Welcome!

7 07 2011

howdy!

 

Just going to say hi through this post to everyone who just open this blog. first of all, hello! I am rebecca, a highschooler and girl. go to page ABOUT OWNER if you want to know more about me and go to page FIND ME! if you want to talk to me in other site.

Like another site you ever visit, this private blog is also has some rules. well, its not a hard rule to do. let me tell you the rule.

  1. Leave a comment. I do need something like critics, suggestion and something more to make all my post getting better each time, right?
  2. Don’t Bash. don’t like, don’t see. I know its a bit hard because all of you have a pair of eyes. but please, did you ever think about people who you bashed?
  3. Don’t use rude nor inapproprate words nor tYp3 Lyk tHis. I’m just an innocent highschooler so, dont make this innocent mind of mine contaminated.
easy uh? I Know right? I already told you! :D
and see ya in every post of mine.
x.o.x.o
Owner,
Rebecca Mularia




[INFO] PRE-ORDER KE-4 KAOS MINOZINDO

3 06 2012

Reblogged from Minoz Indonesia:

PENGUMUMAN

Dear MINOZINDO,

Minozindo kembali membuka pemesanan kaos official Minoz Indonesia.

Kami ingatkan kembali bahwa ini merupakan PRE-ORDER, artinya: kalian pesan dahulu dan membayar dimuka. Setelah waktu pre-order ditutup, barulah kemudian kami membuat kaosnya.

TYPE: UNISEX (laki2/perempuan ukurannya sama]

Harga: Rp 75,000

Pre-Order: 2 – 15 Juni 2012

Pembayaran: 2 – 20 Juni 2012.

Read more… 171 more words





[Fanfics] Bad Romance – Part III

20 05 2012

Comment please. i still work on it. perhaps.. perhaps if fate let me, i would continue the story after my endterm test! by the way, if you forget how the story goes on last time, kindly visit the previous chapter here

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

length: wish its less than 10

E N J O Y !

“Jogi…” kata Hyebin ragu. “neoneun.. nuguseyo? (kau ini… siapa?)”

“Jonghyun.” Kata Jonghyun menyesap green tea di hadapannya. “anggap saja aku genie, atau blue fairy, atau apa saja. Aku bersedia menolongmu.” Kata Jonghyun dingin sambil meletakkan gelas besar itu ke tempatnya semula. Ia lalu berbalik menatap mata Hyebin dengan sorot ambisius.

“Jonghyun ahjussi, (Paman Jonghyun) aku tak mengerti…”

“Ahjussi? YA!” Jonghyun tersentak marah. “Kau kira berapa umurku? Aku masih 23!” katanya emosi.

“Mian. Keurae, Jonghyun-ssi.. (maaf. Lalu, Jonghyun-ssi)” Hyebin  meneguk lattenya cepat-cepat, mengusir takut.

“Aku mau membantumu, aku mau memastikan laki-laki yang baru saja membuangmu tadi itu menyesal.” Kata Jonghyun

“neon arra? (kau tahu?)” Hyebin tersentak kaget. “kau mengikutiku sedari tadi?” tanya Hyebin baru sadar akan keadaanya.

“ah, itu..” Jonghyun gelagapan, tak tahu harus menjawab apa.

“ahjussi, kau penguntit?” tanya Hyebin memastikan.

“ANI! ANIRAGO! (bukan! Bukan, kataku!)” Jonghyun mengelak. “Jessica, dia, er…” Jonghyun ragu perlu atau tidak menjelaskan statusnya. Toh ia sadar dari hatinya, tujuannya membantu gadis kecil di hadapannya ini bukanlah untuk membalas dendam pada Jessica. Ia sadar sepenuh hatinya detik dimana ia melihat Jessica mencium lelaki lain, hatinya kosong.

“Jessica? Geu yeoja? (wanita itu?) Ahjussi, jangan bilang kau naksir dia!” seru Hyebin tak percaya, ia bahkan menutup mulutnya seolah-olah perkiraannya barusan itu sama mengejutkannya dengan kabar bahwa Rihanna dipukuli oleh Chris Brown.

“Anni, babo! (bukan, bodoh!) aku ini mantan kekasihnya.” Kata Jonghyun yang langsung sadar bahwa ia telah salah langkah.

“ah, jadi ahjussi ingin membantuku balas dendam karena kepentinganmu sendiri?” kata Hyebin polos. Jonghyun masih sibuk mencerna kalimat barusan.

“Begini, aku tahu kau marah, kesal dengan perbuatan lelaki itu. mungkin sekarang di sudut hatimu sudah terselip rasa benci. Anggap saja aku juga begitu. Jadi apa yang kita lakukan adalah sama-sama untuk membalas dendam. Kau tahu? Dosanya bisa kita tanggung berdua! Kau dan aku bisa sama-sama menjadi partner in crime!” jelas Jonghyun panjang-lebar.

“dasar picik.” Gumam Hyebin.

“mwo? Terserah kau saja.” Kata Jonghyun putus asa, memutuskan tidak terlalu ambil pusing akan persepsi Hyebin terhadap dirinya. “jadi bagaimana? Kau takkan bisa membalas dendam tanpaku.” Kata Jonghyun dengan sebelah alis yang naik.

“Ahjussi, kau yakin?” kata Hyebin sambil merenung.

“YA! Aku bukan Ahjussi-mu! Sejak kapan aku menikah dengan Ahjumma mu?” seru Jonghyun.

“baiklah aku mau dibantu oleh Ahjussi.” Kata Hyebin seolah baru kembali dari alam lain, tak peduli dengan seruan laki-laki berbadan besar itu barusan.

“jeongmal?” kata Jonghyun tak percaya. Ia kira akan susah untuk meyakinkan gadis kecil ini, ternyata hanya dengan beberapa argumen, gadis ini sudah menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“ah, ahjussi..” panggil gadis itu lagi. Jonghyun menoleh, kembali ke alam nyata. “kau terlalu besar.” Kata Hyebin memperhatikan badan Jonghyun yang hanya ditutup kaus tanpa lengan dan cardigan tipis. “badanmu, terlalu besar. Seperti hulk. Menyeramkan.” Katanya lagi lalu mengambil tasnya dan pergi.

