembaran hal yang terlewatkan oleh keduanya. Hal yang Hyunki sesali adalah berbotol-botol soju dan berkaleng-kaleng bir yang ia kosongkan bersama Key. Entah berapa banyak yang telah ia minum, dan entah cerita apa lagi yang telah ia beberkan semenjak tegukan pertama melewati tenggorokannya. Hyunki benar-benar lupa.

Hal yang dapat Hyunki ingat dengan jelas adalah tubuh Key berada di atas tubuhnya. Nafasnya hangat menyapu halus pipi Hyunki sementara bibir Key yang lembut melumat bibirnya.

Hyunki tak ingat apa yang terjadi setelahnya. Namun, menilai dari sisa kain yang menempel di tubuhnya pagi berikutnya, tentu aktifitas yang dilakukan Hyunki dan Key di kamar hotel tersebut tidak hanya bercerita dan minum beberapa gelas alkohol.

Tubuh Hyunki melemas mengingat bahwa ia belum datang bulan saat ini. Siklus datang bulannya yang selalu teratur memilih untuk menambah satu masalah lagi bagi Hyunki.

Mungkin karena stres, kata Hyunki dalam hati, mencoba menolak pikiran-pikiran aneh yang mulai mempengaruhi cara kerja otaknya.

Hyunki kemudian teringat selera makannya yang berubah aneh. Hyunki akan merasa sangat lapar di pagi hari, namun pada siang dan malam hari, dirinya merasa begitu lemas sehingga tak kuat makan. Jam tidurnya pun berubah dan tak menentu.

Pasti karena terlalu banyak belajar ujian, kata Hyunki lagi dalam hati, masih terus berusaha mendorong pergi pikiran-pikiran tak tentu arah ini.

Dan perasaan mual dan muntah…

Hyunki baru mengingat bahwa beberapa minggu belakangan, dirinya selalu merasa mual dan akhirnya mengeluarkan segala hal yang ia makan saat sarapan.

Hyunki kehabisan alasan. Kini dirinya benar-benar panik.  Semua pertanda tersebut mengarahkan Hyunki pada satu kesimpulan, sebuah kesimpulan yang membuatnya memikirkan pilihan bunuh diri dari pada mengakuinya.

Bagus sekali, Song Hyunki. Kau ingin menjadi seperti kakakmu? Tentu saja, takdir akan memberimu garis hidup seperti kakakmu. Diperkosa, kemudian di tinggalkan. Oh, bahkan lebih baik lagi. Jika waktu itu orang tuamu masih ada untuk menolong kakakmu, tebak siapa yang dapat menolongmu sekarang?

“Hyunki, ayo masuk kelas!” seru Hyebin dari seberang lapangan yang sudah kembali kosong. Hyunki tercengang karena selama dua jam terakhir, ia benar-benar seperti berada di dunia yang berbeda.

Dengan langkah yang berat, Hyunki mengikuti Hyebin dari belakang. Beberapa murid segera berbegas mengganti pakaiannya, yang lain memilih untuk beristirahat sejenak.

“Song Hyunki!” seorang teman sekelas Hyunki menghampirinya dan membawakan sebuah kotak makan berwarna kuning dan satu botol susu pisang. “Kutemukan di lapangan seusai pelajaran olahraga tadi. Kupikir ini milikmu.” Katanya sambil menunjuk kartu yang ada di atas kotak makanan tersebut. Hyunki hanya tersenyum menandakan terimakasih dan segera membaca kartunya.

“…She is clothed in strength and dignity and laughed without fear of the future.”

You have been strong and saving yourself from this cruel world.

Now, let me take care of you.

Nice day ahead.

Truly yours.

[Fanfics] Bad Romance – Part VI

Title: Bad Romance (Part VI/X)

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

CHAPTER VI

Entah berapa menit telah dihabiskan Hyebin menatap ke arah langit-langit kamar hotel itu. Pikirannya masih kacau karena alkohol yang masih mengalir di sistem peredaran darahnya. Kepalanya terasa berat dan seluruh badannya terasa ngilu. Ingin Hyebin pejamkan kembali mata itu, terlelap walau hanya untuk sejenak. Namun nampaknya otaknya memilih waktu yang sangat tidak tepat ini untuk terus bekerja dan menyiksa pemiliknya.

“Ergh…” sebuah suara dari sisi lain ruangan itu memaksa Hyebin untuk menengokkan wajahnya. Sesosok lelaki bertubuh kekar yang baru dikenalnya beberapa minggu terakhir kini sedang tertidur pulas di atas sofa empuk. Tidurnya terlihat pulas dan begitu nyaman, meski sofa tersebut jelas memaksa kakinya ditekuk kian kemari.

Hyebin memperhatikan wajahnya, Kim Jonghyun. Seorang lelaki yang datang kepadanya dan menawarkan diri untuk membantu Hyebin, bukan untuk sebuah perbuatan amal yang baik, namun untuk perbuatan yang sampai detik ini membuat Hyebin bergidik ngeri, tak percaya bahwa dirinya bisa menjadi perencana dan pelaku sebuah pembalasan dendam.

Minho, kekasih pertama Hyebin yang mencampakannya setelah berselingkuh dari Hyebin selama kurang lebih setahun adalah target mereka. Hyebin menyayanginya, sungguh-sungguh menyayanginya. Hyebin tidak cantik, tidak berbakat, tidak juga pintar. Segala yang ia bisa lakukan adalah berusaha, dan Minho adalah hasil jerih payah terindah yang pernah Hyebin dapatkan.

Minho adalah lelaki yang baik. Tubuhnya tinggi dan wajahnya manis, cukup manis hingga membuat seluruh gadis di SMAnya rela pulang larut untuk menontonnya latihan basket. Minho adalah lelaki yang ramah, lembut, dan begitu hati-hati dalam bertindak dan berucap. Minho adalah sesosok lelaki yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari ayah Hyebin.

Mata Hyebin memanas mengingat lelaki itu, ayahnya, seorang lelaki yang lama tak ia dengar kabarnya. Laki-laki gempal dengan alis yang tebal itu dahulu pernah menjadi lelaki favoritnya di muka bumi ini. Pekerjaan ayahnya sebagai kepala polisi membuatnya sering mengajak Hyebin berkeliling desa mereka. Hyebin selalu merasa paling bahagia ketika melihat ayahnya tertawa sambil bercakap-cakap dengan warga desa. Bagi Hyebin, ayahnya adalah sosok yang paling ia kagumi.

Namun hal tersebut tak berlangsung selamanya. Suatu hari Ibu Hyebin pulang ke rumah sambil menangis. Hyebin hendak keluar dan menghibur ibunya, tetapi hal tersebut urung dilakukannya karena melihat ayahnya juga datang dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.

Mereka bertengkar, berteriak dan saling melemparkan tatapan tajam. Hyebin menangis dalam diam, tak kuasa mendengar kedua orang tuanya berubah menjadi monster. Sampai saat ini Hyebin tak bisa mengingat isi percakapan kedua orang tuanya, namun ia ingat benar bisikan lirih ibunya, “kubiarkan kau memilih. Aku atau perempuan itu?”

Tak ada jawaban, tak ada respon atau reaksi apapun. Meski masih kecil, Hyebin diam-diam berharap apapun jawaban ayahnya akan membuat ibunya kembali tersenyum dan mereka berbaikan. Sedihnya, hal tersebut tak pernah terjadi. Hari itu adalah hari terakhir Hyebin melihat wajah ayah tersayangnya.

Minho… Hyebin hanya bisa tersenyum pahit mengingat wajahnya. Hyebin mengira bahwa Minho adalah lelaki yang akan mengubah hidupnya, menghilangkan berkas-berkas kebencian pada semua lelaki yang pernah singgah di hidupnya. Ternyata Minho tidak berbeda. Meski fisik keduanya bagaikan langit dan bumi, namun Hyebin yakin hati keduanya sama, busuk. Choi Minho hanyalah satu nama yang mengisi lembar kelam kehidupan Hyebin.

Hyebin tak sadar kini dirinya sudah terduduk di atas tempat tidur menghadap ke arah jendela yang mengijinkan sinar matahari pagi masuk menerpa wajahnya. Kembali diperhatikannya sosok Jonghyun yang masih terlelap, begitu pulas dan damai. Ia tak berani membangunkannya, setelah apa yang ia perbuat semalam terhadap Jonghyun…

Pipi Hyebin bersemu merah ketika kembali membayangkannya. Pada awalnya, tujuan Hyebin melakukan semua ini hanyalah untuk membuat Minho kecewa, marah, atau mungkin… cemburu? Hyebin hanya ingin Minho merasakan apa yang ia rasakan saat melihatnya berselingkuh. Namun nampaknya pikiran Hyebin memutuskan untuk bertindak sedikit membangkang dengan melupakan tujuan awalnya tersebut dan malah menikmati sentuhan Jonghyun. Hyebin menyukainya, hangat dan begitu menenangkan.

Tidak! Hyebin memekik dalam hatinya. Ia tidak boleh mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Hyebin tidak boleh lagi mengingat betapa nyamannya didekap Jonghyun karena rencana semalam adalah rencana yang gagal. Anggap saja semua hal itu tak pernah terjadi.

“sudah bangun?”

***

“Aku sudah menelepon ibumu semalam setelah kau tertidur, tidak usah khawatir.” Kata Jonghyun sambil menyikat giginya di wastafel dengan malas, melihat ke arah Hyebin melalui pantulan di kaca. Hyebin yang sedari tadi gelisah, tertegun mendengar kalimat Jonghyun yang seolah-olah bisa membaca pikirannya. “kau mandi dulu. Aku akan mengantarmu pulang nanti.” Kata Jonghyun sambil melemparkan handuk ke arah Hyebin yang masih terpaku di atas tempat tidur. Sementara Hyebin menyeret kakinya ke dalam kamar mandi, Jonghyun mengambil handphone-nya yang terletak di meja samping tempat tidur dan membalas beberapa pesan.

“Ehm.. tapi, aku tak punya baju ganti…” kata Hyebin sebelum menutup pintu kamar mandi dengan rapat. Jonghyun mengangkat kepalanya dari monitor handphone-nya dan menatap wajah gadis itu yang menyembul di antara pintu yang terbuka sedikit.

