Genre: idk (imma failed)
length: oneshot
cast: Kim Jonghyun, Kim Kibum, Hyebin, Hyunki, Thunder
kindly check the first and second story written by Annisa Sekar Sari—> [Fanfics] Romantic ; [Fanfics] Do You
“Ya~” kata Hyebin manja. “gomawo (terima kasih)”
“aku yang harusnya minta maaf.” Kata Hyunki dari seberang telepon. “aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Tak bisa menemanimu selama honeymoon kalian.”
“tapi kau yang membuat Jonghyun melamarku.” Kata Hyebin singkat. Pipinya memerah ketika otaknya memutar ulang kejadian itu, saat dimana Jonghyun melamarnya.
“so…” kata Hyunki menggantung.
“jadi aku mau berterima kasih.” Potong Hyebin dengan senang.
“ah jagi, ppali. (honey, cepat.)” samar suara seorang dibelakang.
“geu namja, nugu? (laki-laki itu, siapa?)” tanya Hyebin, clueless.
“ige.. ige Key-iyeyo. (ini.. ini Key)” kata Hyunki “hold on… hold on, jagi.” Kata Hyunki kepada Key yang sudah menunggunya di atas kasur.
“mwo? Kau dan Key? Jam tiga subuh? Sedang apa kalian?” tanya Hyebin khawatir.
“kami habis mengunjungi restoran salah satu temannya. Dengan bodohnya ia minum anggur disana, padahal jelas-jelas ia belum makan.” Kata Hyunki setengah kesal. Key benar-benar merepotkannya malam ini. dalam keadaan kelaparan Hyunki harus membawa Key yang setengah mabuk dengan mobilnya. setelah sampai di dorm mereka, tak ada yang membuka pintu. Setelah di konfirmasi ke Onew, ternyata hanya Minho yang ada didalam, yang sudah pasti sedang tertidur pulas.
“kau tak mengantarnya ke dorm?” kata Hyebin masih tak habis pikir.
“minho sudah tidur. Jinki oppa dan Taemin sedang shooting malam.” Kata Hyunki singkat. “sudah, ya. Tenang saja, aku percaya kok Key itu laki-laki baik. Dia tidak akan bermacam-macam denganku. Kau tidur dulu sana. Jonghyun pasti sudah menunggumu di kasur.” Kata Hyunki cepat. Hening seketika, tak ada diantara keduanya yang mau menutup sambungan telepon itu.
“Hyunki-ya,”
“Hyebin-ah,”
Keduanya mengulum senyum seraya mendengar satu sama lain memanggil nama sahabatnya masing-masing.
“kau dulu.” Kata Hyunki memecah keheningan.
“aku.. aku hanya mau bilang..” Hyebin mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk sahabatnya itu. “aku hanya mau bilang, aku senang melihatmu seperti ini. stick to one guy.” Kata-kata Hyebin meluncur mulus dari bibirnya. “dan, kau tahu kan batas-batasan dalam pacaran?” tanya Hyebin memastikan sahabatnya ini masih cukup waras untuk tak berbuat apa-apa.
“Hyebin darling, chill. We wont to anything. Biarpun Key itu half-western, tapi kami berdua masih sama-sama Asian. Masih tahu bagaimana cara membedakan pacaran dan lebih dari pacaran.” Kata Hyunki yang disambut desahan lega dari Hyebin.
“dan menurutku…” kata Hyunki kembali ke topik pembicaraan. “Hyebin, kalian sudah menikah. Aku tahu pasti sulit bagimu untuk terbuka kepada suamimu itu, tapi tetap saja, dialah yang bertanggung jawab akan seluruh hidupmu, tiap detik di tiap harimu. Jadi kau tak bisa lagi berlari kepadaku ketika ada masalah. Jonghyun yang akan ada di sebelahmu mulai sekarang.” Kata Hyunki, mendadak merasakan sedih menyergap dadanya. “tapi tentu saja aku akan selalu berada di samping Key. Jadi kalau kau butuh aku, kau tahu kan harus mencari aku kemana?” kikik Hyunki pelan, mencairkan suasana.
Hening kembali menyergap, keduanya sibuk akan pikiran masing-masing, memutar lagi setiap kenangan yang mereka lewati bersama
“Sudah, kau lebih baik pergi menemui Jonghyun-mu itu. jangan pura-pura bodoh. Aku mendengar semua percakapan Key dan Jonghyun. Kau menolak untuk melakukannya dengan Jonghyun, kan?” tembak Hyunki tepat sasaran. Memang sebenarnya inilah alasan Hyebin menelepon Hyunki di pagi buta begini, ia mau menghindari Jonghyun.
“a.. anni! Annirago!” bantah Hyebin gagap.