“YA! Dasar gadis kecil tak tahu terima kasih!”  geram Jonghyun setelah sadar akan sindiran gadis polos itu barusan.

~~~

“menurutmu, aku harus melakukannya atau tidak?” desah Hyebin pelan membuat Hyunki, sahabatnya itu menutup buku yang ditekuninya sedari tadi.

“kau kesini mau belajar atau tidak, sih?” tanya Hyunki gerah juga. Sudah berpuluh-puluh kali Hyebin, sahabatnya itu, bertanya padanya mengenai hal ini. “bukankah Jonghyun ahjussi-mu itu yang bilang kau hanya perlu berdandan cantik dan ikut dia ke reuni dan annual party universitas mereka? Bukankah itu sangat mudah?”

Hyebin membuka mulutnya, “Tapi, bagaimana kalau Minho oppa malah tak merasa bersalah, bagaimana kalau Minho oppa malah menganggapku gadis murahan? Bagaimana kalau..”

“If you don’t go for it, you’ll spend your rest life wondering ‘what if?’.” Kata Hyunki mulai membuka bukunya lagi. “lagipula, Minho-oppa mu itu sudah cukup bodoh telah meninggalkanmu. Kau juga sudah cukup bodoh mau dibodoh-bodohi olehnya selama ini. jadi aku harap kau jangan bertindak lebih bodoh lagi dengan melewatkan kesempatan emas ini begitu saja.”

“tapi aku belum pernah datang ke acara seperti ini…”

“selalu ada yang pertama untuk segalanya” bantah Hyunki santai.

“tapi aku tak tahu bagaimana caranya berdandan cantik.”

“banyak salon di Seoul.” Bantah Hyunki sekali lagi. Mulai sulit baginya untuk kembali konsen kepada bukunya.

“Aku tak punya uang..”

“ada aku!” seru Hyunki, geram akan tingkah sahabatnya. “ayolah, dua minggu lagi adalah tes masuk universitas. Aku butuh belajar ekstra keras untuk itu. bisakah kau diam dan membiarkan aku belajar malam ini? mumpung aku sedang berhasrat belajar.”

“dengan satu syarat!” tembak Hyebin dengan mata berbinar.

“apa?” tanya Hyunki ragu, firasatnya tak enak.

“ikut aku ke acara itu.” kalimat singkat yang sukses membuat pulpen yang dipegang Hyunki sedari tadi jatuh ke lantai.

~~~

“Minho-ya!” Key berusaha memanggil sahabatnya itu. “Ya, Choi Minho!”

Minho yang sadar di panggil bergerak ke sudut ruangan. Ballroom hotel tempat acara diadakan dipenuhi mahasiswa dan alumni beserta pasangannya masing-masing, membuat sesak terasa bagi Key yang memang tak terlalu suka acara terbuka seperti ini, baginya acara private bersama teman dekat jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada acara public begini.

“mana couple-mu?” kata Key menyindir Minho. Tentu saja yang ia maksud adalah Hyebin.

“Jagi~” sapa suara seorang perempuan yang berjarak beberapa meter dari mereka. Minho yang pertama menoleh, lalu disusul tatapan kesal dari Key karena telah mengganggu percakapan mereka.

Key tersentak kaget, terasa aliran darahnya berhenti beberapa saat. Yang ia lihat barusan adalah gadis pirang itu mencium singkat pipi Choi Minho. Ada apa ini?

“Jessica..” kata gadis itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Key, berkenalan.

“Jessica, dia.. naui yeochin (pacarku)” kata Minho singkat yang membuat dunia Key seakan runtuh. Ia tak percaya sahabatnya memutuskan Hyebin, gadis yang pernah mengusik hatinya semasa SMA dulu, untuk gadis seperti ini.

“kemari.” Kata Key tegas sambil menarik Minho menjauh dari Jessica.”kau kemanakan Hyebin?”

“dia.. nan molla(aku tak tahu)” ujar Minho singkat membuat emosi Key semakin melonjak naik.

“kau memutuskannya?” tanya Key masih tak percaya.

“dia tak sengaja melihatku dan Jessica saat kami berduaan di auditorium. Waktu itu Jessica menciumku dan…”

“sudah, tak usah dijelaskan bagian itu.” sela Key ketus, mengerti apa yang akan dikatakan Minho. “lalu apa yang terjadi?”

“dia bertanya sejak kapan aku berselingkuh, kujawab jujur, bahwa sekitar setahun lalu aku mulai dekat dengan Jessica. Lalu dia hanya bilang dia akan membuatku menyesal.”

“Cih, dasar bodoh!” kata Key tanpa berpikir panjang.

“mwo?” Minho kaget, baru kali ini ia melihat sorot mata Key yang sangat marah menatapnya.

“NEO! Neon babo namjaya! (kau lelaki bodoh!) bagaimana bisa kau membuang gadis polos itu? kau tak tahu kan aku sudah merelakannya untukmu?” kata Key melontarkan semua yang ada di otaknya.

“merelakannya untukku?” beo Minho, mencoba mencerna kalimat Key. “Jangan bilang selama ini kau menyukainya!” tegas Minho tak percaya. Key tertegun, sadar baru saja membuka kartunya.

Key sendiri tak mengerti apa arti perasaanya terhadap Hyebin. Dari saat pertama ia bertemu dengannya,ada rasa yang terselip di hati Key bahwa ia ingin melindungi gadis itu. Ia merasa senang hanya dengan melihat gadis itu berjalan dekatnya, atau hanya sekedar melihat gadis itu tertawa dengan teman-temannya.

“kau menyukainya?” tanya Minho sekali lagi, membawa Key kembali dari alam pikirnya.

“bukan urusanmu.” Kata Key lagi. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Hyebin. Ia yakin gadis itu sangat sedih telah kehilangan Minho, cinta pertamanya.

Key tahu benar bagaimana Hyebin menyukai Minho. Semasa SMA, setiap istirahat gadis itu dan beberapa temannya akan mendatangi kelas Key hanya untuk bertanya apa yang Minho suka, bagaimana harus mendekati Minho, bagaimana agar Minho tertarik padanya.

Yang Key tahu, ia harus menemui Hyebin sekarang juga.