Dengan cuek Jonghyun kembali menatap handphonenya. “Di bawah wastafel ada dua tas putih. Yang satu milikku dan yang lainnya milikmu. Aku meminta concierge hotel ini menyiapkannya semalam. Pakailah itu dulu. Kalau tidak muat, setelah sarapan kita bisa membeli yang baru.”

Dengan ragu, Hyebin mengambil salah satu tas dan melihat isinya. Ditariknya sebuah terusan selutut berwarna biru muda yang terlihat begitu manis. Hyebin tersenyum melihatnya. Dengan segera ia menyalakan shower dan  membersihkan tubuhnya, tak sabar untuk segera mengenakan baju tersebut.

Setelah Jonghyun dan Hyebin selesai bersiap-siap, keduanya keluar dari kamar tersebut menuju ke restoran. Jonghyun segera mengambil tempat duduk di sudut ruangan. “Cokelat panas.” Kata Jonghyun pada pelayan yang menghampiri mereka, tanpa melihat ke lembaran menunya. Hyebin yang masih sibuk memilih makanan hanya memperhatikan Jonghyun yang masih sibuk dengan layar handphonenya.

“Kau tidak mau pesan makanan?” tanya Hyebin setelah pelayan itu selesai mencatat pesanannya.

“Ah, oh, ya.. ehm…” Jonghyun mengangkat wajahnya dan menatap mata Hyebin sekilas, namun segera memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah menu. “American breakfast.”

Keduanya kemudian terhenyak dalam diam setelah pelayan tersebut meninggalkan meja mereka. Jonghyun berusaha keras tak melihat ke arah Hyebin yang tampak begitu cantik dan segar pagi itu. Dia harus berterimakasih kepada concierge yang membelikan baju itu, Hyebin terlihat luar biasa cantik dan sederhana. Jonghyun tak bisa menemukan sedikitpun bekas mabuk di wajahnya.

Berbeda dengan Jonghyun, mata Hyebin kini menatap lurus wajah lelaki itu. Banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan kepadanya. Siapakah dia? Apa pekerjaannya? Di mana ia tinggal? Mengapa ia mau repot-repot membantunya? Mengapa ia mencium Hyebin semalam?

Ciuman itu…

“Ku asumsikan aku sudah tidak memakai baju di pikiranmu.” Suara Jonghyun menginterupsi pikiran Hyebin. Hyebin kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Jonghyun yang sedang berusaha menahan tawa. “Kau memandangiku sedari tadi, dan wajahmu tiba-tiba memerah.” Kata Jonghyun sambil menaruh handphonenya ke atas meja, kini memandangi mata Hyebin dalam.

“Ah.. Tidak.. Oh!” Hyebin segera mengalihkan pandangannya dari Jonghyun. “Sarapannya datang.” Katanya berpura-pura tertarik pada nampan yang dibawa pelayan. Faktanya, Hyebin sama sekali tak lapar. Perutnya terasa begitu penuh ditatap Jonghyun seperti itu. “Hem.. ternyata orang Amerika makan sangat sedikit di pagi hari.” Komentarnya saat melihat piring yang ditaruh di hadapan Jonghyun.

“Aku tak biasa makan banyak di pagi hari…”

“Tentu saja,” sela Hyebin. “Kalau kau makan sarapan yang banyak maka badanmu akan bertambah besar dan…” Hyebin sibuk berceloteh, tidak memperhatikan wajah Jonghyun yang cemberut. Sadar diperhatikan, Hyebin mengangkat wajahnya dan pandangannya bertemu dengan mata Jonghyun yang menantang Hyebin untuk menyelesaikan kalimatnya. “… makin seperti… Hulk.” Tiba-tiba saja, sepotong wafel yang ada di piring Hyebin terlihat jauh lebih menarik.

“Ck…” decak Jonghyun sebal, lalu kembali menyendokkan makanan ke mulutnya. “Bagaimana tidurmu semalam?”

“Nyaman. Tetapi saat bangun di pagi hari, aku kira badan dan kepalaku baru saja ditimpa lemari besi. Tubuhku terasa lemas.” Hyebin teringat akan Jonghyun yang tidur dengan keadaan yang tidak jauh lebih baik dari dirinya. “Bagaimana tidurmu?”

“Nyaman, meski sofanya terlalu kecil dan bantalnya terlalu panjang dan keras. Tapi aku memang menyukai hal yang seperti itu, panjang dan keras.” Wajah Jonghyun langsung memerah setelah ia selesai mengutarakan kalimat itu. Ia tak bermaksud mengucapkan kalimat yang bermakna ambigu seperti itu. “Bantalnya, maksudku.”

Hyebin mengernyitkan dahinya, tampak tak mengerti mengapa Jonghyun harus memperjelas topik pembicaraan mereka.

“Soal semalam…” Jonghyun kembali merusak keheningan. “Soal ciuman itu…”

“Ahjussi! Sepertinya kita belum berhasil membuat Minho dan Jessica kesal.” Sela Hyebin sebelum Jonghyun menyelesaikan kalimatnya. Hyebin benar-benar tidak ingin membahas mengenai ciuman mereka semalam. Bukan, bukan hanya karena fakta bahwa ciuman tersebut adalah ciuman pertamanya. Tapi juga fakta bahwa ciuman tersebut semakin membuat Hyebin kesal kepada makhluk yang bernama lelaki. Bagaimana mungkin Jonghyun bisa tiba-tiba menciumnya, tanpa memberi tahunya? Semua lelaki memang seperti itu, suka seenaknya, dan Hyebin membencinya. Hyebin membenci semua lelaki. Hyebin membenci Jonghyun.

“Hey! Kang Hyebin, kau mendengarku tidak?” Jonghyun kembali menarik Hyebin kembali ke alam sadar. “Apa yang kau pikirkan? Apa rahangmu tidak sakit, tersenyum selebar itu? Rona merah di wajahmu mengalahkan warna saos tomat ini.”

Hyebin berdeham, membuang semua pikiran mengenai ciuman Jonghyun dari kepalanya.

Maksudnya, pikiran mengenai kebenciannya pada lelaki.

“Maaf, tadi kau berbicara tentang apa?” kata Hyebin setelah ia yakin bahwa dirinya telah sadar sepenuhnya.

“Aku bilang bahwa kita harus segera menyusun rencana selanjutnya. Kita masih belum tahu apakah rencana kita semalam sudah cukup untuk memanaskan hati Minho.” Jonghyun menyesap cokelat panasnya, lalu menaruh gelas kosong itu ke atas meja. “Lagipula, apa yang kau lihat dari laki-laki bajingan seperti itu? Satu-satunya nilai tambah yang ada pada dirinya hanyalah wajah tampannya.”

“Dia orang yang baik…”

“Cukup baik untuk menyelingkuhi kekasihnya.” Timpal Jonghyun sebelum Hyebin selesai. “Selama setahun.” Jonghyun menatap Hyebin dalam, seolah sedang membanggakan dirinya. “Dan setelah semua hal buruk itu, Ia masih lebih memilih untuk membela selingkuhannya saat kau sedang menangis. Wah, benar-benar orang yang baik.”

Hyebin terdiam, otaknya terlalu sibuk memikirkan betapa benarnya perkataan Jonghyun daripada memberikan komentar. Jonghyun benar, Hyebinpun jatuh cinta pada lelaki itu karena wajah tampannya. Hyebin tak pernah benar-benar mengenal Minho sebelum mereka resmi berpacaran. Hyebin tak tahu bagaimana sifat Minho ataupun bagaimana cara lelaki itu mengutarakan emosinya. Pengetahuan Hyebin akan Minho hanyalah sebatas kulit luarnya. Tak heran jika kini Minho telah menyelingkuhinya selama setahun dan ia tak menyangka hal tersebut sedikitpun.

Jonghyun mendesah pelan, merasa terbeban melihat ekspresi di wajah Hyebin yang kini menunjukkan bahwa gadis itu tengah berpikir keras. Jonghyun tak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang. Ia kesal setengah mati saat Hyebin menyebut nama Minho ketika mereka berciuman semalaman. Ia masih kesal akan hal itu. Kini, Jonghyun malah mencoba menjelek-jelekkan Minho di depan Hyebin. Sebuah suara di kepala Jonghyun seolah sedang mengejeknya karena bermain curang dengan menjatuhkan lawannya, namun suara lain malah memintanya untuk terus berlari ke garis finish tanpa memedulikan lawannya yang memang tak pernah berusaha itu.

Jonghyun tertawa miris akan hal yang baru saja ia sadari. Ia kini sedang berada di perlombaan lari. Hyebin adalah garis finishnya dan Minho adalah kompetitornya. Sayangnya, meski Minho tak pernah berniat untuk berusaha, Minho selalu lebih dekat dengan garis finish dibandingkan dirinya.

‘Sejak kapan Hyebin menjadi garis finish-mu?’ sebuah pikiran kembali memutuskan untuk menyuarakan pendapatnya, membuat Jonghyun terduduk diam, kaget.

***

Sinar mentari yang menyusup masuk memaksa Hyunki untuk membuka matanya perlahan. Ditariknya kembali selimut hingga menutup wajahnya. Badannya terasa berat karena jumlah alkohol yang ia konsumsi semalam, namun hal tersebut tak menghapus senyuman lebar yang sudah mengembang di wajah Hyunki sedari tadi.

Di helanya nafas dalam-dalam, membaui bantal yang ada di sampingnya, bantal yang di pakai oleh Key semalam. Ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, cinta pertamanya setelah sekian lama dengan cara yang begitu unik. Hyunki tertawa kecil. Andai saja Hyunki langsung menyadari bahwa Key adalah Bommie kecil yang dulu selalu menemaninya berenang semenjak hari pertama masuk SMA, hari ini ia mungkin sudah menjadi kekasih Key.

Hyunki meregangkan tubuhnya di balik selimut, melemaskan seluruh otot yang terasa tegang dan tak bersahabat. Badannya terasa pegal, ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya dibalik selimut ini, berpelukan dengan Key dan menghabiskan hari dengan mengobrolkan banyak hal.

“Astaga!” Hyunki menahan nafasnya saat ia menyadari apa yang ada di bawah selimut. Tubuhnya kini tak dilapisi gaun yang ia kenakan semalam, yang tersisa hanyalah sepasang pakaian dalam berwarna hitam yang seharusnya ia pakai dibalik gaun itu. Kemana gaunnya? Apa yang telah ia lakukan hingga ia tertidur dengan keadaan seperti ini?