“cih, sudahlah. Aku lebih baik berurusan dengan Key daripada denganmu.” Kata Hyunki memberi penekanan pada kata ‘berurusan’ lalu dengan seenaknya menutup telepon.
Cih, benar-benar sudah terpengaruh dengan Key. Tingkahnya sudah seperti Kim Brothers ini. suka seenaknya, pikir Hyebin.
“Aegi-ya..” sapa suara seorang lelaki dari belakang. Saat Hyebin berbalik, dilihatnya Jonghyun dengan kaus longgar dan celana pendek selututnya mendekati Hyebin yang duduk di sofa. Dari belakang, Jonghyun meremas pelan pundak Hyebin, seolah memberi kenyamanan yang nyaris membuat Hyebin terbuai oleh sentuhan jari-jarinya. “sudah siap, besok?” tanya Jonghyun singkat.
“eung. Semua sudah masuk koper.” Kata Hyebin singkat, takut salah bicara.
“sudah larut, sebaiknya kita tidur.” Kata Jonghyun lagi. Hyebin meremas kuat handphone di tangannya, berusaha mencari alasan untuk menghindar.
“ah, ne, aku baru ingat!” kata Hyebin menyentak tangan Jonghyun dari bahunya. “aku.. masih ada baju yang belum kumasukkan ke koper. Kau tidur duluan saja. Aku mau mengambil baju itu dulu.” Kata Hyebin dengan jantung berdetak layaknya genderang perang.
Jonghyun terduduk lemas di sofa yang baru saja ditinggalkan Hyebin. Selalu saja begini. 4 hari lalu, ketika hari pernikahan mereka dilangsungkan dan seharusnya mereka terbang ke Prancis menempati suit di hotel mewah yang sudah di sediakan Hyunki, tiba-tiba saja Hyebin terjatuh pucat di ruang imigrasi yang ternyata karena perutnya sakit. Panik, Jonghyun membawanya keluar dari bandara Incheon menuju rumah sakit ibunya Key. Bodohnya, setelah diperiksa, sakit itu hanyalah karena Hyebin datang bulan.
Memang Jonghyun tak tahu seberapa sakit hal itu, tapi bukankah datang bulan hal yang lumrah bagi wanita?
Setelah itu mereka harus menunggu penerbangan selanjutnya ke Paris yang available, dan itu adalah hari ini.
Harapan Jonghyun, selama 4 hari menunggu di rumah, mereka bisa melangsungkan ‘honey moon’ mereka dulu disini. Ia tak munafik. Dirinya adalah lelaki normal yang juga ingin memiliki istrinya itu seutuhnya. Ia ingin diyakinkan dan meyakinkan Hyebin bahwa istrinya itu adalah yang pertama, dan satu-satunya. Tapi selalu saja ada alasan Hyebin untuk berkelit dari kewajibannya itu. entah ia harus menulis, atau membersihkan kamar mandi, atau bertelepon dengan Hyunki…
“Ah, nan molla!” desah Jonghyun keras lalu menyeret dirinya sendiri ke kamar tidur.
“JALJA!” teriak Jonghyun dalam kamar yang terdengar samar oleh Hyebin yang menyembunyikan dirinya di kamar mandi belakang.
“mianhae, Jonghyun-ah.”
~~~
“Semua sudah, kan?” tanya Jonghyun sekali lagi memastikan. Dipakainya aviator Tommy Hilfiger pemberian Key untuk menyembunyikan mata super bengkak nya karena kurang tidur. Disebelahnya, Hyebin sedang mengecek isi tas tangannya. Terlihat sedikit kucel karena tampaknya ia juga kurang tidur.
“seharusnya sudah. Ayo!” kata Hyebin menarik tangan Jonghyun untuk melewati pintu ruangan bersama sebelum langkah mereka dihentikan oleh suara seseorang.
“GUYS!” seru suara itu mengagetkan Hyebin dan Jonghyun dari belakang.
“MWO?” Jonghyun yang pertama kaget. Mau apa gadis itu disini? Di tempat ini? apa ia akan ikut kami ke Paris? Berjuta pertanyaan muncul dari otak Jonghyun.
“Guess what?!” tanya Hyunki, lebih tepatnya menyuruh.
“are you going with us?” tanya Hyebin dalam bahasa Inggris. Biarpun Jonghyun bodoh dalam bahasa Inggris, tapi ia tahu ini pasti berarti… bencana!
“Awesome, right?” pekik Hyunki riang yang disambut pelukan ringan oleh Hyebin di leher sahabatnya itu.