Dan tak butuh waktu lama bagi Key untuk menemui Hyebin. Gadis itu sudah ada tak jauh darinya, tepat di depan pintu masuk ball-room.

~~~

a/n: ANNISA KIM ANDA PUAS? I AM WAITING FOR YA!





[Fanfics] Bad Romance – Part II

2 05 2012

Comment please. i still work on it. idk. need some moodbooster lately. thankyou!

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

length: wish its less than 10

OH AND BY THE WAY HAPPY HAPPY BIRTHDAY FELLA!!! MY BELOVED @nisanessa. sorry cant make yours tonight. wish it could hold your curiosity to read the others.

E N J O Y !

Jonghyun mengeratkan coatnya,  kembali menginjakkan kakinya di tanah Korea, di tempat yang sudah 3 tahun ia tinggalkan. Tempat dimana ia harus merelakan hatinya, keluarganya dan hidupnya hanya untuk perintah ayahnya.

3 tahun, 3 tahun sudah ia meninggalkan Universitas ini, tempat dimana ia hampir menyelesaikan kuliah musiknya, kalau saja bukan karena ayahnya yang tiba-tiba datang dan memaksanya kuliah bisnis. Tak tanggung-tanggung, ayahnya langsung mengirim Jonghyun ke China.

Dihirupnya udara itu dalam-dalam, mengisi rongga paru-parunya, berusaha mengingat setiap derap langkahnya di Universitas ini, setiap detik yang ia lewati, setiap cinta yang ia rasakan.

Jonghyun tersenyum lebar, sudah saatnya ia meraih kembali orang yang ia cintai. Sudah berpuluh gadis yang ia tiduri selama di China, berharap ia bisa merasakan kehangatan yang sama seperti ketika ia bersama dengan Jessica, kekasihnya itu. tapi tetap saja tidak bisa. Tak sedetikpun rasa bibir gadis itu enyah dari pikiran Jonghyun.

Jessica yang waktu itu adalah mahasiswi tahun pertama berjalan melewati koridor fakultas musik modern, membuat Jonghyun dan sekitar selusin lelaki lain yang ada di situ terpana melihatnya. Tak sampai 2 bulan ia bersekolah disitu, sudah 4 orang lelaki dibuatnya patah hati. Sampai suatu hari Jonghyun datang menolongnya yang baru selesai merapikan studio tari. Segalanya berubah, Jessica terus mengisi harinya. Jonghyun menutup kuping akan segala gosip yang beredar, bahwa Jessica berpacaran dengannya hanya untuk hartanya, bahwa Jessica bermain dengan lelaki lain dibelakangnya. Jonghyun percaya dirinya lebih mengenal Jessica dibanding siapapun di kampus ini.

Dicarinya gadis berambut pirang itu ke seluruh penjuru kampus, mulai dari fakultas gerak dan tari sampai ke fakultas akting dan penyutradaraan, tapi nihil, Jessica tak dapat ia temukan.

Sampai pada lantai empat, lantai paling atas dari gedung majoring Seni. Dibukanya ruang kelas satu-persatu yang rata-rata kosong karena jam pelajaran memang sudah selesai.

“aku.. aku bisa jelaskan, Hyebin.” Kata seorang laki-laki dengan suara beratnya. Samar-samar Jonghyun bisa melihat seorang gadis kecil yang dipanggil Hyebin itu di ujung pintu. Siluetnya dengan jelas menggambarkan bahwa gadis itu menahan air matanya, memutar otaknya untuk memutuskan mendengar penjelasan si lelaki bodoh itu atau tidak.

“jelaskanlah.” Kata gadis itu singkat sambil berbalik ke arah auditorium.

Bodoh, dasar gadis bodoh. Siapapun lelaki itu, ia sudah membuatmu menangis, ia tak pantas mendapatkanmu, pekik Jonghyun dalam hati. Disembunyikannya tubuhnya dibalik pot besar yang tak jauh dari situ.

“aku.. Jessica..” kata suara berat itu lagi. Jonghyun nyaris tersedak. Tak mungkin ada Jessica lain di kampus ini. ia yakin Jessica yang dimaksud laki-laki itu adalah..

“sudah sejak kapan?” kata gadis itu lagi dengan suara tercekik, menahan tangisnya.

Bodoh, kau tak butuh tahu kapan ia berselingkuh. Buang ia, dasar gadis bodoh.

Jonghyun tak kuat lagi mendengar semuanya. Ia tahu dirinya sendiri sudah jahat dengan meniduri gadis-gadis lain di China, tapi bukan ini yang ia harapkan ketika kembali ke Korea. Ia ingin melihat Jessica yang polos menunggunya, mengatakan bahwa ialah yang pertama dan terakhir. Egois memang, tapi itulah dirinya.

“akan kubuat kau menyesal.” Pekik gadis kecil itu pelan, namun membuat Jonghyun kembali ke alam sadarnya. Ia sudah lupa sakit hatinya akan Jessica. Jauh dari dalam, hatinya terasa hancur melihat gadis itu menahan air matanya.

Hening, untuk beberapa saat tak ada yang bergerak. Hingga beberapa detik kemudian Jonghyun melihat Jessica melangkah dan membisikkan sesuatu ke telinga laki-laki itu. hatinya marah, bagaimana bisa laki-laki ini tak mengejar gadis yang baru saja dibuatnya menangis itu?

Jonghyun mengambil tas sandangnya yang sempat terjatuh. Ketika sampai di pintu auditorium, Jonghyun berhenti sebentar, tertangkap oleh sudut matanya Jessica menciumi leher laki-laki itu dengan ganasnya.

“akan kupastikan gadis itu membuat kalian menyesal.” Kata Jonghyun singkat, membuat Jessica sadar akan kehadirannya.

“oppa?” kata Jessica kaget, merapikan pakaiannya.

“tak usah dirapikan, bagaimanapun kau menutup dirimu dengan pakaian ditubuhmu, bagiku semua kebusukanmu sudah terbuka.” Kata Jonghyun dengan entengnya. Sakit memang rasanya, tapi di sudut hatinya, ia merasa bahagia bisa membuang wanita yang pernah mengisi hatinya itu.

~~~

“Eomma, aku pulang.” Kata Hyebin lemas ketika ia sampai di rumah. Dilepasnya sepatunya asal dan dibukanya pintu

“eung~ kau bersama dengannya?” tanya eomma Hyebin mengangkat kepalanya dari tumpukan kimchi setengah jadi. Dilepasnya sarung tangan karet itu lalu menghampiri orang yang tadi di tunjuknya. “kau.. bersama dengan laki-laki ini?”

“namja? Nugu? (lelaki? Siapa?)” kata Hyebin tak jadi masuk ke dalam rumah ditolehkannya kepalanya ke belakang, dan disanalah ia melihat sesosok lelaki yang tampak lelah, lelaki yang tak asing lagi wajahnya, tapi tak bisa diingat namanya oleh Hyebin.

“Anyeonghaseo Ahjumonim, (halo bibi,)” kata lelaki itu menggantung. “aku ada keperluan dengannya.” Katanya dengan sopan menunjuk Hyebin. Eomma Hyebin langsung tersenyum sumringah melihatnya.

“aigooo (ya ampun) tampan sekali! Hyebin-ah, cepat ganti bajumu! Laki-laki ini ingin mengajakmu keluar.” Kata Eomma Hyebin bersemangat. Belum sempat Hyebin bergerak, eommanya sudah menarik lengannya dan membawanya ke pintu gerbang, tempat dimana Jonghyun berdiri. “ah, sudahlah, igeo! (ini)” Eomma Hyebin tampak mengambil beberapa won dari kantung bajunya. “ambil saja, rumah kami berantakan, jadi kalian ngobrol di luar saja, ne?” Senyum Eomma Hyebin singkat, membuatnya tampak lebih muda beberapa tahun. Ditariknya lengan kedua anak muda di hadapannya dan ditutupnya gerbang kecil itu.