“Key Oppa…” Hyunki memanggil nama Key sambil mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. “B..Bomie Oppa…” dengan ragu Hyunki kembali memanggil nama itu. Ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, berharap Key ada di sana dan dapat mencerahkan memorinya mengenai segala hal yang terjadi semalam.

Kosong, begitulah keadaan kamar mandi saat tangan kanan Hyunki bersusah payah membukanya sementara tangan kirinya menahan selimut lebar itu agar tak jatuh ke lantai.

“Bomie Oppa… ini tidak lucu.” Hyunki terus memanggil Key. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tenggorokannya terasa kering, siap untuk mengisak. Lelaki berambut pirang itu tak bisa ditemukan dimanapun di kamar itu.

“Bommie… Oppa…” Hyunki terduduk di lantai, beberapa air mata mulai menetes dari matanya yang terasa panas. Kepalanya berat, badannya memberontak dan meminta untuk diistirahatkan. Hyunki ingin berteriak, ingin marah. Bagaimana mungkin seorang Kim Kibum, orang yang ia percaya semenjak ia masih kecil, bisa melakukan hal ini pada dirinya?

Hyunki menceritakan segalanya, menceritakan seberapa hancur keluarganya, seberapa kelam hidupnya. Hyunki menyerahkan segala miliknya, bahkan tubuhnya…

Hyunki tak bisa melihat ke arah tubuhnya sendiri sekarang. Ia merasa tubuhnya seolah telah diterjunkan ke genangan lumpur, membuatnya menjadi kotor.

Isakan Hyunki perlahan berubah menjadi tawa sinis. “Hebat. Sekarang apa bedanya diriku dan kakakku?” katanya sambil menjambak rambutnya kuat. Air mata makin deras mengaliri pipi Hyunki.

Sekali lagi. Sekali lagi orang yang ia sayangi, orang yang ia harap bisa menjaganya malah meninggalkannya. Bukan, bukan hanya meninggalkan. Orang itu bahkan melukainya, mengambil sesuatu yang begitu berharga baginya.

“Fuck.” Umpat Hyunki pelan, namun kata-kata itu jelas menusuk hatinya lebih dalam daripada mengotori lidahnya. “Fuck, fuck, fuck fuck!”

[FANFICS] Hold Me Thight (Key Oneshot)

Captdfghjure

 

title: Hold Me Thight
rating: M! Mature content alert. NC-21!!
genre: romance, fluff
character: Key
author note: Nisanessa’s “I-miss-Kim Kibum-so-much-i’ll-just-write-him-a-PG-rated-story”. yesh, she thought it is PG rated. sure, nis, sure.

Key tengah sibuk dengan tas-tas bawaan nya. Setelah berberapa hari sibuk dengan jadwal musical nya, kini ia bisa beristirahat di rumah bersama istri dan putra nya.

 

“Sweet heart where are you?” sapa laki laki berambut coklat muda itu.Dilepas coat-nya asal dan berjalan menuju kamar.Rumah nya tampak sepi, tak seperti biasanya.

 

“Hyunki, kau di dalam?” tegur Key di depan pintu kamar mandi. Yang ia dengar hanyalah percikan air mengalir dan lagu favorite Hyunki, It Had To Be You, suara khas Lisa Ekdahl mengudara lembut. Dengan sigap Key membuka pintu.

 

“Kibum?! Kau ingin membunuh ku ya?!” Hyunki tersentak membuat nya terguyur air dari shower yang ia pegang. Baju nya kini basah kuyup. Membuat Key bisa melihat apa yang ada dibalik kaus putih tipis yang melekat di kulit Hyunki. Tak dapat dipungkiri Key pun menelan ludah nya kuat-kuat.

 

“daddy is home!!!” pekik suara putra mereka membuat Key tersadar dari lamunan nya. Adam berlari keluar dari bath-tub menghampiri Key dengan tubuh basah nya.

 

“daddy, tebak! Aku dapat nilai mewarnai paling tinggi!” putra nya berceloteh sembari memeluk leher Key yang tetawa kecil.

 

“Little star, ayo mommy harus mengeringkan tubuh mu agar kamu tidak masuk angin” Tegur Hyunki yang tampak acuh dengan Key.

 

“sebaiknya kamu mengganti baju mu, Hyunki. Kamu bisa sakit. Di luar udara mencapai 3o” Ujar key sambil menatap lurus ke arah istrinya yang kini sibuk mengeringkan tubuh anaknya.

 

“memang nya kamu tak suka dengan baju ku?” ujar Hyunki dengan nada menggantung yang disambut dehaman keras oleh Key.

 

“hmmm. Sebaiknya… Aku…  menyiapkan makan malam. Aku baru saja membeli daging dan pasta.” Key berlalu sembari mengecup singkat puncak kepala Hyunki “aku tunggu kalian di meja makan okay?”  Key menarik jepit rambut yang Hyunki kenakan, membiarkan rambut hitam Hyunki terurai.

“yes sir!” Sentak Adam membuat gemas seakan akan Key ingin mencubit pipi tembam nya. Sementara Hyunki hanya terpaku dengan pipi nya yang bersemu.

 

“you’re perfect with any clothes but I still prefer to see you without anything sweety.” Bisik Key serak di telinga Hyunki, membuatnya tersentak kaget sekaligus

 

“mommy…” jemari mungilnya mengusap halus rambut Hyunki “mom, I’m hungry. Ayo cepat kita makan” Jemari adam menyadarkan Hyunki dari keterpanaan nya.

 

Key sibuk menata piring-piring berisi pasta daging kesukaan Adam di atas meja. Seraya menunggu Hyunki dan putra nya datang, tangan nya dengan cekatan meracik susu hangat. Pikirannya melayang, mengingat kejadian yang baru saja terlintas dipikirannya.Membuat nya menelan ludah kuat-kuat. Key sangat merindukan istrinya.

 

“Appa!!! Lihat!! Ini gambarku” Key tersentak ketika Adam menarik kemeja sang appa sembari menyodorkan kertas yang ada di tangannya.

 

“wow!! Wait for a second. Appa cuci tangan dulu ya” Key kembali menghampiri Adam yang sudah menunggu nya di meja makan. “Coba appa lihat… WHOAAAAAW!!! Kamu hebat sekali Mr.Kim Junior. Besok setelah kamu pulang sekolah daddy akan membelikan mu buku gambar seperti punya mommy okay?” Ujar Key membuat Adam berteriak riang hingga Key mencubit gemas pipi anaknya bangga.

“Wow sepertinya mommy ketinggalan sesuatu ya” Hyunki datang mengecup singkat pipi Key dan berjalan ke arah dapur mengambil gelas berisi air dan meneguk nya.

“Mommy besok daddy akan membelikan ku buku gambar seperti mommy!” Adam berlari kecil menghampiri Hyunki.

“benarkah? Mintalah Crayola baru juga, dan alat tulis baru dan… baju  juga sepatu baru untuk liburan mu ” Hyunki  tersenyum licik sembari menggendong Adam agar anak nya mencapai bak cuci piring untuk mencuci tangannya.

“ah mommy benar! Daddy berjanji akan mengajak ku ke kebun binatang bersama Rachel noona!” Adam mengerucutkan bibir nya dengan wajah pura-pura berfikir.

“arra, arra. Besok daddy bersama mommy akan menjemput mu dan kita pergi belanja” Key menyahut dari arah meja makan.Hyunki tersenyum penuh kemenangan menghampiri dan duduk di sebelah suami nya.

“baiklah! Mommy akan makan banyak malam ini!” seru Hyunki sembari menyendokan pasta. “Adam jangan menyisakan brokoli mu” Hyunki melirik putra nya yang sibuk menyisih kan sayur di pinggir piring makannya.

“tapi ini pahit mommy.” Adam menatap Hyunki memelas.Hyunki menggeleng tak mau luluh dengan tatapan anaknya.

“kamu belum mencoba nya sayang. Mana coba berikan ke mommy.” Hyunki beranjak ke samping Adam dan membuka mulut nya.Adam menyuapi Hyunki dengan potongan brokoli.Adam menatap mommy nya menunggu. “pahit kan? Makannya aku tak suka mommy”

“It’s delicious Adam, lihat? Mommy habis mengunyah nya.” Hyunki menepuk lembut rambut Adam. “sini biar aku potongkan kecil untuk mu.” Hyunki mengambil garpu di tangan putra nya. “kamu bisa memakannya dengan daging agar tidak terasa seperti ini”

“biar aku memakannya sendiri.” Adam mengambil garpu. “terima kasih mommy.” Adam tersenyum saat mulut nya mengunyah potongan sayur dan daging itu.

 

Hyunki mencium gemas pipi Adam, rasanya Hyunki ingin mengigit nya karena sangat menggemas kan. “mulai sekarang kamu harus banyak makan brokoli, itu baik untuk kesehatan mu. Arrachi?” Adam menganggukan kepalanya sambil sibuk mengunyah.

 

“mommy, kalau makan sayur mommy mencium ku terus ya?” Adam memeluk leher Hyunki yang masih berlutut di samping nya.

 

“Sayuran sagat bagus untuk tubuh mu Adam. Meski pun rasanya sedikit aneh, itu karena banyak kandungan vitamin di dalam nya” Key berkata dengan wajah sok tau yang disambut gelengan Hyunki.

 

“mommy tidak mencium daddy?” Adam menatap Hyunki yang terpaku “daddy banyak makan sayur, mommy juga harus menciumnya. Tak adil kalau mommy mencium ku saja.” Key terkejut akan pernyataan Adam namun bibir nya tak lama membentuk senyuman nakal yang membuat Hyunki ingin pingsan.

 

“Ah, kamu benar Adam. Rasanya daddy tidak mau makan sayur lagi karena mommy tidak mencium ku” Key berkata manja pura pura kesal seakan akan mengadu kepada Adam.

“Kim Ki Bum, kau ini sudah menjadi ayah jangan seperti itu” Hyunki beranjak kembali ke kursi nya.

“mommy you should kiss daddy! Nanti dia tidak mau makan sayur lagi” Adam merengek. “aku juga tidak mau makan sayur kalau mommy jahat seperti itu kepada my daddy” Adam melipat kedua tangan nya di depan dada.