Yeah, tentu saja Hyebin senang. Ini bisa menjadi liburan yang menyenangkan bagi Hyebin dan Hyunki. Sementara aku? Hanya menjadi obat nyamuk. Keluh Jonghyun dalam hati
“why so sudden? Aren’t you with Key last night?” tanya Hyebin pada Hyunki sambil menariknya untuk duduk di boarding room, menunggu untuk kedatangan pesawat sekitar 30 menit lagi.
“who? Key? Who is he?” balas Hyunki acuh tak acuh.
“kalian bertengkar?” tanya Jonghyun, tepat sasaran.
“Shut up!” seru Hyebin dan Hyunki berbarengan. Jonghyun kaget sampai harus menyenderkan punggungnya ke belakang.
“you know, you can tell me anything if you want.” Ujar Hyebin santai sambil bersiap-siap memasang headphone ipodnya.
“wait.” Cegah Hyunki. “dia, lelaki itu..”
“Key itu lelaki?” kata Jonghyun sekali lagi, usil.
“Shut up!” sekali lagi, seru Hyebin dan Hyunki berbarengan.
“lelaki itu, kami.. aku dan dia… semalam…”
“OMO!” sela Hyebin di tengah cerita Hyunki. “bukankah kau bilang kalian tahu batas-batas berpacaran?”
“Anni, kami tak melakukan apa-apa. makanya dengarkan aku dulu.” Kata Hyunki kesal. Nyaris saja ia menjitak kepala sahabatnya itu kalau saja salah satu pramugara imut yang baru saja lewat itu tidak melihat ke arahnya. “dia mabuk, lalu kubawa ke flat ku. Dia tak sadar dan mulai membuka bajunya sendiri, mungkin kepanasan, lalu tertidur di kasurku…” kata Hyunki menerawang, mengingat bagaimana manisnya nyanyian Key semalam saat ia mabuk.
“oh, thank God kalian tak melakukan apa-apa.” kata Hyebin mendesah lega. “lalu kenapa kau disini?”
“lalu pagi-pagi benar ketika aku bangun untuk mengeceknya, dia sudah pergi.” Kata Hyunki mendesah kecewa. Jonghyun menggeleng-geleng tak percaya. Masalah sesepele ini saja bisa membuat wanita kelimpungan.
“tak ada kabar? How dare he is!” geram Hyebin tertahan, membuat Jonghyun nyaris tertawa karena ekspresinya seperti anak umur lima tahun yang permennya diambil.
“hanya ada sebuah post it menempel di segelas coffee americano di meja pantry-ku.” Kata Hyunki seraya menyerahkan selembar post-it kuning dengan tinta pink ke tangan Hyebin.
Sweetie, i cant make it with you today, I’m sorry.
I have a schedule to be caught, my practice for the musicale.
I’m afraid other artiste and the director will wait for me, so I go first.
Love you.
“bitch, right. Dia lebih memilih pekerjaannya itu daripada aku?” kata Hyunki sedih tepat ketika Hyebin selesai membaca pesan singkat itu.
“ladies,” Jonghyun berdeham mencoba memanggil kedua wanita di depannya itu. Hyunki dan Hyebin sontak terpana akan pelafalan bahasa Inggrisnya yang cukup sexy. “we better catch the flight first if we dont wanna wait for the other 4 days.”
“OMO!” seru Hyunki cepat sambil mengambil tas tangannya dan mengejar Hyebin yang sudah ditarik oleh Jonghyun ke dalam pesawat.
~~~
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu terdengar membahana di seluruh ruangan. Jonghyun tak mempedulikannya. Setelah hampir seminggu ia menunggu, ia tak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Ditelusurinya leher Hyebin itu sekali lagi dengan bibirnya, lalu diciumnya lembut bibir Hyebin.
Tok-tok-tok!
Jonghyun masih mengabaikannya. Jonghyun harus menyelesaikan semuanya malam ini, atau mungkin ia akan mati penasaran karena harus menunggu di sisa hidupnya untuk kesempatan ini.
“ya..” ujar Hyebin menahan dada Jonghyun. “buka saja dulu pintunya. Siapa tahu itu Hyunki yang butuh bantuan.” Kata Hyebin sambil mengatur nafasnya.
Dengan kesal, Jonghyun mengambil kausnya yang tergeletak di lantai dan memakainya sembarang.
Tok-tok-tok!
“sabar!” gertak Jonghyun kesal. Dibukanya pintu itu kasar dan di hadapannya kini berdiri sesosok lelaki berambut pirang. Keringat dingin jelas menetes di dahinya. Matanya mencari ke segala arah, panik.
“mana Hyunki?” tanya Key memaksa masuk yang langsung saja di tahan oleh lengan besar Jonghyun. Kaget, Hyebin yang hanya memakai kemeja tipis menyembunyikan dirinya dibalik selimut, menahan senyum karena Key adalah penyelamatnya saat itu. tangannya bergetar hebat, menahan segala adrenal yang memacu ke jantungnya.