[FANFICS] The Honey Moon

1 05 2012

Genre: idk (imma failed)

length: oneshot

cast: Kim Jonghyun, Kim Kibum, Hyebin, Hyunki, Thunder

kindly check the first and second story written by Annisa Sekar Sari—> [Fanfics] Romantic ; [Fanfics] Do You

 

“Ya~” kata Hyebin manja. “gomawo (terima kasih)”

“aku yang harusnya minta maaf.” Kata Hyunki dari seberang telepon. “aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Tak bisa menemanimu selama honeymoon kalian.”

“tapi kau yang membuat Jonghyun melamarku.” Kata Hyebin singkat. Pipinya memerah ketika otaknya memutar ulang kejadian itu, saat dimana Jonghyun melamarnya.

“so…” kata Hyunki menggantung.

“jadi aku mau berterima kasih.” Potong Hyebin dengan senang.

“ah jagi, ppali. (honey, cepat.)” samar suara seorang dibelakang.

“geu namja, nugu? (laki-laki itu, siapa?)” tanya Hyebin, clueless.

“ige.. ige Key-iyeyo. (ini.. ini Key)” kata Hyunki “hold on… hold on, jagi.” Kata Hyunki kepada Key yang sudah menunggunya di atas kasur.

“mwo? Kau dan Key? Jam tiga subuh? Sedang apa kalian?” tanya Hyebin khawatir.

“kami habis mengunjungi restoran salah satu temannya. Dengan bodohnya ia minum anggur disana, padahal jelas-jelas ia belum makan.” Kata  Hyunki setengah kesal. Key benar-benar merepotkannya malam ini. dalam keadaan kelaparan Hyunki harus membawa Key yang setengah mabuk dengan mobilnya. setelah sampai di dorm mereka, tak ada yang membuka pintu. Setelah di konfirmasi ke Onew, ternyata hanya Minho yang ada didalam, yang sudah pasti sedang tertidur pulas.

“kau tak mengantarnya ke dorm?” kata Hyebin masih tak habis pikir.

“minho sudah tidur. Jinki oppa dan Taemin sedang shooting malam.” Kata Hyunki singkat. “sudah, ya. Tenang saja, aku percaya kok Key itu laki-laki baik. Dia tidak akan bermacam-macam denganku. Kau tidur dulu sana. Jonghyun pasti sudah menunggumu di kasur.” Kata Hyunki cepat. Hening seketika, tak ada diantara keduanya yang mau menutup sambungan telepon itu.

“Hyunki-ya,”

“Hyebin-ah,”

Keduanya mengulum senyum seraya mendengar satu sama lain memanggil nama sahabatnya masing-masing.

“kau dulu.” Kata Hyunki memecah keheningan.

“aku.. aku hanya mau bilang..” Hyebin mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk sahabatnya itu. “aku hanya mau bilang, aku senang melihatmu seperti ini. stick to one guy.” Kata-kata Hyebin meluncur mulus dari bibirnya. “dan, kau tahu kan batas-batasan dalam pacaran?” tanya Hyebin memastikan sahabatnya ini masih cukup waras untuk tak berbuat apa-apa.

“Hyebin darling, chill. We wont to anything. Biarpun Key itu half-western, tapi kami berdua masih sama-sama Asian. Masih tahu bagaimana cara membedakan pacaran dan lebih dari pacaran.” Kata Hyunki yang disambut desahan lega dari Hyebin.

“dan menurutku…” kata Hyunki kembali ke topik pembicaraan. “Hyebin, kalian sudah menikah. Aku tahu pasti sulit bagimu untuk terbuka kepada suamimu itu, tapi tetap saja, dialah yang bertanggung jawab akan seluruh hidupmu, tiap detik di tiap harimu. Jadi kau tak bisa lagi berlari kepadaku ketika ada masalah. Jonghyun yang akan ada di sebelahmu mulai sekarang.” Kata Hyunki, mendadak merasakan sedih menyergap dadanya. “tapi tentu saja aku akan selalu berada di samping Key. Jadi kalau kau butuh aku, kau tahu kan harus mencari aku kemana?” kikik Hyunki pelan, mencairkan suasana.

Hening kembali menyergap, keduanya sibuk akan pikiran masing-masing, memutar lagi setiap kenangan yang mereka lewati bersama

“Sudah, kau lebih baik pergi menemui Jonghyun-mu itu. jangan pura-pura bodoh. Aku mendengar semua percakapan Key dan Jonghyun. Kau menolak untuk melakukannya dengan Jonghyun, kan?” tembak Hyunki tepat sasaran. Memang sebenarnya inilah alasan Hyebin menelepon Hyunki di pagi buta begini, ia mau menghindari Jonghyun.

“a.. anni! Annirago!” bantah Hyebin gagap.

“cih, sudahlah. Aku lebih baik berurusan dengan Key daripada denganmu.” Kata Hyunki memberi penekanan pada kata ‘berurusan’ lalu dengan seenaknya menutup telepon.

Cih, benar-benar sudah terpengaruh dengan Key. Tingkahnya sudah seperti Kim Brothers ini. suka seenaknya, pikir Hyebin.

“Aegi-ya..” sapa suara seorang lelaki dari belakang. Saat Hyebin berbalik, dilihatnya Jonghyun dengan kaus longgar dan celana pendek selututnya mendekati Hyebin yang duduk di sofa. Dari belakang, Jonghyun meremas pelan pundak Hyebin, seolah memberi kenyamanan yang nyaris membuat Hyebin terbuai oleh sentuhan jari-jarinya. “sudah siap, besok?” tanya Jonghyun singkat.

“eung. Semua sudah masuk koper.” Kata Hyebin singkat, takut salah bicara.

“sudah larut, sebaiknya kita tidur.” Kata Jonghyun lagi. Hyebin meremas kuat handphone di tangannya, berusaha mencari alasan untuk menghindar.

“ah, ne, aku baru ingat!” kata Hyebin menyentak tangan Jonghyun dari bahunya. “aku.. masih ada baju yang belum kumasukkan ke koper. Kau tidur duluan saja. Aku mau mengambil baju itu dulu.” Kata Hyebin dengan jantung berdetak layaknya genderang perang.

Jonghyun terduduk lemas di sofa yang baru saja ditinggalkan Hyebin. Selalu saja begini. 4 hari lalu, ketika hari pernikahan mereka dilangsungkan dan seharusnya mereka terbang ke Prancis menempati suit di hotel mewah yang sudah di sediakan Hyunki, tiba-tiba saja Hyebin terjatuh pucat di ruang imigrasi yang ternyata karena perutnya sakit. Panik, Jonghyun membawanya keluar dari bandara Incheon menuju rumah sakit ibunya Key. Bodohnya, setelah diperiksa, sakit itu hanyalah karena Hyebin datang bulan.