“ya! Key apa yang kau lakukan kepada Adam hingga dia… hah! Kalian berdua benar-benar…” Hyunki menoleh ingin minta penjelasan dari sang suami.

Key menyodorkan pipinya sambil memejamkan mata, Adam masih melipat tangan nya seakan akan menunggu Hyunki.

Hyunki menarik lembut dagu Key, entah kenapa dada nya masih berdebar-debar walau bibir nya sering mencium pipi pucat itu.Secepat kilat Hyunki mengecup pipi Key.

“nah, mulai sekarang aku dan daddy akan makan sayur terus” Adam bertepuk tangan. Key segera mengacungkan jempol yang disambut high-five oleh putra nya. “you did great job son” Key tertawa lepas. Sementara Hyunki hanya menggelengkan kepala nya sambil tersenyum.

 

 

Hyunki menutup pintu kamar nya perlahan, diregang kan nya otot lengan yang terasa kaku.

“Key, kau masih mandi? Adam sudah tidur, sebaiknya kau tak usah mandi bersih bersih ya, nanti juga akan berkeringat lagi” Hyunki mengetuk pintu kamar mandi dimana Key berada. Hyunki terkekeh di balik pintu menggoda key.Seketika itu juga pintu kamar mandi terbuka, Key menarik Hyunki kedalam.

 

Dengan sigap Key membantu Hyunki melepas semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya.Bibir nya mencium bibir Hyunki, mengigit nya pelan.Membuat Hyunki mengerang.

“we can’t be so loud again right?” Key tersenyum saat melihat pipi istrinya memerah malu. Hyunki menarik nya kedalam Bath tub yang berisi air hangat.

 

Bibir Key masih menelusuri leher jenjang Hyunki yang sibuk menyalakan shower yang menerpa puncak kepala mereka.Tiba-tiba Key menghentikan ciumannya. Menatap tubuh sang istri yang tanpa sehelai benang pun, terlihat sangat cantik dimata Key.

 

“I’ve told you right, you’re so beautiful without any clothes on” Key memeluk istri nya, membiarkan kulit mereka saling bersentuhan, membuat tubuhnya semakin panas. Tangan Key menjelajahi setiap inch tubuh yang sangat ia rindukan itu. Hyunki mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras.

“Key, I miss you.” Hyunki menarik wajah Key yang sedari tadi sibuk dengan tubuh Hyunki.

Key menatap wajah istrinya yang memerah karena uap hangat dari shower yang membasahi rambut hitam nya. Bibir Hyunki terlihat membengkak karena sedari tadi ia mengigitnya. Key mengecup manis bibir merah itu. Hyunki memeluk leher Key, membuat ciuman mereka semakin dalam.Hyunki menginginkan Key, tubuhnya menginginkan suaminya. Key menarik jemari Hyunki. Membuat Hyunki tersentak dan menghentikan ciuman mereka.Jemari itu berada di dada bidang suami nya.Membuat nya bisa merasakan detak jantung yang tidak beraturan.

 

“there’s space in here. Selalu terasa kosong kalau aku tak melihat mu sedetik saja.Maaf kan aku Hyunki membiarkan mu dan Adam sendiri” Hyunki tersenyum mendengar kata kata suaminya.  “we better do ‘this’ on bed” lanjut Key. “aku tak mau kita berdua sakit, besok kita berjanji untuk pergi bersama Adam” Key menggendong istrinya.

“doing what?” Hyunki tersenyum licik, membuat Key ingin melumat bibir merah itu.

Key menciumi tubuh istrinya yang masih basah di atas kasur. Membuat Hyunki meremas rambut Key menahan desahan di bibir merah nya.

“Doing something that I miss so much.” Key terus meracau membuat nafas nya semakin memburu. Tubuh Key berada tepat diatas Hyunki, lengan nya menopang beban tubuh yang kini berkeringat.

“Hyunki…” Key mengerang, membuat istrinya menggeliat hebat. “Hyunki, I … love you”

Hyunki menatap mata sang suami yang tak mengalihkan pandangan dari wajah nya. Hyunki menggigit bibir nya menahan desahan yang bisa keluar kapan saja dari bibir itu.Hyunki tak hanya merasakan Key diantara kedua kakinya yang terbuka, tapi juga di hati dan pikirannya.

“I want to hear your voice, that beautiful voice.” Key menarik lembut wajah istrinya agar berada tepat di samping telinga nya.

Hyunki mengecup singkat tengkuk suaminya.Membuat Key mengerang semakin keras. Bibir mungil Hyunki mengulum daun telinga suami nya,

“I want you to be faster…” suara serak Hyunki bagaikan aliran listrik yang menyengat tubuh Key. “Kibum-ah…”Hyunki bisa merasakan tubuh Key bergerak semakin cepat dan semakin cepat.

Hyunki memeluk Key semakin dalam, bibir nya membulat, membawa Key melihat bintang jatuh, membuat pandangan keduanya menjadi seputih salju.

“Hyunki-ah!!!” Key membiarkan Hyunki meremas rambut coklat miliknya ketika ia mengakhiri malam dengan satu gerakan.

Hyunki masih memeluk suaminya yang masih terengah-engah mengatur nafas. Dengan sekali gerakan Key membalikan posisinya hingga kini Hyunki berada di atas tubuh nya, bersandar di pundak nya. Key menarik selimut menutupi tubuh keduanya tanpa melepas pelukan Hyunki sedikitpun.

“Kibum-ah” Hyunki menopangkan dagu nya di atas telapak tangan yang bersandar pada dada bidang Key.

“yes tinkerbell ?” Key mengusap punggung Hyunki, memberikan istrinya kenyamanan.

Hyunki menatap lurus ke bola mata coklat yang terlihat sangat indah diterpa temaram lampu kamar mereka. “thank you for being here, thank you for being the best man in my life, than you for being a good father for Adam, thank you for catch me whenever I fall, thank-“ rongga dada Hyunki terasa sesak ketika bibir Key membungkam bibirnya.

“shhh. Aku sering menghabiskan waktu tanpa mu dan Adam di sampingku, tapi ketika aku pergi …” Key mengusap lembut rambut Hyunki, kemari nya menyentuh tiap inchi wajah yang selalu menemani hatinya kemana pun ia melangkah “Aku selalu tahu kenapa aku harus pulang, aku selalu tahu siapa yang aku rindu. Dan disetiap langkah tanpa kalian berdua disampingku, hatiku selalu ingat kalau aku tidak pernah sendiri.You always there, to cheer me up, to hug me tight, to hold my hand, to kiss my lips, to wipe my tears away. I’m the one who should say thanks.” Key memeluk erat tubuh mungil istrinya, membuat kulit mereka saling bersentuhan.

 

Hyunki menikmati nya, ketika jemari Key mengusap kulit telanjang nya. Ia tak pernah merasa senyaman ini, dimana ia merasa tidak sendiri diatas tempat tidur yang besar, dimana ia bisa merasakan deru nafas Key di puncak kepalanya.

“How if there’s no more two of us?” Hyunki menyembulkan wajah nya dari dada Key.Mata nya menangkap wajah terkejut suaminya.

“tidak ada kalian berdua? Maksudnya?” Key mengerutkan alis tebalnya, membuat Hyunki gemas karena wajah bingung suaminya terihat benar benar mirip Adam putra mereka.

“I mean… if there’s no more two of us, but..” Hyunki mengukir jari jari nya pada dada bidang Key, wajah nya bersemu merah “but, there’s three of us…”

“three? You, Adam and…?” Key menegak an kepalanya, agar bisa menatap wajah Hyunki dengan jelas yang kini memerah. “ DO YOU MEAN THAT YOU’RE PREG~” Key nyaris membuat jantung Hyunki berhenti berdetak karena terkejut.

“SHHHHH!” Hyunki menutup mulut suami nya khawatir putra mereka terbangun. Key membenamkan wajah istrinya ke dada bidang nya. Hyunki bisa mendengar detak jantung suami nya yang berdetak sangat cepat.

“but key, I said if.” Key menatap wajah istrinya bingung. “I’m not pregnant yet.” Hyunki bisa melihat pundak suami nya yang terkulai.“bagaimana aku bisa hamil kalau kita baru saja melakukannya sekarang?” Hyunki mengerucutkan bibir nya. Key tertawa renyah.

“arra arra. You want another baby right? Kalau begitu, let’s make it now” Key mengecup bibir Hyunki. “let us make little sister for Adam” Key mulai meracau sembari jemari nya menjamah pinggang Hyunki.

“let’s do this tomorrow, kau harus mengantar Adam ke sekolah besok pagi. Dan aku ada meeting pukul 9 pagi.Setelah itu kau berhutang belanja dengan Adam.Kita akan sibuk sekali besok” Hyunki tersenyum licik membuat Key menatap nya kecewa. “kalau kau ingin punya anak lagi, kau harus menghabiskan waktu dengan ku setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik” Hyunki menjulurkan lidah nya.

“ya Mrs.Kim!” Key mencubit pipi tembam Hyunki membuat istrinya meringis. “but let me kiss you before we go to sleep.” Hyunki tersenyum dan menarik wajah suaminya.

Key dapat merasakan bibir lembut istrinya terasa hangat. Jemari Hyunki menarik rambut Key agar Hyunki bisa mencium suami nya lebih dalam. Key mengusap punggung Hyunki, membiarkan istrinya sibuk melumat bibir nya. Ciuman Hyunki kini berpindah ke leher Pucat Key, bibir merah nya menelusuri tanda tanda yang ditinggalkannya tadi. Key mengerang ketika Hyunki bernafas ditelinga nya.

“goodnight pervert” Hyunki berbisik dan menggerakan tubuhnya berbaring di samping Key.

“Adam’s mom! You’re trying to tease me right?”  Key membalikan tubuhnya dan mendapati Hyunki yang kini pura pura memejamkan matanya. “Hyunki, kau berhutang besok malam untuk melanjutkan ini” Key bisa melihat bibir Hyunki tersenyum. “Hyunki?!” Key bisa melihat senyum istrinya semakin lebar. “Hyunki you make me fall in love again with those smirk.” Key melingkar kan lengan nya di perut Hyunki.

“I love you” Key mengecup singkat rambut istrinya.