“kau mencari wanitamu?” kata Jonghyun ringan. “ah, kalian ini, yang benar saja!” Jonghyun mengeluh ringan lalu mengambil ponsel Hyebin, membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Hyunki. “dia ada di kamar 7 lantai 18. Silahkan kau pergi ke sana.” Kata Jonghyun dengan nada mengusir.
“Hyung,” tahan Key sebelum Jonghyun menutup pintunya. “gomawo, have a good night!” kata Key sambil tersenyum menyindir, lalu pergi menghilang dibalik pintu lift.
“michineom (orang gila.)” kata Jonghyun menyeret lagi tubuhnya ke tempat tidur. Disana, dilihatnya Hyebin sudah terbaring menyamping menutup matanya. Jonghyun tahu benar, Hyebin pasti belum tidur. Nafasnya belum teratur, tak seperti biasanya ia tertidur.
“Good night, aegi.” Kata Jonghyun sambil menutup tubuh istrinya itu dengan selimut dan mengecup pelan bahu istrinya dari belakang. Dirasakannya Hyebin sedikit tersentak, namun kembali terdiam. Jonghyun hanya dapat mendesah keras.
Sehari lagi, Jonghyun yakin ia hanya perlu menunggu sehari lagi.
~~~
“Oh, kalian sudah bangun. Bagaimana semalam?” tanya Hyunki sambil mengoles butter ke atas rotinya, menyambut Jonghyun dan Hyebin yang baru saja memasuki cafe yang ada di dekat hotel dimana mereka tinggal. Arsitektur cafe yang sangat ‘Paris’ membuat Hyunki betah berlama-lama disini, menjajal kemampuan kameranya. “cepat duduk, aku sudah pesankan breakfast.” Kata Hyunki menarik Hyebin duduk di sebelahnya. Mau tak mau, Jonghyun harus duduk di seberang Hyebin.
“may i join?” suara seorang lagi terdengar samar di telinga Hyunki. Dengan sekali gerak, Hyunki menjatuhkan bread-butter-knife nya dan melirik tajam ke arah sang suara. Key.
“disini masih kosong.” Kata Jonghyun sambil menepuk acuh bangku diantaranya dan Hyebin. Dengan santai Key duduk dan memainkan handphonenya. Posisi duduknya kini Hyebin—Hyunki—Jonghyun—Key. Sehingga Hyebin dan Jonghyun saling berhadapan, begitu juga Key dan Hyunki.
“setidaknya semua orang disini masih tau sopan santun, tak bermain handphone disaat makan.” Kata Hyunki menyindir Key. Sadar disindir, Key memasukkan handphone-nya dengan acuh ke dalam kantung blazernya.
“apa yang membuatnya kesini?” tanya Hyunki, lebih kepada Hyebin.
“aku sendiri pergi kesini atas dasar ketidak-tahuan. Tidak tahu mengapa wanita yang kucintai tiba-tiba merusak acara honey-moon sahabatnya.” Kata Key sambil menopangkan dagu ke atas sikunya yang ditaruh di meja, menatap lurus ke dalam mata Hyunki, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Hyunki melengos, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“what do you want to order, sir?” tanya seorang pelayan dengan kemeja putih dan vest hitamnya.
“a glass of whisky and slice of bread is enough.” Kata Key sambil memijat keningnya. Iya ingat bagaimana sejarahnya ia bisa sampai disini.
Dua hari yang lalu ia masih berada di flat milik Hyunki, membawa sekantung penuh berisi popcorn dan beberapa keping dvd yang rencananya akan mereka tonton malam itu. tapi begitu berhasil masuk, tak ada seorangpun yang dapat ia temukan. Key mencoba mengecek ke lemari pakaian dan benar saja, pakaian musim panas Hyunki sudah tak ada semua. Kopernya pun hilang, membuat Key yakin gadisnya itu sedang menyusul Hyebin dan Jonghyun.
Setelah 14 jam penerbangan yang melelahkan akhirnya semalam ia bisa check in, sengaja mengambil kamar yang berada tepat di sebelah kanan Hyunki. Sekarang yang ia inginkan adalah sebuah pain killer, penghilang rasa pusing yang luar biasa menusuk kepalanya.
“michigesseo? (apakah kau gila?)” Jonghyun yang pertama kali mengembalikan Key ke alam sadar. “Whisky? Jam 8 pagi? Kau sehat, huh? Kau mau merusak dirimu?” kata Jonghyun lagi.