Memang Jonghyun tak tahu seberapa sakit hal itu, tapi bukankah datang bulan hal yang lumrah bagi wanita?

Setelah itu mereka harus menunggu penerbangan selanjutnya ke Paris yang available, dan itu adalah hari ini.

Harapan Jonghyun, selama 4 hari menunggu di rumah, mereka bisa melangsungkan ‘honey moon’ mereka dulu disini. Ia tak munafik. Dirinya adalah lelaki normal yang juga ingin memiliki istrinya itu seutuhnya. Ia ingin diyakinkan dan meyakinkan Hyebin bahwa istrinya itu adalah yang pertama, dan satu-satunya. Tapi selalu saja ada alasan Hyebin untuk berkelit dari kewajibannya itu. entah ia harus menulis, atau membersihkan kamar mandi, atau bertelepon dengan Hyunki…

“Ah, nan molla!” desah Jonghyun keras lalu menyeret dirinya sendiri ke kamar tidur.

“JALJA!” teriak Jonghyun dalam kamar yang terdengar samar oleh Hyebin yang menyembunyikan dirinya di kamar mandi belakang.

“mianhae, Jonghyun-ah.”

~~~

“Semua sudah, kan?” tanya Jonghyun sekali lagi memastikan. Dipakainya aviator Tommy Hilfiger pemberian Key untuk menyembunyikan mata super bengkak nya karena kurang tidur. Disebelahnya, Hyebin sedang mengecek isi tas tangannya. Terlihat sedikit kucel karena tampaknya ia juga kurang tidur.

“seharusnya sudah. Ayo!” kata Hyebin menarik tangan Jonghyun untuk melewati pintu ruangan bersama sebelum langkah mereka dihentikan oleh suara seseorang.

“GUYS!” seru suara itu mengagetkan Hyebin dan Jonghyun dari belakang.

“MWO?” Jonghyun yang pertama kaget. Mau apa gadis itu disini? Di tempat ini? apa ia akan ikut kami ke Paris? Berjuta pertanyaan muncul dari otak Jonghyun.

“Guess what?!” tanya Hyunki, lebih tepatnya menyuruh.

“are you going with us?” tanya Hyebin dalam bahasa Inggris. Biarpun Jonghyun bodoh dalam bahasa Inggris, tapi ia tahu ini pasti berarti… bencana!

“Awesome, right?” pekik Hyunki riang yang disambut pelukan ringan oleh Hyebin di leher sahabatnya itu.

Yeah, tentu saja Hyebin senang. Ini bisa menjadi liburan yang menyenangkan bagi Hyebin dan Hyunki. Sementara aku? Hanya menjadi obat nyamuk. Keluh Jonghyun dalam hati

“why so sudden? Aren’t you with Key last night?” tanya Hyebin pada Hyunki sambil menariknya untuk duduk di boarding room, menunggu untuk kedatangan pesawat sekitar 30 menit lagi.

“who? Key? Who is he?” balas Hyunki acuh tak acuh.

“kalian bertengkar?” tanya Jonghyun, tepat sasaran.

“Shut up!” seru Hyebin dan Hyunki berbarengan. Jonghyun kaget sampai harus menyenderkan punggungnya ke belakang.

“you know, you can tell me anything if you want.” Ujar Hyebin santai sambil bersiap-siap memasang headphone ipodnya.

“wait.” Cegah Hyunki. “dia, lelaki itu..”

“Key itu lelaki?” kata Jonghyun sekali lagi, usil.

“Shut up!” sekali lagi, seru Hyebin dan Hyunki berbarengan.

“lelaki itu, kami.. aku dan dia… semalam…”

“OMO!” sela Hyebin di tengah cerita Hyunki. “bukankah kau bilang kalian tahu batas-batas berpacaran?”

“Anni, kami tak melakukan apa-apa. makanya dengarkan aku dulu.” Kata Hyunki kesal. Nyaris saja ia menjitak kepala sahabatnya itu kalau saja salah satu pramugara imut yang baru saja lewat itu tidak melihat ke arahnya. “dia mabuk, lalu kubawa ke flat ku. Dia tak sadar dan mulai membuka bajunya sendiri, mungkin kepanasan, lalu tertidur di kasurku…” kata Hyunki menerawang, mengingat bagaimana manisnya nyanyian Key semalam saat ia mabuk.

“oh, thank God kalian tak melakukan apa-apa.” kata Hyebin mendesah lega. “lalu kenapa kau disini?”

“lalu pagi-pagi benar ketika aku bangun untuk mengeceknya, dia sudah pergi.” Kata Hyunki mendesah kecewa. Jonghyun menggeleng-geleng tak percaya. Masalah sesepele ini saja bisa membuat wanita kelimpungan.

“tak ada kabar? How dare he is!” geram Hyebin tertahan, membuat Jonghyun nyaris tertawa karena ekspresinya seperti anak umur lima tahun yang permennya diambil.

“hanya ada sebuah post it menempel di segelas coffee americano di meja pantry-ku.” Kata Hyunki seraya menyerahkan selembar post-it kuning dengan tinta pink ke tangan Hyebin.

Sweetie, i cant make it with you today, I’m sorry.

I have a schedule to be caught, my practice for the musicale.

I’m afraid other artiste and the director will wait for me, so I go first.

Love you.

“bitch, right. Dia lebih memilih pekerjaannya itu daripada aku?” kata Hyunki sedih tepat ketika Hyebin selesai membaca pesan singkat itu.

“ladies,” Jonghyun berdeham mencoba memanggil kedua wanita di depannya itu. Hyunki dan Hyebin sontak terpana akan pelafalan bahasa Inggrisnya yang cukup sexy. “we better catch the flight first if we dont wanna wait for the other 4 days.”

“OMO!” seru Hyunki cepat sambil mengambil tas tangannya dan mengejar Hyebin yang sudah ditarik oleh Jonghyun ke dalam pesawat.

~~~

Tok-tok-tok!

Suara ketukan pintu terdengar membahana di seluruh ruangan. Jonghyun tak mempedulikannya. Setelah hampir seminggu ia menunggu, ia tak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Ditelusurinya leher Hyebin itu sekali lagi dengan bibirnya, lalu diciumnya lembut bibir Hyebin.

Tok-tok-tok!

Jonghyun masih mengabaikannya. Jonghyun harus menyelesaikan semuanya malam ini, atau mungkin ia akan mati penasaran karena harus menunggu di sisa hidupnya untuk kesempatan ini.