“I love you too, Adam’s dad”

[Fanfics] Bad Romance – Part V

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

length: wish its less than 10part

I KNOW I KNOW THE LAST CHAPTER WAS POSTED IN 2012 AND TODAY IS FREAKING 2015. I KNOW, 3 YEARS, I KNOW.

but, I wish you enjoy the moment of revelation…

~~~

Jonghyun menutup pintu dengan kakinya. Tangannya sibuk memaksa tubuh lemah Hyebin menempel pada tubuhnya. Suara deru nafas memenuhi telinga Jonghyun, terasa seperti bisikan setan yang membuat Jonghyun menggendong gadis kecil itu dan membawanya ke atas tempat tidur. Ia tahu ini bukan tujuannya, bukan seperti ini yang ia inginkan. Tapi desahan Hyebin membuat hati nuraninya kalah. Jonghyun menginginkan lebih.

Jonghyun bisa merasakan vodka di bibir Hyebin, wangi tubuh Hyebin yang tercium seperti bayi membuat Jonghyun ketagihan. Dilepaskannya jas serta beberapa kancing vest nya. Hyebin yang setengah sadar bisa melihat dengan jelas tubuh laki-laki itu, namun Hyebin tak bisa banyak berpikir. Jonghyun kemudian melanjutkan ciumannya, bahkan dengan sengaja memutuskan tali spageti di pundak Hyebin dan meninggalkan beberapa tanda di sana.

Jonghyun melepas ciumannya, tangannya bergerak mencari-cari di balik punggung Hyebin. Tepat ketika mata mereka bertemu, Jonghyun menyadari mata Hyebin sembab dan membengkak, semburat merah menghiasi bola matanya di temani tetes-tetes air yang siap menetes kapan saja. Jonghyun tidak tega, ia tidak tega merusak gadis kecil ini. tujuannya dari awal adalah menjaganya, melindunginya…

“Minho oppa….” racau gadis itu setengah sadar dengan derai air mata. Tangannya mencoba meraih pipi Jonghyun.

“FUCK!” umpat Jonghyun lalu meninggalkan Hyebin dan masuk ke kamar mandi, membantingnya keras. Setelah segala hal yang ia lakukan untuk melindungi Hyebin, yang ada di pikiran gadis itu masih hanya Minho oppa-nya itu. dia tak sedikitpun memikirkanku? Cih.

~~~

Hyunki tak bisa berfikir lagi. Mendengar nama kecilnya disebut membuat semua kenangan itu kembali segar di kepalanya. Air mata jatuh dari pelupuknya, membuat pipi Hyunki disusuri sungai-sungai kecil. Key tak tega melihatnya, rasanya lebih sakit daripada ketika melihat Hyebin bersenang-senang dengan laki-laki lain. Ki-chan, gadis yang ingin selalu ia jaga.

“uljima…” kata  Key menghapus air mata yang tak kunjung berhenti. “kalau memanggil nama kecilmu membuatmu sedih, aku minta maaf…” kata Key lalu memeluk tubuh ringkih Hyunki. Dalam peluknya, Key bisa merasakan tubuh Hyunki gemetaran, begitu rapuh sekaligus begitu tegar.

“Eomma… dia…” Hyunki tak kuasa menahan air matanya lebih lama. Pada akhirnya ia meluapkan seluruh air mata yang ia coba tahan selama beberapa tahun terakhir.

Key menatap Hyunki beberapa saat, benar-benar masih sama, tak ada yang berubah. Rambut hitam Hyunki yang bergelombang membingkai wajahnya, hidung kecilnya yang memisahkan kedua mata hitam legam serta alis tebalnya. Tak lupa bibir mungil itu…

Bibir mungil yang Key takkan pernah lupakan.

Perlahan Key mendekatkan bibirnya kepada bibir Hyunki. Ia menciumnya untuk beberapa saat sampai ia sadar apa yang telah ia lakukan.

“Bomie oppa?” dengan kaget Hyunki memanggil nama kecil Key.

***

“Aku mau bersekolah disana.” Ki-chan menunjuk ke arah gedung besar di hadapan mereka dengan mata berbinar.

“kenapa? Bukankah sekolah seperti ini membosankan? Aku mau masuk sekolah pilot.” Bomie memandang Ki-chan. “lagipula, kita masih harus menamatkan SD, SMP, baru bisa masuk ke sekolah ini.”

“aku ingin seperti Eonni-ku, Bomie oppa.” Panggil gadis itu manja sambil memain-mainkan tasnya.

“sudahlah, sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum hari menjadi sore dan kau tak bisa berenang.” Kata anak laki-laki itu lalu mengambil tas di tangan Ki-chan yang berisi baju renangnya. “Kajja.” Ia menggenggam erat tangan gadis itu.

~~~

Ki-chan memulai semuanya dari awal lagi. Ia naik ke permukaan lalu meregangkan otot bahunya sedikit. Dipasangnya kembali kacamata renangnya lalu melompat masuk dalam air, berenang melawan rasa lelah di tubuhnya. Ibunya selalu bilang bahwa Ki-chan harus bisa menjadi perenang hebat dan membawa mereka keluar negeri. Hanya mereka bertiga, dirinya, ibunya, dan eonninya.

Bomie duduk tenang di pinggir kolam. Dicelupkannya kakinya ke dalam air yang menghangat karena sinar matahari. Dimain-mainkannya miniatur pesawat di tangannya. Sejak kecil cita-citanya adalah menjadi seorang pilot yang mati-matian ditentang ibunya.

“aku lelah, oppa.” Kata Ki-chan yang tiba-tiba duduk di samping Bomie. Bomie membantu Ki-chan melingkarkan handuk ke bahunya, menghalaunya dari hembusan angin musim panas.

“kata appa-ku, seorang juara tak akan mengeluh, sekalipun dia sudah tidak kuat.” Kata Bomie mencoba memberi kata-kata penghiburan kepada gadis yang sudah menjadi tetangganya sejak kecil itu.

“Kalau aku bisa ikut lomba berenang sampai ke luar negeri, kau akan mengunjungiku kan, Oppa?”

“hem… tentu! Aku akan membawa pesawatku ke tempatmu berada.” Jawab Bomie dengan bangga.

Kemudian, tiba-tiba saja Bomie mendekatkan bibirnya ke pipi tembam Ki-chan, mengecupnya singkat. “Ketika aku akan ikut lomba ski, ibuku mengecup pipiku. Katanya, itu akan memberikan keberuntungan bagiku. Aku yakin kau tak butuh keberuntungan, kau kan begitu hebat berenang. Aku hanya…”

Kalimat Bomie terhenti setelah suara dari kejauhan terdengar sayup-sayup memanggil nama mereka.

“Halmeoni, ada apa?” tanya Bomie begitu melihat neneknya terengah-engah.

“Ki-chan, segeralah pulang. Kakakmu, dia…” wanita paruh baya itu tampak kesulitan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan kakak perempuan Ki-chan kepada dua bocah tersebut. “Seseorang mengambil sesuatu yang berharga. Kini ia berada di rumah sakit. Ibumu menunggumu di rumah agar kalian bisa pergi bersama.”

~~~

Hari itu, tepat hari pertama di musim panas tahun 2004, adalah awal lembaran hitam kehidupan Hyunki. Kakaknya diperkosa, dan saat itu gadis berusia delapan tahun tersebut tak mengerti apa yang terjadi. Hal yang ada di pikirannya hanyalah membantu kakaknya mendapatkan kembali barang yang telah di ambil itu.

Tatapan kakaknya kosong, benda yang bisa ditelannya hanyalah bubur polos. Hidupnya bergantung pada selang infus yang memberinya zat-zat penyokong kehidupan. Selama berbulan-bulan ia dirawat di kamar rumah sakit berwarna putih polos yang menakutkan buat Hyunki, sampai kemudian ia dipindahkan ke rumah sakit lain, rumah sakit yang membuat Hyunki tak bisa menunggui kakaknya setiap hari.

Hidup Hyunki berubah drastis. Kedua orang tuanya menjadi sibuk mengurus kakaknya dan Hyunki sering ditinggal sendiri di rumah. Tak jarang Hyunki akhirnya terpaksa menginap di rumah Key untuk beberapa hari. Sampai akhirnya, kedua orang tua Hyunki memutuskan untuk mengirimnya ke Jepang, untuk tinggal bersama kakek dan neneknya.

Hal tersebut tak berlangsung lama. Hyunki yang sudah dua tahun duduk di bangku SMP diminta kembali ke Korea untuk menghadiri pemakaman ibunya. Ibu yang tak pernah ditemui Hyunki selama lima tahun, terbaring kaku di dalam sebuah peti yang siap untuk dikubur di dalam tanah. Hyunki bahkan tak sempat menatap matanya, memeluknya, mengatakan betapa ia menyayangi dan membutuhkannya untuk terakhir kali. Hyunki kesal, marah pada takdir. Setiap malah di hari-hari setelahnya, Hyunki selalu mengucapkan doa yang sama sebelum tidur. Ia ingin mendengar suara ibunya untuk terakhir kali, agar ia tak pernah lupa. Hyunki mencoba mengingat-ingat suara ibunya, bagaimana ibunya mengecup dan menyapanya setiap pagi, namun hal itu seolah memudar dari ingatannya. Suatu pagi ia terbangun dan menangis keras. Hyunki benar-benar tak bisa mengingat suara ibunya.

~~~

“Dan… kakakmu?” tanya Key ragu, sambil memandang lurus ke arah tumpukan kaleng bir dan botol-botol kosong yang habis mereka minum sepanjang cerita Hyunki.

“masih dibawah perawatan psikiater. Depresinya tak kunjung membaik. Ayahku akan mengunjunginya beberapa kali dalam setahun, namun segera kembali ke Amerika untuk mengurus bisnisnya.” Kata Hyunki tanpa air mata tersisa. Suaranya serak, tanda lelah mengisak. Wajahnya membengkak dan hidungnya memerah, tanda lelah menangis.

“Aku merasa seperti orang sial. Hidupku adalah kesialan. Aku tak memenangkan satupun olimpiade renang impian ibuku. Aku tak bisa mendapat nilai yang baik di sekolah. Aku harus belajar mati-matian untuk…” kalimatnya terhenti. Tangan dingin Key menggenggam erat tangannya.

“Kau adalah berkat. Bagi keluargamu, bagi ibumu, bagi Hyebin…” Key menggantung kalimatnya, sekelebat pikiran mengenai Hyebin menyergap, namun Key segera menyingkirkan pikiran tersebut dan tersenyum untuk Hyunki. “dan bagiku.”

Namun senyum tulus itu tak berlangsung lama, karena detik setelahnya, mata cokelat Key menggelap, tertutup sesuatu yang terasa asing bagi Hyunki yang memperhatikannya.

Sesuatu yang mendorong Hyunki untuk mencium bibir Key.