Lama semuanya terdiam, Key hanya menatap Jonghyun dengan pandangan yang sulit dijelaskan. “aku lelah, Hyung.” Desah Key pelan, terpancar nada lelah dan sedih didalamnya membuat sesuatu di sudut hati Hyunki terasa perih.
“one whisky and a slice of bread with butter and cheesse. Have a good day.” Kata pelayan itu berlalu.
“oh, my bad. Is this a glass of whisky?” tanya seseorang saat Key baru saja mengangkat gelas itu, hendak meneguknya. Tampaknya ialah manager cafe itu. ia hanya mengenakan selembar kemeja putih tipis yang membuat kulitnya bercahaya ketika diterpa sinar matahari, dan selembar celemek hitam dilingkarkan di pinggangnya. “I apology for my steward. He isnt supposed to give you a whisky in this early morning. Let me grab you something lighter. Maybe a champagne…” kata laki-laki itu sambil mencoba berbalik menuju tempatnya menyimpan wine.
“omo, Thunder? Is that you?” kata Hyunki terkejut sedetik setelah ia melihat wajah si manajer cafe. Sontak ia berdiri dan memperhatikan wajah itu sekali lagi.
“neo.. noona? Hyunki noona?” Thunder mengembangkan seberkas senyum di bibirnya. Ia mengenal Hyunki sebagai teman sekolah Sandara, noona kandungnya, di sekolah fashion dulu.
“Oh, Thunder!” kontan saja Hyunki langsung menghambur memeluk Thunder. Sudah lama ia tak mengomeli bocah yang ia anggap sebagai adiknya itu.
“oh, noona, gidarijuseyo. (tunggu sebentar). Aku akan ambilkan something lighter than this untuk temanmu, ne? Kita tak mau merusak lambungnya, kan?” kata Thunder manis lalu menghilang dibalik pintu dapur.
“akrab sekali?” lirik Key tajam ke arah Hyunki. Kepalanya terasa berat, bagai beribu Jonghyun ditimpakan ke atas kepalanya. Tapi ia ingin tahu lebih mengenai lelaki ini dan Hyunki.
“kenapa? Dia memanggilku noona. Jelas saja kami akrab.” Kata Hyunki ketus.
“bukannya kau anak tunggal? Sepupumu?” tanya Jonghyun.
“kedua orang tuaku juga anak tunggal, dia bukan sepupuku.” Kata Hyebin meneguk sekali lagi teh tawar di gelasnya. Tak lama, laki-laki bernama Thunder itu muncul sekali.
“i bring this one. Pinot Noir 1993. Masih baru, tak terlalu asam biarpun alcoholnya lumayan tinggi. Cobalah. Ini jauh lebih ringan daripada whisky.” Kata Thunder berbinar. Dengan acuh Key menolaknya.
“ambilkan aku segelas Coffee Americano saja.”
“kami tak menjualnya disini, sir. Sangat susah bagi produk America untuk masuk ke Eropa.” Kata Thunder menjelaskan. Hyunki tersenyum bangga.
“aigoo~ pintar sekali!” katanya sambil mengelus puncak kepala Thunder singkat. Key merasa dadanya berdesir, tak rela.
“YA!” teriaknya tak kuat menahan emosi. Hyunki dan Thunder serta Hyebin dan Jonghyun yang masing-masing sedang sibuk dialihkan perhatiannya oleh suara itu. Thunder yang mengerti keadaan langsung saja memohon diri untuk kembali ke dapur.
Hening sejenak, angin semilir di musim panas mengantar hawa hangat menyergap ke tubuh mereka berempat. Semua tak terkecuali Key mulai merasa keringat. Angin berhembus seolah mempermainkan orang-orang disana, memberi kesejukan semu.
“jadi… kau kesini untuk apa Key?” tanya Jonghyun kembali mencoba mencairkan suasana.
Key mengangkat gelas kopinya yang baru saja datang, menyesap aromanya mencoba menenangkan pikirannya. “sudah kubilang, kan? Aku ingin menemui orang yang berhasil membuatku jatuh cinta. Cinta kedua dalam hidupku.” Kata Key sambil menatap serius ke arah Hyunki. Dengan angkuhnya Hyunki menatap ke luar jendela.
“cinta kedua?” Jonghyun bertanya memastikan, mencoba mengingat perkataan-perkataan Key di masa lalu. “OMO! Jangan bilang kau sudah bisa melupakan Oh Hye Eun Noon…” Jonghyun berhenti bicara sebentar, ia sadar ia telah salah bicara.
“sebaiknya, kami pergi duluan, ya.” Kata Hyebin hendak menarik lengan Jonghyun.
“anni, tak usah. Aku saja yang pergi. Kalian lanjutkan saja sarapannya.” Hyunki menenggak ludahnya banyak-banyak, mencoba membuat tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering dan perih itu lebih nyaman. Ditahannya rasa panas di kedua kelopak matanya, lalu menghilang di balik pintu.