“ya..” ujar Hyebin menahan dada Jonghyun. “buka saja dulu pintunya. Siapa tahu itu Hyunki yang butuh bantuan.” Kata Hyebin sambil mengatur nafasnya.

Dengan kesal, Jonghyun mengambil kausnya yang tergeletak di lantai dan memakainya sembarang.

Tok-tok-tok!

“sabar!” gertak Jonghyun kesal. Dibukanya pintu itu kasar dan di hadapannya kini berdiri sesosok lelaki berambut pirang. Keringat dingin jelas menetes di dahinya. Matanya mencari ke segala arah, panik.

“mana Hyunki?” tanya Key memaksa masuk yang langsung saja di tahan oleh lengan besar Jonghyun. Kaget, Hyebin yang hanya memakai kemeja tipis menyembunyikan dirinya dibalik selimut, menahan senyum karena Key adalah penyelamatnya saat itu. tangannya bergetar hebat, menahan segala adrenal yang memacu ke jantungnya.

“kau mencari wanitamu?” kata Jonghyun ringan. “ah, kalian ini, yang benar saja!” Jonghyun mengeluh ringan lalu mengambil ponsel Hyebin, membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Hyunki. “dia ada di kamar 7 lantai 18. Silahkan kau pergi ke sana.” Kata Jonghyun dengan nada mengusir.

“Hyung,” tahan Key sebelum Jonghyun menutup pintunya. “gomawo, have a good night!” kata Key sambil tersenyum menyindir, lalu pergi menghilang dibalik pintu lift.

“michineom (orang gila.)” kata Jonghyun menyeret lagi tubuhnya ke tempat tidur. Disana, dilihatnya Hyebin sudah terbaring menyamping menutup matanya. Jonghyun tahu benar, Hyebin pasti belum tidur. Nafasnya belum teratur, tak seperti biasanya ia tertidur.

“Good night, aegi.” Kata Jonghyun sambil menutup tubuh istrinya itu dengan selimut dan mengecup pelan bahu istrinya dari belakang. Dirasakannya Hyebin sedikit tersentak, namun kembali terdiam. Jonghyun hanya dapat mendesah keras.