~~~

[FANFICS] Skipping You (Onew Oneshot)

onew-hanbok

title: Skipping You
genre: romance, fluff….. hyper fluff!!!
character: Onew, Park Haneul and her family

Onew mengangkat kepalanya pelan setelah mendengar dering handphone yang terletak di dekatnya. Ia meregangkan tubuhnya sejenak, mencoba mengembalikan posisi tulang-tulangnya setelah beberapa jam tertidur di meja kaca yang dingin.

“Aish, Haneul-ah! Kenapa kau memasang alarm di pagi buta seperti ini?” keluh Onew sambil menyambar benda yang bergetar heboh tersebut. Ia mengecek layarnya sebentar, sebelum kemudian dikejutkan oleh tulisan besar yang berkedip-kedip.

Mother.

“Ah, yoboseyo, Ahjumma.” Sapanya pada ibu kekasihnya itu. Onew melirik sebentar ke arah Haneul yang masih tertidur di sofa, dengan buku ditangan kirinya dan pensil di tangan kanannya.

“Aku? ah.. tidak, tidak. Aku tidak menginap. Maksudku, ya, aku tidur di rumah Haneul semalam. Tidak, tidak, aku tidak melakukan apapun. Ia memintaku… melakukan… maksudku membantunya mengerjakan presentasi kuliahnya.” Onew menggigit bibirnya karena cara bicaranya yang berantakan di depan calon mertuanya itu.

“hmm.. ya, kuliah ini memang membuatnya stress, tapi Haneul adalah gadis yang pintar, kurasa ia akan menyelesaikan kuliah doktoralnya sesegera mungkin.” Onew memperhatikan meja makan yang tertutup dengan sepotong papan besar yang ditutupi potongan kertas dengan bahasa ilmiah yang baru saja dipelajari Onew semalaman.

Onew membereskan kertas-kertas tersebut, menumpuknya dan menaruhnya ke dalam kamar Haneul. “Hari ini? Haneul berencana beristirahat karena besok ada ujian, jadi kurasa ia tidak akan pergi keluar.”

“Oh, benarkah? Kakak laki-laki Haneul pulang hari ini?” tanya Onew kepada Ibu Haneul sambil beranjak mendekati kekasihnya yang masih tertidur pulas. “oh, jadi kalian akan kesini setelah menjemputnya dari bandara? Ya, ya, baiklah, akan kusiapkan makan siang, Ahjumma. Ya? Daging sapi korea? Ah.. ya, baiklah. Ya, Ahjumma. Sampai jumpa nanti.” Kata Onew lalu menutup sambungan telepon itu perlahan.

Onew tak dapat bereaksi selama beberapa detik. Ia hanya terdiam. “Oh my God!!” teriaknya begitu otaknya kembali berfungsi dengan benar, membangunkan Haneul dari tidurnya.

“Ada apa, Oppa?” kata Haneul membenarkan posisi tidurnya lalu memperhatikan kekasihnya itu dengan seksama. “telepon dari siapa?” katanya lagi, tidak berusaha membantu Onew merapihkan tumpukan buku di atas meja.

“Ibumu…” Onew duduk di samping Haneul yang kini juga duduk di atas sofa, menghela nafasnya berat. “dia bilang dia akan mampir bersama dengan ayah dan kakak laki-lakimu untuk makan siang.” Kata Onew sambil melirik ke arah Haneul yang masih mengumpulkan nyawanya.

“Cepatlah bersiap, kita tak punya banyak waktu untuk berbelanja dan memasak.” Kata Onew sambil kembali membereskan buku-buku di atas meja.

“Oppa…” rajuk Haneul sambil membuka tangannya lebar. “kau belum memberiku ciuman…”

Onew mendengus kesal. “Park Haneul, nyawaku dipertaruhkan di depan ayah dan ibumu. Bersyukur mereka tidak membunuhku karena menginap di tempat putrinya semalaman. Sekarang kita harus bersiap. Aku akan menciummu sebanyak yang kau mau setelah pertemuan pertama dengan ayah dan kakak laki-lakimu ini berjalan lancar, mengerti?” Kata Onew lalu segera beranjak ke kamar mandi tamu untuk bersiap-siap.

“Aku sudah menyiapkan sarapan di atas meja, aku mau mandi dulu.” Kata Haneul kepada Onew yang telah selesai mandi. Onew sibuk membereskan seluruh rumah, sementara Haneul dengan santai mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.

Onew menggeram pelan lalu dengan suara setengah berteriak kita berkata, “Kita tidak ada waktu untuk sarapan bersama, sayang. Kita akan membeli roti di perjalanan. Aku akan menyiapkan mobil di luar. Kau bersiaplah dengan cepat.”

“Tapi kau belum makan dari semalam, Lee Jinki.” Kata Haneul dengan nada kecewa dari kamar mandi.

“Kita bisa makan bersama sepuasnya setelah keluargamu pulang. Sekarang cepatlah bersiap.”

~~~

“Apa lagi yang harus kita beli?” tanya Haneul sambil memeriksa kereta belanjaan yang penuh dengan daging dan sayuran.

“Ah, sebelum kita pulang, aku harus membeli baju dulu.” Kata Onew sambil mendorong kereta tersebut ke arah rak pakaian. Onew mulai memilih beberapa potong kemeja dan celana bahan. Tak lupa mengambil sebuah sweater tebal berwarna cokelat tua.

“Oppa, kau sudah tampan seperti ini…” Haneul memeluk kekasihnya itu dari belakang. Seharian ini, Onew bertingkah sangat aneh dan cuek terhadapnya. Gadis itu paham benar bahwa Onew merasa panik dan ketakutan. Kekasihnya itu belum pernah bertemu secara langsung dengan kedua laki-laki di keluarganya. Ayah Haneul yang seorang anggota Angkatan Laut dan kakak laki-lakinya yang merupakan atlet taekwondo jelas menjadi sosok yang menakutkan bagi Onew. Namun Haneul yakin benar bahwa Ayahnya dan kakak laki-lakinya adalah orang yang baik. Sikap dingin serta aura dominan mereka tersebut hanyalah topeng yang terbiasa mereka gunakan di lingkungan profesi mereka.

“Haneul…” Onew berbalik, memperhatikan manik mata Haneul yang kini berbinar, berharap Onew bisa mengurangi ketegangannya sedikit. “aku tidak mau merusak kesempatanku membuat impresi yang baik bagi keluargamu. Jadi aku tidak mungkin memakai baju kusut ini, kan?” katanya sambil berusaha melepaskan kedua lengan Haneul yang masih melekat erat di pinggangnya. Lelaki itu hanya dapat mendesah pelan. “Aku berjanji aku akan memelukmu selama yang kau mau nanti sore, setelah keluargamu pulang. Sekarang, aku harus mengganti bajuku, oke?” Onew menarik sepotong kemeja dari rak baju dan membawanya ke kasir.

~~~

“Astaga, jadi kalian yang menyiapkan makan siang ini?” Ibu Haneul berkomentar sambil membantu puterinya membawa sepiring kimchi serta sayuran lainnya. Onew sedang membakar daging di atas panggangan arang sementara kedua laki-laki lainnya, Ayah dan kakak laki-laki Haneul hanya duduk di meja makan teras belakang. Mereka berdua menikmati segelas teh hangat dengan asap mengepul di atasnya.

“Onew oppa yang memilih daging dan sayurnya. Eomma tahu, kan, aku tak bisa memasak.” Kata gadis itu manja, memberi senyuman penuh arti yang segera dimengerti ibunya.

“Ah, beruntungnya kau mendapatkan kekasih seperti Onew. Ia bisa mengajarimu masak, nanti.” Sahut ibunya dengan suara yang dilebih-lebihkan, memastikan Ayah dan kakak lelaki Haneul mendengarnya.

“Apa gunanya lelaki yang bisa memasak tapi tak pernah menggunakan ototnya untuk hal yang berguna?” tanya Park Donghae, kakak lelaki Haneul, dengan sinis. Semua orang terdiam. Onew yang sedang membalik daging bakaran, kini tangannya tergantung di udara.

“Berguna seperti apa, oppa? Seperti kau yang bertengkar dengan preman-preman saat kita SMA dulu?” tantang Haneul kepada kakak laki-lakinya tanpa takut.

“Sudahlah, Oppa-mu baru berada di Korea kurang dari dua jam. Buatlah kenangan manis dengannya.” Sela ayah Haneul sambil menuang teh ke dalam gelasnya yang sudah kosong.

Ibu Haneul menghampiri Onew dan membantunya membalik daging. “Apa sudah selesai semua? Bergabunglah dan makan bersama kami.”

“baik, Ahjumma. Daging-daging yang dibakar di sini belum matang. Ahjumma, sebaiknya anda pergi makan dahulu karena hari sudah semakin siang. Anda pasti sudah lapar.” Kata Onew bersikap manis kepadanya.

“Astaga, kau pria yang begitu tampan, manis, dan juga sopan dan bertutur kata baik.” Ibu Haneul menepuk-nepuk bahu Onew dengan kasih sayang. “Ah, andai di keluargaku ada lebih banyak lelaki sepertimu, tubuhku akan sehat selalu karena tatapan matamu akan menghangatkanku di sepanjang musim dingin.”

Onew melirik ke arah Haneul yang menampakkan wajah ketakutan lalu ekspresi hendak muntah. Onew tertawa geli melihat tingkah kekasihnya itu. Sedetik kemudian, pandangan Onew bergeser tepat ke mata tajam milik Donghae. Seluruh tubuh Onew seketika dialiri rasa dingin yang menusuk. Donghae menatap Onew dengan pandangan sinis, seolah ia telah membenci Onew dari kehidupan mereka sebelumnya.

“Sudahlah, jika daging ini dibakar lebih lama, ia akan menjadi keras. Segera angkat dan bergabunglah bersama kami.” kata Ibu Haneul sebelum beranjak meninggalkan Onew untuk duduk di samping suaminya di meja makan melingkar tersebut.