“sebenarnya apa sih, yang salah?” tanya Key frustasi, ia tak mengerti apa yang membuat kekasihnya itu bersikap aneh.
“kau meninggalkannya di pagi buta untuk pekerjaanmu.” Terang Hyebin membuat Key berpikir.
“that’s not a big deal!” seru Key tak percaya.
“tapi itu masalah besar buat para wanita.” Kata Jonghyun sekenanya.
“intinya, itu berarti kau lebih memilih pekerjaanmu daripada Hyunki. Mana ada wanita yang mau diduakan, bahkan oleh pekerjaan pasangannya sendiri?” kata Hyebin, sambil menyindir Jonghyun.
“ck! Sudah kuduga tak seharusnya aku berbohong hari itu.” desah Key putus asa.
“jadi kau berbohong waktu itu?” tanya Hyebin gusar.
“nanti saja aku jelaskan. Sekarang aku harus mengejarnya.” Kata Key, berlari menuju pintu cafe. Begitu didengarnya denting bel dari atas pintu, ia baru teringat sesuatu. Segera disusurinya lagi cafe itu menuju meja dimana Hyebin dan Jonghyun masih tinggal.
“Hyung, mana kunci kamarmu?” todong Key.
“MWO?” sahut Hyebin dan Jonghyun bersamaan, kaget.
“ppali. Aku butuh sekarang. Akan kukembalikan utuh, mungkin hanya sedikit berantakan.” Kata Key dengan smirk nakal di wajahnya.
“tunggu.” Hadang Hyebin saat tangan Jonghyun hendak memberikan passcardnya. “Hyunki.. dia tak akan mau melakukannya. Dia sudah berjanji padaku, dia…”
“sudahlah,” kata Jonghyun ikut berdiri, menyerahkan kartu itu ke tangan Key. Bocah itu berlari dengan girang lalu melambaikan kartu itu tanda terimakasih. “we wont use it anyway.” Kata Jonghyun singkat, terselip nada kekecewaan pada perkataanya.
“mianhae…” kata Hyebin lagi, duduk tertunduk, menghindari tatapan Jonghyun.
“gwenchana..” susul Jonghyun duduk di sebelah Hyebin, menepuk pundaknya seolah mengerti. “aku mau menunggumu kok. Yang perlu kau lakukan adalah… mencoba jujur padaku. katakan apa yang mau kau katakan. Kau tak perlu berpura-pura tidur atau kabur ketakutan. Aku tak mau menjadi menakutkan untukmu.” Kata Jonghyun lagi membuat Hyebin merasa dirinya jatuh semakin dalam. Bagaimana mungkin dirinya bisa membuat lelaki sebaik Jonghyun menunggunya?
“mungkin.. mungkin sebentar lagi. Mungkin kau harus menunggu sebentar lagi. Maafkan aku.” Kata Hyebin sambil mengangkat wajahnya, tepat saat Jonghyun berusaha menatap matanya. “bantu aku.. bantu aku agar aku…” Hyebin berusaha mencari kata-kata yang tepat. Tapi tak ditemukannya. Ia tahu di sudut hatinya kini ada sebuah perasaan yang tak terkatakan bahkan oleh beribu kata.
“kau tahu aku selalu ada di sampingmu.” Kata Jonghyun menggiring Hyebin ke pelukannya, meyakinkan Hyebin bahwa Jonghyun akan melewatinya bersama Hyebin.
~~~
Tok-tok-tok!
Dengan pelan Key mencoba mengetuk pintu itu, tak ada balasan.
Tok-tok-tok!
Sekali lagi Key mengetuk dengan pelan, dirasakannya langkah kaki mendekat dan lubang di depan matanya—tempat tamu yang berada di dalam kamar bisa melihat siapa yang datang—membentuk bayangan bergerak.
“mau apa kau kesini?” tanya Hyunki membuka pintunya sedikit. Keadaannya kacau sekarang. Tak pernah ia menemui seorang lelakipun dengan wajah polos tanpa make up begini.
“mau bertanya..” kata Key masih mengatur nafasnya yang tersengal setelah lari dari cafe kesini.
“bertanyalah.” Kata Hyunki acuh.
“tak bisakah aku masuk?” kata Key seraya menatap mata Hyunki, memohon. Mata itu, mata yang selalu berhasil menangkap perhatiannya yang habis untuk hal lain. Mata yang selalu berhasil memindahkan roh Hyunki ke tempat lain untuk sementara waktu. Mata yang selalu membuat Hyunki dapat merasakan dunia yang berbeda, dunia yang tak pernah dirasakannya.