Sehari lagi, Jonghyun yakin ia hanya perlu menunggu sehari lagi.

~~~

“Oh, kalian sudah bangun. Bagaimana semalam?” tanya Hyunki sambil mengoles butter ke atas rotinya, menyambut Jonghyun dan Hyebin yang baru saja memasuki cafe yang ada di dekat hotel dimana mereka tinggal. Arsitektur cafe yang sangat ‘Paris’ membuat Hyunki betah berlama-lama disini, menjajal kemampuan kameranya. “cepat duduk, aku sudah pesankan breakfast.” Kata Hyunki menarik Hyebin duduk di sebelahnya. Mau tak mau, Jonghyun harus duduk di seberang Hyebin.

“may i join?” suara seorang lagi terdengar samar di telinga Hyunki. Dengan sekali gerak, Hyunki menjatuhkan bread-butter-knife nya dan melirik tajam ke arah sang suara. Key.

“disini masih kosong.” Kata Jonghyun sambil menepuk acuh bangku diantaranya dan Hyebin. Dengan santai Key duduk dan memainkan handphonenya. Posisi duduknya kini Hyebin—Hyunki—Jonghyun—Key. Sehingga Hyebin dan Jonghyun saling berhadapan, begitu juga Key dan Hyunki.

“setidaknya semua orang disini masih tau sopan santun, tak bermain handphone disaat makan.” Kata Hyunki menyindir Key. Sadar disindir, Key memasukkan handphone-nya dengan acuh ke dalam kantung blazernya.

“apa yang membuatnya kesini?” tanya Hyunki, lebih kepada Hyebin.

“aku sendiri pergi kesini atas dasar ketidak-tahuan. Tidak tahu mengapa wanita yang kucintai tiba-tiba merusak acara honey-moon sahabatnya.” Kata Key sambil menopangkan dagu ke atas sikunya yang ditaruh di meja, menatap lurus ke dalam mata Hyunki, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

Hyunki melengos, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“what do you want to order, sir?” tanya seorang pelayan dengan kemeja putih dan vest hitamnya.

“a glass of whisky and slice of bread is enough.” Kata Key sambil memijat keningnya. Iya ingat bagaimana sejarahnya ia bisa sampai disini.

Dua hari yang lalu ia masih berada di flat milik Hyunki, membawa sekantung penuh berisi popcorn dan beberapa keping dvd yang rencananya akan mereka tonton malam itu. tapi begitu berhasil masuk, tak ada seorangpun yang dapat ia temukan. Key mencoba mengecek ke lemari pakaian dan benar saja, pakaian musim panas Hyunki sudah tak ada semua. Kopernya pun hilang, membuat Key yakin gadisnya itu sedang menyusul Hyebin dan Jonghyun.

Setelah 14 jam penerbangan yang melelahkan akhirnya semalam ia bisa check in, sengaja mengambil kamar yang berada tepat di sebelah kanan Hyunki. Sekarang yang ia inginkan adalah sebuah pain killer, penghilang rasa pusing yang luar biasa menusuk kepalanya.

“michigesseo? (apakah kau gila?)” Jonghyun yang pertama kali mengembalikan Key ke alam sadar. “Whisky? Jam 8 pagi? Kau sehat, huh? Kau mau merusak dirimu?” kata Jonghyun lagi.

Lama semuanya terdiam, Key hanya menatap Jonghyun dengan pandangan yang sulit dijelaskan. “aku lelah, Hyung.” Desah Key pelan, terpancar nada lelah dan sedih didalamnya membuat sesuatu di sudut hati Hyunki terasa perih.

“one whisky and a slice of bread with butter and cheesse. Have a good day.” Kata pelayan itu berlalu.

“oh, my bad. Is this a glass of whisky?” tanya seseorang saat Key baru saja mengangkat gelas itu, hendak meneguknya. Tampaknya ialah manager cafe itu. ia hanya mengenakan selembar kemeja putih tipis yang membuat kulitnya bercahaya ketika diterpa sinar matahari, dan selembar celemek hitam dilingkarkan di pinggangnya. “I apology for my steward. He isnt supposed to give you a whisky in this early morning. Let me grab you something lighter. Maybe a champagne…” kata laki-laki itu sambil mencoba berbalik menuju tempatnya menyimpan wine.

“omo, Thunder? Is that you?” kata Hyunki terkejut sedetik setelah ia melihat wajah si manajer cafe. Sontak ia berdiri dan memperhatikan wajah itu sekali lagi.

“neo.. noona? Hyunki noona?” Thunder mengembangkan seberkas senyum di bibirnya. Ia mengenal Hyunki sebagai teman sekolah Sandara, noona kandungnya, di sekolah fashion dulu.

“Oh, Thunder!” kontan saja Hyunki langsung menghambur memeluk Thunder. Sudah lama ia tak mengomeli bocah yang ia anggap sebagai adiknya itu.

“oh, noona, gidarijuseyo. (tunggu sebentar). Aku akan ambilkan something lighter than this untuk temanmu, ne? Kita tak mau merusak lambungnya, kan?” kata Thunder manis lalu menghilang dibalik pintu dapur.

“akrab sekali?” lirik Key tajam ke arah Hyunki. Kepalanya terasa berat, bagai beribu Jonghyun ditimpakan ke atas kepalanya. Tapi ia ingin tahu lebih mengenai lelaki ini dan Hyunki.

“kenapa? Dia memanggilku noona. Jelas saja kami akrab.” Kata Hyunki ketus.

“bukannya kau anak tunggal? Sepupumu?” tanya Jonghyun.

“kedua orang tuaku juga anak tunggal, dia bukan sepupuku.” Kata Hyebin meneguk sekali lagi teh tawar di gelasnya. Tak lama, laki-laki bernama Thunder itu muncul sekali.

“i bring this one. Pinot Noir 1993. Masih baru, tak terlalu asam biarpun alcoholnya lumayan tinggi. Cobalah. Ini jauh lebih ringan daripada whisky.” Kata Thunder berbinar. Dengan acuh Key menolaknya.

“ambilkan aku segelas Coffee Americano saja.”

“kami tak menjualnya disini, sir. Sangat susah bagi produk America untuk masuk ke Eropa.” Kata Thunder menjelaskan. Hyunki tersenyum bangga.

“aigoo~ pintar sekali!” katanya sambil mengelus puncak kepala Thunder singkat. Key merasa dadanya berdesir, tak rela.

“YA!” teriaknya tak kuat menahan emosi. Hyunki dan Thunder serta Hyebin dan Jonghyun yang masing-masing sedang sibuk dialihkan perhatiannya oleh suara itu. Thunder yang mengerti keadaan langsung saja memohon diri untuk kembali ke dapur.

Hening sejenak, angin semilir di musim panas mengantar hawa hangat menyergap ke tubuh mereka berempat. Semua tak terkecuali Key mulai merasa keringat. Angin berhembus seolah mempermainkan orang-orang disana, memberi kesejukan semu.

“jadi… kau kesini untuk apa Key?” tanya Jonghyun kembali mencoba mencairkan suasana.

Key mengangkat gelas kopinya yang baru saja datang, menyesap aromanya mencoba menenangkan pikirannya. “sudah kubilang, kan? Aku ingin menemui orang yang berhasil membuatku jatuh cinta. Cinta kedua dalam hidupku.” Kata Key sambil menatap serius ke arah Hyunki. Dengan angkuhnya Hyunki menatap ke luar jendela.

“cinta kedua?” Jonghyun bertanya memastikan, mencoba mengingat perkataan-perkataan Key di masa lalu. “OMO! Jangan bilang kau sudah bisa melupakan Oh Hye Eun Noon…” Jonghyun berhenti bicara sebentar, ia sadar ia telah salah bicara.

“sebaiknya, kami pergi duluan, ya.” Kata Hyebin hendak menarik lengan Jonghyun.

“anni, tak usah. Aku saja yang pergi. Kalian lanjutkan saja sarapannya.” Hyunki menenggak ludahnya banyak-banyak, mencoba membuat tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering dan perih itu lebih nyaman. Ditahannya rasa panas di kedua kelopak matanya, lalu menghilang di balik pintu.

“sebenarnya apa sih, yang salah?” tanya Key frustasi, ia tak mengerti apa yang membuat kekasihnya itu bersikap aneh.

“kau meninggalkannya di pagi buta untuk pekerjaanmu.” Terang Hyebin membuat Key berpikir.

“that’s not a big deal!” seru Key tak percaya.

“tapi itu masalah besar buat para wanita.” Kata Jonghyun sekenanya.

“intinya, itu berarti kau lebih memilih pekerjaanmu daripada Hyunki. Mana ada wanita yang mau diduakan, bahkan oleh pekerjaan pasangannya sendiri?” kata Hyebin, sambil menyindir Jonghyun.

“ck! Sudah kuduga tak seharusnya aku berbohong hari itu.” desah Key putus asa.

“jadi kau berbohong waktu itu?” tanya Hyebin gusar.

“nanti saja aku jelaskan. Sekarang aku harus mengejarnya.” Kata Key, berlari menuju pintu cafe. Begitu didengarnya denting bel dari atas pintu, ia baru teringat sesuatu. Segera disusurinya lagi cafe itu menuju meja dimana Hyebin dan Jonghyun masih tinggal.

“Hyung, mana kunci kamarmu?” todong Key.

“MWO?” sahut Hyebin dan Jonghyun bersamaan, kaget.

“ppali. Aku butuh sekarang. Akan kukembalikan utuh, mungkin hanya sedikit berantakan.” Kata Key dengan smirk nakal di wajahnya.

“tunggu.” Hadang Hyebin saat tangan Jonghyun hendak memberikan passcardnya. “Hyunki.. dia tak akan mau melakukannya. Dia sudah berjanji padaku, dia…”

“sudahlah,” kata Jonghyun ikut berdiri, menyerahkan kartu itu ke tangan Key. Bocah itu berlari dengan girang lalu melambaikan kartu itu tanda terimakasih. “we wont use it anyway.” Kata Jonghyun singkat, terselip nada kekecewaan pada perkataanya.

“mianhae…” kata Hyebin lagi, duduk tertunduk, menghindari tatapan Jonghyun.

“gwenchana..” susul Jonghyun duduk di sebelah Hyebin, menepuk pundaknya seolah mengerti. “aku mau menunggumu kok. Yang perlu kau lakukan adalah… mencoba jujur padaku. katakan apa yang mau kau katakan. Kau tak perlu berpura-pura tidur atau kabur ketakutan. Aku tak mau menjadi menakutkan untukmu.” Kata Jonghyun lagi membuat Hyebin merasa dirinya jatuh semakin dalam. Bagaimana mungkin dirinya bisa membuat lelaki sebaik Jonghyun menunggunya?

“mungkin.. mungkin sebentar lagi. Mungkin kau harus menunggu sebentar lagi. Maafkan aku.” Kata Hyebin sambil mengangkat wajahnya, tepat saat Jonghyun berusaha menatap matanya. “bantu aku.. bantu aku agar aku…” Hyebin berusaha mencari kata-kata yang tepat. Tapi tak ditemukannya. Ia tahu di sudut hatinya kini ada sebuah perasaan yang tak terkatakan bahkan oleh beribu kata.

“kau tahu aku selalu ada di sampingmu.” Kata Jonghyun menggiring Hyebin ke pelukannya, meyakinkan Hyebin bahwa Jonghyun akan melewatinya bersama Hyebin.