“Ini dagingnya.” Kata Onew sambil meletakkan sepiring besar daging bakar yang menyebarkan aroma yang menimbulkan liur di mulut. Haneul menatap daging itu dengan mata berbinar. Ibunya ternyata lebih cepat bereaksi. Tangannya sudah mengambil sepotong daging dan menaruhnya dengan sepotong bawang putih dan cabai hijau ke atas daun selada. Ia membungkus daging itu lalu menyuapinya ke suaminya yang hanya tersenyum tulus sebagai balasan.

Onew yang duduk di antara Haneul dan Donghae kini merasa panik. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Ia tidak begitu merasa lapar, dengan segala tekanan dan rasa takut serta tatapan dingin Donghae, Onew-meskipun belum menyantap apapun semenjak kemarin malam-anehnya tidak merasa lapar. Ia pun tidak bisa membungkuskan daging dan menyuapkannya pada Haneul, hal tersebut akan mengundang pelototan tajam dari ayah gadis itu.

“Oppa, buka mulutmu.” Perintah Haneul tiba-tiba yang membuat Onew melongo ke arah gadis itu. Tangannya melayang di udara, memegang bungkusan daging besar yang siap untuk disuapkan ke mulut Onew. Dengan ragu-ragu dan malu-malu, Onew menerima bungkusan tersebut.

Onew mendengar suara dehaman keras dari sebelah kirinya, Donghae. “Park Haneul, kau memberi daging lebih dahulu kepada lelaki ini daripada kepadaku?” tanya Donghae dengan nada tidak percaya.

“Sudah Donghae, kau kan sudah besar dan bisa membuatnya sendiri.” Kata Ibu mereka menengahi. “Ini, buat bungkusan dagingmu sendiri. Jangan manja.” Kata Ibunya sambil menaruh selembar daun ke tangan puteranya itu.

“Jadi, tugas kuliahmu sudah selesai?” tanya ayah Haneul kepada anak gadisnya. Ia belum terbiasa memanggil kekasih puterinya dengan nama Onew, karena menurutnya yang menjadi kekasih Haneul adalah Lee Jinki, bukan Onew. Haneul hanya mengangguk riang.

“Onew Oppa yang membantuku semalam suntuk. Jadi aku bisa belajar untuk ujianku besok pagi. Ah, aku tidak terbayang kalau Onew Oppa tidak bisa membantuku semalam. Sekarang pasti aku belum tidur sama sekali dan tidak bisa mengunyah daging dengan senang karena masih harus mengerjakan tugas.”

“Kau harus segera menyelesaikan kuliahmu itu, Haneul. Anak perempuan tidak boleh menikah di usia yang terlampau tua.” Kata ayahnya tegas tanpa bermaksud menyinggung hubungan anaknya, namun tentu saja kalimat tersebut berhasil membuat jantung Onew berdisko di dalam rongga dadanya.

Hening meliputi meja makan itu sejenak, sebelum akhirnya ibunya angkat bicara. “ah, kenapa Onew harus buru-buru menyelesaikan tugasmu semalam? Kau kan bisa belajar dahulu lalu menyelesaikan tugasmu hari ini—dengan dibantu oleh Onew tentunya? Maksudku, Onew tidak harus mengina…”

“Eomma…” rajuk Haneul manja, memotong kalimat ibunya. Alasan sebenarnya mengapa Haneul ngotot untuk menyelesaikan tugas dan belajarnya semalam adalah karena ia ingin menghabiskan waktu bersama Onew, juga agar mereka tetap bisa pergi menonton bioskop, seperti yang sudah mereka rencanakan sejak berbulan-bulan lalu. “aku kan sudah 6 tahun kuliah, sebentar lagi aku akan lulus. Aku tak mau menjadi pemalas terus.” Haneul berbohong dengan mulus, membuat Onew tersenyum kecil. Dibalik usia 25 tahun dan penampilan dewasanya, Haneul sebenarnya masih sering bersikap manja dan kekanakan.

“Oh, ya, Onew, bagaimana kabar Ibumu?” Ibu Haneul yang pernah bertemu langsung dengan ibu Onew kini mengganti topik.

Onew menaruh sumpit dan sendoknya lalu menjawab pertanyaan ibu Haneul, “Keadaan ibuku sudah jauh lebih baik. Meski kadang masih sakit, namun kini punggungnya sudah bisa dipakai duduk tegak.” Jawab Onew jujur.

“hmm… berarti kau harus berhati-hati juga saat menari. Setauku kelainan tulang seperti itu sering diturunkan.” Ayah Haneul akhirnya membuka suara dan menatap Onew dengan senyum tulus.

“Apa gunanya memiliki anak lelaki yang kaya raya, namun tak bisa menemani ibunya saat sakit?” celetuk Donghae menyindir Onew. Haneul dapat merasakan nada ketidaksukaan pada kalimat itu. Ia tak mengerti, mengapa kakak laki-lakinya menentang keras hubungan Haneul dengan Onew. Apa karena mantan kekasih Haneul yang juga seorang penyanyi? Tapi kini Haneul sudah jauh lebih dewasa dan memahami bahwa perasaannya waktu itu bukanlah cinta. Kini, bersama Onew, Haneul merasakan cinta.

Tidak, lebih dari cinta.

Onew sudah menjadi kebutuhannya. Haneul bergantung pada Onew, itulah sebabnya Haneul memilih untuk merajuk dan meminta Onew membantunya mengerjakan tugas, dibanding mengerjakannya bersama teman-teman kuliahnya.

“Park Donghae, kau juga berada di Hongkong ketika ibumu menjalani operasi usus buntu.” Ayah Haneul memberi komentar pelan namun sukses membungkam Donghae.

Ibu Haneul dan Donghae hanya tertawa kecil melihat puteranya yang salah tingkah. “Donghae dan Onew, sebenarnya profesi kalian sama beratnya. Kalian sama-sama sering pergi ke luar negeri, latihan berjam-jam, memiliki program diet, diikuti para fans dan wartawan…” Ibu Haneul menggantung kalimatnya lalu memperhatikan kedua lelaki di hadapannya.

“Hem… benar juga.” Haneul turut memperhatikan kedua lelaki itu. Tingkah ibu dan anak ini kian lama kian mirip. “Aku jadi ragu untuk menikahimu, Oppa. Ditinggal Donghae Oppa saat acara ulang tahunku saja membuatku sedih, apalagi ditinggal olehmu.” Lanjut Haneul dengan tawa tertahan.

Mendengar kalimat itu, Onew yang sedang menenggak jus jeruk di gelasnya tersedak. Bukan, bukan karena kaget bahwa Haneul ragu ingin menikahinya. Onew kaget karena Haneul akan membawa topik pernikahan di hadapan orang tuanya.

“Hahaha, aku hanya bercanda, Oppa.” Kata Haneul singkat sambil menyiku pelan perut Onew. Lelaki itu hanya dapat membalas dengan senyuman kikuk.

Hening kembali menyelimuti meja makan. Onew tak dapat mengunyah satu potong daging pun, akhirnya ia hanya meminum jus jeruk yang ada di gelasnya.

“Ah, Kimchi dan bawang putihnya sudah habis. biar Ibu…”

“Aku saja yang mengambilkannya. Ahjumma, anda makan saja disini.” Onew segera bangkit dan beranjak ke dapur.

“Astaga, Haneul. Cepatlah selesaikan kuliahmu dan nikahilah Onew. Kau tidak akan bertambah semakin muda, kau tahu? Dan Oppa-mu itu, dia belum punya calon pasti, jadi percuma saja menunggunya.” Ujar wanita paruh baya itu yang diikuti anggukan dan senyum jahil Haneul yang ditangkap oleh Donghae.

“Ibu kalian benar. Donghae, Haneul, Appa sudah mendatangi pernikahan anak-anak teman Appa, sudah pula menghadiri perayaan ulang tahun cucu-cucu mereka. Semua orang mulai bertanya kapan Aku dan Ibu kalian akan menyusul mereka.”

“Usia kami tidak akan lama lagi, kalian tahu kan?”

“Eomma, Appa. Kalian berdua berada bersama kami disini, terlihat muda dan sehat. Tidak bisakah kita berhenti membicarakan hal-hal seperti itu?” ujar Donghae kesal. Ia tak suka pembicaraan mengenai masa depan seperti ini. Donghae hanya senang mengerjakan apa yang ada di hadapannya, tidak perlu sibuk berencana, hanya mengikuti aliran takdir yang telah dibuat.

Haneul hanya menggeleng tidak percaya. Oppanya yang sudah berusia 30 tahun ini, meski memang merupakan seorang atlet taekwondo berbadan besar, namun selalu menjadi yang paling emosional di rumah mereka.

“Oppa, maksud Eomma dan Appa adalah mereka ingin menimang cucu segera. Jadi cepatlah kenalkan mereka pada kekasihmu.” Kata Haneul dengan nada santai yang disambut dengan lirikan tajam Donghae.

“Benar. Dua-tiga tahun lagi, karirmu sebagai atlet akan segera berakhir. Pacarilah seorang gadis dan buat ia hamil. Eomma ingin menimang cucu sekarang.” Haneul dan Ibunya kemudian kompak tertawa cekikikan. Ayahnya hanya menepuk-nepuk pelan punggung tangan istrinya agar ia lebih tenang.

“kenalkanlah kekasihmu kalau memang sudah ada.” Ujar Ayah mereka mengakhiri perdebatan tersebut. Donghae ingin menjawab, namun ditelan kembali semua kalimatnya ketika semua orang di meja makan mendengar suara piring pecah dari dalam dapur.

Haneul yang pertama berdiri dan berlari masuk. Donghae yang masih kebingungan hanya terduduk diam. Ia melihat semua orang masuk ke dalam. Tak lama, Ayahnya keluar dengan wajah panik.