“come in.” Kata Hyunki singkat dan membawanya masuk ke pantry. Single president room itu terlihat nyaman biarpun hanya berisi satu single bed, sofa putih kecil, seperangkat tv dan dvd, serta pantry kecil. “mau minum apa?” tanya Hyunki ramah, detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sedang melancarkan aksi marahan dengan Key.
“eh?” Key kaget akan keramahan Hyunki yang tiba-tiba. “kopi, kalau ada. Jet lag ini bisa membunuhku lama-lama.” Kata Key duduk di salah satu bangku sementara Hyunki membuka laci-laci pantry, mencari keranjang kecil dimana buttler hotel biasa menaruh kopi, teh, gula dan kawan-kawannya.
Tangannya terhenti di udara seketika melihat keranjang itu. isinya hanya tinggal dua bungkus Coffee Americano. Semua isi keranjang itu memang sudah habis menemani malamnya yang lalu. Entah itu teh, kopi, creamer, semua ia aduh di gelasnya satu-persatu. Yang tersisa hanyalah dua bungkus Coffee Americano instan ini, dua bungkus yang ia harap tak perlu ia minum.
“igeo..” kata Hyunki menyerahkan gelas itu. diperhatikannya Key menyesap kopinya lalu menutup rapat matanya, seolah menyembunyikan sebuah kesakitan yang amat sangat. Hyunki sendiri merasa ada yang salah, tapi egonya lebih tinggi untuk sekedar bertanya keadaan Key.
“geu namja, nugu?” tanya Key masih sambil menutup matanya. Saat itu juga Hyunki ingin menangis. Baru kali ini laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh ke dalam pesonanya itu terlihat sangat redup, tak hangat memancarkan sinarnya.
“dia memanggilku noona. Jadi…”
“nugu?” tanya Key sekali lagi. Kini matanya terbuka lebar. Terdapat lingkaran hitam dibawah matanya. Pendar yang biasanya bercahaya kini hilang. Tapi entah mengapa ada kekuatan besar yang seolah menekan Hyunki saat manik mata mereka bertemu.
“dulu kami sering pergi bersama, berkeliling Seoul dengan subway. Kami sudah saling mengenal sejak lama, kami sangat dekat. Mungkin ia termasuk lelaki yang paling dekat diantara semua yang pernah dekat dengan…”
“YA!” Key mengamuk. Emosinya tak terkontrol hingga secara tak sengaja alam bawah sadarnya memerintahkan tangannya memukul keras meja pantry itu. Hyunki terdiam. Tak pernah disangkanya Key bisa semarah ini.
“aku tak mau mendengarnya lagi.” Kata Key saat dia sudah bisa meredakan semua emosinya.
“oh, baiklah.” Kata Hyunki santai. Hyunki beranjak mendekati Key yang masih berusaha meredam emosinya, mengambil gelas yang isinya baru saja ditumpakan oleh Key. Dibawanya gelas itu untuk di cuci. Tiba-tiba, sepasang lengan lelaki itu sudah berada di pinggangnya. Pipinya dijatuhkan di punggung Hyunki, sehingga ia bisa merasakan debaran jantung lelaki itu.
“no, Hyunki, don’t move. Can we stay like this for another minutes? Just wait until i finish. I just want to apologize you because… i’ve just ruined anything, everything. Tak seharusnya aku berteriak dan memukul meja itu dihadapanmu” kata Key sambil menarik nafasnya dalam-dalam. “aku hanya takut kau akan pergi dariku, aku takut tak bisa melihatmu tersenyum untukku. Detik saat matamu berbinar melihat laki-laki itu, rasa takutku membuncah, membuat segalanya tak terkendali. Aku mencintaimu, Hyunki. Sejak awal aku melihatmu, sekarang, dan sampai nanti pun akan begitu. Aku ingin kau menatapku dengan cara seperti dulu lagi, tatapan yang selalu membuat jutaan kupu-kupu menggelitik keluar dari perutku.” Saat itu juga Hyunki merasakan cairan panas menelusur di punggungnya. “aku.. aku hanya ingin kau percaya padaku.” kata Key akhirnya, membalikkan tubuh Hyunki yang terasa kaku tak berdaya.
“Oh Hye Eun noona, nugu?” tanya Hyunki pada Key, terpancar sedikit keraguan.
Key bingung mau menjawab apa. dengan ekspresi yang agak takut ia mengangkat wajahnya, “dia.. sunbae-ku semasa SMP.” Kata Key. Didesahkannya nafasnya kuat-kuat, seolah meyakinkan diri sendiri bahwa cerita ini hanyalah bagian dari masa lalunya.
“sunbae?” Hyunki menatap Key heran. Ekspresinya tak tertebak, antara kelelahan, sakit, sedih, dan takut.