“Donghae, Onew pingsan di dapur. Bantu aku mengangkatnya ke sofa dan membersihkan lukanya. Ibumu dan Haneul akan ke apotek untuk membeli obat lambungnya.”

~~~

Kepala Onew seolah baru saja tertimpa beton berat. Ia malas membuka matanya, yang ia inginkan hanyalah tertidur sedikit lebih lama, setidaknya hingga pusing di kepala dan sakit di perutnya sedikit mereda. Namun suara-suara halus disekitarnya seolah menuntutnya untuk membuka mata segera.

Onew menggerakkan tangannya ke alas empuk yang berada di bawah tubuhnya. Kemudian tangan itu beranjak mengelus singkat selembar kain yang menutupi tubuhnya.

“Kau sudah bangun?” sapa suara berat yang ada di sebelah kanan Onew. Penglihatannya berangsur jelas. Ia mendongak dan menatap Donghae yang sedang duduk di sofa di sebelahnya. Meskipun demikian, Onew dapat melihat bahwa pandangannya terlihat khawatir.

“Haneul…”

“Haneul dan Eomma sedang ke apotek, membeli obat. Appa ada di kamar mandi lantai dua.” ujar Donghae menjelaskan.

“Aku…”

“Kau pingsan saat sendiri di dapur. Haneul bilang kau belum benar-benar makan semenjak kemarin malam dan begadang semalaman. Tubuhmu panas, jadi kukompreskan air dingin ke dahimu.”

“Oh… eh… Terima kasih.” Ujar Onew karena tak tahu mau berkata apa lagi. Ia kembali merebahkan kepalanya yang terasa berat ke atas bantal. Sedetik, dua detik, Onew masih merasa bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan tajam. Onew takut membuka matanya, tidak mau diganggu dengan sorot kebencian dari mata Donghae. Namun pada akhirnya, Onew menyerah juga. Ia membuka matanya perlahan dan menemukan mata Donghae yang seolah menahan sesuatu.

“Ada yang ingin kubicarakan.” Kalimat itu meluncur mulus dari bibir Donghae sedetik kemudian, membenarkan tebakan Onew sebelumnya.

“N-ne, eh…” Onew bingung harus memanggil Donghae dengan sebutan apa. Jika dipanggil Hyung, mereka belum terlalu dekat. Jika dipanggil Donghae-ssi, Onew tahu umur Donghae lebih tua dan hal tersebut tidak sopan. “… Donghae-ssi.”

“Maaf kalau hari ini aku bertingkah.” Donghae berkata singkat.

Onew hanya membalas dengan anggukan singkat.

“Aku sangat menyayangi Haneul, kau tahu. Saat aku berusia 13 tahun dan ia berusia delapan tahun, kami pernah diculik. Aku pingsan dan tidak bisa melindunginya. Ia menangis semalaman dan berkali-kali dipukul oleh si penculik hingga berdarah. Hal yang pertama kulihat ketika sadar dan dijemput oleh para polisi adalah darah yang menetes di dahinya. Haneul memelukku erat dan aku masih ingat benar bau darah yang memenuhi paru-paruku. Sejak saat itu aku tak mau ia disakiti lagi.” Terang Donghae pada Onew yang kini sudah duduk di atas sofa, meski tubuhnya masih tertutup selimut tebal agar demamnya segera turun.

“Selain itu, mantan pacarnya sebelum ia bertemu denganmu, si penyanyi gagal itu…” Donghae mengangkat kepalanya untuk bertemu dengan pandangan Onew. “Aku pernah melihatnya berselingkuh dengan wanita lain. Karena itu aku mengancamnya untuk tidak bertemu dengan Haneul lagi.”

Onew benar-benar tak tahu harus berkata apa. Ia senang akhirnya Donghae memberi tahunya alasan tingkah aneh laki-laki itu di pertemuan pertama mereka.

“Aku melihat kamar adikku, tugas-tugas yang kau buatkan untuknya…” Donghae menerawang, lalu kembali menatap Onew. “Kalau kau tidak benar-benar menyayanginya, tentu kau tidak akan mau mengorbankan waktumu untuk semua permintaan konyolnya.”

Onew ikut menerawang, mencoba memahami apa yang dikatakan Donghae. Benar, tak mungkin ia mau mengorbankan waktunya jika ia tidak benar-benar menyayangi Haneul.

“Pengorbanan yang jauh lebih berharga daripada barang ataupun uang, ialah waktu.” Simpul Donghae, mengakhiri cerita panjangnya.

Onew tertegun mendengarnya. Selama ini yang ia pikirkan adalah status mereka. Haneul memang kekasihnya, Onew begitu menyayanginya. Tapi hanya itu saja, Onew tak pernah berpikir apakah perasaan sayang itu hadir karena mereka selalu bersama, atau karena Onew memang mencintainya?

Onew mencintainya.

Ia mencintainya, maka ia rela mengorbankan waktunya, waktu tidur dan istirahatnya, waktu bermain bersama teman-temannya, waktu untuk dirinya sendiri, demi bertemu dan menghabiskan waktu dengan Haneul.

“Oppa!!! Kau sudah bangun?” tanya Haneul yang menerobos masuk dari pintu depan. Gadis itu melompat naik ke atas sofa, duduk di sebelah Onew dan memeluk erat lengan Onew. Ia mengernyit kesakitan begitu sadar ada luka di lengannya.

“Pecahan piring di lantai melukaimu saat kau terjatuh pingsan. Ayahku membantuku membalutnya. Aku tidak tahan dengan bau darah.” Kata Donghae yang membuat Onew tersenyum. Saat ini, Onew yakin ia sudah meraih kepercayaan dan rasa sayang Donghae terhadap dirinya. Donghae mau bertahan menghadapi ketakutannya terhadap darah untuk membalut luka Onew.

“Kalian sudah kembali?” Ayah Haneul turun dari lantai dua dan bergabung dengan semua orang di ruang tengah. “Sebaiknya kita segera pulang. Onew butuh istirahat dan Haneul harus bersiap untuk ujiannya besok. Onew, menginaplah disini malam ini. Jangan menyetir jika tubuhmu masih lemah.”

~~~

“mereka sudah pulang?” tanya Onew yang masih duduk bersandar di atas sofa. Haneul masuk kembali ke dalam rumah setelah mengantar kedua orang tua dan kakak laki-lakinya ke mobil mereka.

“Sudah.” Kata Haneul cuek, kemudian mengunci pintu rumahnya. “Makanlah buburmu.” Katanya ketika ia melihat mangkuk bubur di tangan Onew masih belum habis setengahnya.

“Haneul…” Onew memanggil Haneul yang hendak beranjak naik. Haneul berbalik lalu mengerti permintaan Onew untuk menemaninya duduk di sofa. “Ehm…” Onew bingung bagaimana harus mengutarakan isi kepalanya kepada Haneul saat ini. Kadang, apa yang ia ingin katakan berbeda jauh dengan apa yang benar-benar dikatakannya. “Pernahkah aku.. bilang… bahwa…”

“Apa, Lee Jinki-ssi?” tanya Haneul benar-benar ingin meninggalkan ruangan itu sekarang juga. Ia tak tahan melihat wajah Onew dalam jarak sedekat itu dan menahan dirinya untuk tidak mencium bibir manis Onew.

“Eum.. Haneul, lihat mataku.” Kata Onew lembut dan pelan. Mata Haneul yang sedari tadi melihat ke segala arah, terpaksa di arahkannya ke mata Onew.

Kemudian bibirnya.

Lalu matanya lagi.

“Pernahkan aku bilang bahwa aku mencintaimu?” ujar Onew lancar, membuat jantung Haneul berdebar-debar. Tidak, tentu saja tidak pernah. Mereka menyatakan perasaan sayang, namun tidak pernah berkata cinta.

“I  love…”

“Jika memang cinta, orang tersebut tidak akan mengingkari janjinya, Onew.” Kata Haneul kesal, namun dengan seberkas nada manja. Ia menimbang-nimbang dalam kepalanya, haruskah ia utarakan kekesalannya sejak tadi pagi, meskipun hal tersebut terdengar kekanakan?

“Janji.. janji apa?”

“Seharian ini kau bertingkah aneh dan berlebihan. Kau tidak makan dari semalam, tidak tidur juga. Kau melewatkan sarapan pagi bersama kita, kau menolak pelukanku, kau juga tidak mau menciumku saat pagi hari aku baru bangun tidur. Kau juga berjanji…”

Onew tertawa kecil mendengar keluhan kekasihnya itu. Oh, Haneul, andai saja ia tahu bahwa memeluk tubuhnya dan mencium bibir mungilnya adalah dua hal yang hampir selalu muncul di pikiran Onew.

“Jadi, kapan kau akan menepati janjimu?” kata Haneul dengan bibir mengerucut dan tangan yang dilipat di depan dada. Onew menyelesaikan tawanya dan menatap lekat kedua pasang mata Haneul, mata yang selalu berhasil membuat Onew jatuh cinta setiap harinya.

“Baiklah. Jadi aku berjanji akan makan bersama denganmu.” Onew menyendok sesuap bubur dari mangkuknya lalu melahapnya. Kemudian ia meletakkan mangkuk tersebut di atas meja dan kembali menatap Haneul. “Aku juga berjanji akan memelukmu.” Onew mendekatkan tubuh hangatnya ke arah Haneul. Dengan hati berdebar, Haneul menerima pelukan itu dan mengelus pelan punggung Onew. Entah berapa lama, keduanya larut dalam sunyi. Haneul berdebar-debar hatinya, menunggu pemenuhan janji Onew yang terakhir.

“apa lagi janji yang belum kupenuhi?” kata Onew sambil melonggarkan pelukan mereka. Mata Onew menatap erat mata Haneul yang memancarkan sorot bingung, kaget, dan kecewa.

“cium…” ujar Haneul malu-malu dengan pipi yang merona merah. Onew mengulum senyumnya dan mendekatkan jarak bibir mereka. Haneul menutup matanya perlahan dan Onew harus menahan tawanya melihat wajah gadis yang begitu dicintainya.

“Park Haneul, sebegitu inginnya kah kau kucium?”

“Ya!! Lee Jin K-“ kata-kata Haneul harus kembali ditelannya ketika bibir tebal Onew menyentuh bibirnya. Ia merasa baru saja terserang jutaan watt listrik yang membuatnya kaku tak bisa bergerak. Suhu tubuhnya naik, larut dalam keberadaan Onew yang begitu dekat.

“I love you, Park Haneul.” Ujar Onew setelah bibir mereka terpisah.

Haneul hanya tersenyum dalam diam. Tangan kirinya mengambil tangan Onew, kemudian jari telunjuk kanannya menggambar sesuatu di telapak tangannya.

I ❤ U