“dia.. dia noona yang membuatku terjatuh hingga harus di operasi. Maka dari itu selama ini aku hanya bermain dengan perempuan, tanpa merasakan perasaan khusus. Kau lah yang pertama, Hyunki.” Kata Key mencoba menelan bulat-bulat kenangan pahit itu. kini di depannya ada seorang gadis yang ia yakini bisa menjaganya sampai nanti dirinya sendiri tak bisa melakukan itu.
“kau percaya, kan? Selama ini aku melewati masa traumaku dengan sulit. Dimulai dari no social life sampai aku bisa berteman dengan laki-laki. Kupikir mungkin pada akhirnya aku tak akan jatuh cinta, tapi kau.. kau datang dan mengubah segalanya.” Kata Key berkaca-kaca, mengingat betapa susahnya ia merubah ketakutannya pada dunia luar.
Dengan mata nanar, Hyunki menghampiri Key, memeluknya agar air mata yang selalu membuat hatinya sakit itu tak jadi terteteskan. Dipeluknya Key yang sedang duduk di bangku pantry, sehingga dada Key tepat berada di kuping Hyunki, membuatnya bisa mendengar getaran itu, dentuman tulus yang ia yakin akan selalu ia percaya.
“kau tak mau bertanya siapa itu Thunder?” tanya Hyunki menjauhkan wajahnya dari tubuh Key yang bisa membunuhnya jika ia tetap memeluknya untuk 10 detik kedepan. Wanginya terlalu menggoda Hyunki untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak.
“aku percaya, kok kalau Thun..”
“dia adik dari teman kuliahku.” Kata Hyunki santai. Ditariknya kerah blazer Key dan disapukannya ciuman manis itu sekilas di bibirnya. “kau tak perlu takut aku akan meninggalkanmu. Kau satu-satunya yang bisa membuatku mati dengan pesonamu dan hidup kembali dengan desahan nafasmu. Aku tak bisa jauh darimu.” Kata Hyunki sekali lagi mencium bibir itu.
Tentu saja Key tak bodoh, ditangkapnya tubuh Hyunki dan diseretnya tubuh mereka berdua, seraya terus berciuman, ke atas kasur.
“aku.. punya.. kunci kamar hyung.. jika kau mau..” kata Key ditengah-tengah ciuman mereka.
“wait.” Kata Hyunki tiba-tiba, membuat Key yang berada di bawahnya terpaku heran. “kurasa, kurasa aku tak bisa.” Kata Hyunki kagok.
“wae?”
“aku.. aku.. aku sedang datang bulan. Ne, aku sedang datang bulan. Ah, lebih baik aku buatkan kau kopi lagi, ne?” kata Hyunki beranjak dari atas tubuh Key dengan ringan. Key hanya tertawa dalam hati. Ia yakin benar Hyunki tak sedang datang bulan, ia bisa merasakannya saat menggendong Hyunki tadi. Tapi satu hal yang Key yakini, bahwa memang tak semudah itu mendapatkan Hyunki seutuhnya.
Tapi Key yakin, suatu saat nanti, Hyunki akan menjadi miliknya, seutuhnya.
“igeo..” kata Key menyerahkan kotak kecil, membuat Hyunki yang sedang sibuk membuat kopi berbalik menatap key.
“mwoya igeo?” ditimang-timangnya kotak itu, terdapat bunyi dentingan kecil di dalamnya. Key beranjak dari tempat duduknya dan membuka kotak itu dihadapan Hyunki.
“mungkin kita tak bisa segila Jonghyun hyung dan Hyebin, menikah di usia segini, kita berdua masing-masing masih saling ingin mengejar karir.” Kata Key sambil menarik lembut gelang kaki itu dari dalam kotaknya. Terdapat suara gemerincing halus. “tapi sampai saat itu tiba, aku mau kau mengingatku di setiap langkahmu, dan berjalan kembali padaku saat kau yakin sudah harus kembali.” Kata Key merapikan rambut Hyunki, menyematkannya dibelakang telinga. “sampai saat itu, aku akan selalu menjadi tempatmu untuk mengadu, Hyunki-ya. Jadi tetaplah begini, tetap mencintaiku, dan berada di sisiku, ne?” kata Key. Hyunki nyaris meneteskan air matanya, kontan ia langsung menarik ujung blazer Key.
“how can i say no?” tanya Hyunki lagi, disambut dengan senyum manis Key. “tell how to say no!” kata Hyunki yang langsung dibungkam oleh ciuman manis Key.
“all you have to do is say yes.” Kata Key melanjutkan ciuman mereka
~~~
Like this:
Be the first to like this post.
my oxygens, YOUR COMMENTS!