~~~

Tok-tok-tok!

Dengan pelan Key mencoba mengetuk pintu itu, tak ada balasan.

Tok-tok-tok!

Sekali lagi Key mengetuk dengan pelan, dirasakannya langkah kaki mendekat dan lubang di depan matanya—tempat tamu yang berada di dalam kamar bisa melihat siapa yang datang—membentuk bayangan bergerak.

“mau apa kau kesini?” tanya Hyunki membuka pintunya sedikit. Keadaannya kacau sekarang. Tak pernah ia menemui seorang lelakipun dengan wajah polos tanpa make up begini.

“mau bertanya..” kata Key masih mengatur nafasnya yang tersengal setelah lari dari cafe kesini.

“bertanyalah.” Kata Hyunki acuh.

“tak bisakah aku masuk?” kata Key seraya menatap mata Hyunki, memohon. Mata itu, mata yang selalu berhasil menangkap perhatiannya yang habis untuk hal lain. Mata yang selalu berhasil memindahkan roh Hyunki ke tempat lain untuk sementara waktu. Mata yang selalu membuat Hyunki dapat merasakan dunia yang berbeda, dunia yang tak pernah dirasakannya.

“come in.” Kata Hyunki singkat dan membawanya masuk ke pantry. Single president room itu terlihat nyaman biarpun hanya berisi satu single bed, sofa putih kecil, seperangkat tv dan dvd, serta pantry kecil. “mau minum apa?” tanya Hyunki ramah, detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sedang melancarkan aksi marahan dengan Key.

“eh?” Key kaget akan keramahan Hyunki yang tiba-tiba. “kopi, kalau ada. Jet lag ini bisa membunuhku lama-lama.” Kata Key duduk di salah satu bangku sementara Hyunki membuka laci-laci pantry, mencari keranjang kecil dimana buttler hotel biasa menaruh kopi, teh, gula dan kawan-kawannya.

Tangannya terhenti di udara seketika melihat keranjang itu. isinya hanya tinggal dua bungkus Coffee Americano. Semua isi keranjang itu memang sudah habis menemani malamnya yang lalu. Entah itu teh, kopi, creamer, semua ia aduh di gelasnya satu-persatu. Yang tersisa hanyalah dua bungkus Coffee Americano instan ini, dua bungkus yang ia harap tak perlu ia minum.

“igeo..” kata Hyunki menyerahkan gelas itu. diperhatikannya Key menyesap kopinya lalu menutup rapat matanya, seolah menyembunyikan sebuah kesakitan yang amat sangat. Hyunki sendiri merasa ada yang salah, tapi egonya lebih tinggi untuk sekedar bertanya keadaan Key.

“geu namja, nugu?” tanya Key masih sambil menutup matanya. Saat itu juga Hyunki ingin menangis. Baru kali ini laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh ke dalam pesonanya itu terlihat sangat redup, tak hangat memancarkan sinarnya.

“dia memanggilku noona. Jadi…”

“nugu?” tanya Key sekali lagi. Kini matanya terbuka lebar. Terdapat lingkaran hitam dibawah matanya. Pendar yang biasanya bercahaya kini hilang. Tapi entah mengapa ada kekuatan besar yang seolah menekan Hyunki saat manik mata mereka bertemu.

“dulu kami sering pergi bersama, berkeliling Seoul dengan subway. Kami sudah saling mengenal sejak lama, kami sangat dekat. Mungkin ia termasuk lelaki yang paling dekat diantara semua yang pernah dekat dengan…”

“YA!” Key mengamuk. Emosinya tak terkontrol hingga secara tak sengaja alam bawah sadarnya memerintahkan tangannya memukul keras meja pantry itu. Hyunki terdiam. Tak pernah disangkanya Key bisa semarah ini.

“aku tak mau mendengarnya lagi.” Kata Key saat dia sudah bisa meredakan semua emosinya.

“oh, baiklah.” Kata Hyunki santai. Hyunki beranjak mendekati Key yang masih berusaha meredam emosinya, mengambil gelas yang isinya baru saja ditumpakan oleh Key. Dibawanya gelas itu untuk di cuci. Tiba-tiba, sepasang lengan lelaki itu sudah berada di pinggangnya. Pipinya dijatuhkan di punggung Hyunki, sehingga ia bisa merasakan debaran jantung lelaki itu.

“no, Hyunki, don’t move. Can we stay like this for another minutes? Just wait until i finish. I just want to apologize you because… i’ve just ruined anything, everything. Tak seharusnya aku berteriak dan memukul meja itu dihadapanmu” kata Key sambil menarik nafasnya dalam-dalam. “aku hanya takut kau akan pergi dariku, aku takut tak bisa melihatmu tersenyum untukku. Detik saat matamu berbinar melihat laki-laki itu, rasa takutku membuncah, membuat segalanya tak terkendali. Aku mencintaimu, Hyunki. Sejak awal aku melihatmu, sekarang, dan sampai nanti pun akan begitu. Aku ingin kau menatapku dengan cara seperti dulu lagi, tatapan yang selalu membuat jutaan kupu-kupu menggelitik keluar dari perutku.” Saat itu juga Hyunki merasakan cairan panas menelusur di punggungnya. “aku.. aku hanya ingin kau percaya padaku.” kata Key akhirnya, membalikkan tubuh Hyunki yang terasa kaku tak berdaya.

“Oh Hye Eun noona, nugu?” tanya Hyunki pada Key, terpancar sedikit keraguan.

Key bingung mau menjawab apa. dengan ekspresi yang agak takut ia mengangkat wajahnya, “dia.. sunbae-ku semasa SMP.” Kata Key. Didesahkannya nafasnya kuat-kuat, seolah meyakinkan diri sendiri bahwa cerita ini hanyalah bagian dari masa lalunya.

“sunbae?” Hyunki menatap Key heran. Ekspresinya tak tertebak, antara kelelahan, sakit, sedih, dan takut.

“dia.. dia noona yang membuatku terjatuh hingga harus di operasi. Maka dari itu selama ini aku hanya bermain dengan perempuan, tanpa merasakan perasaan khusus. Kau lah yang pertama, Hyunki.” Kata Key mencoba menelan bulat-bulat kenangan pahit itu. kini di depannya ada seorang gadis yang ia yakini bisa menjaganya sampai nanti dirinya sendiri tak bisa melakukan itu.

“kau percaya, kan? Selama ini aku melewati masa traumaku dengan sulit. Dimulai dari no social life sampai aku bisa berteman dengan laki-laki. Kupikir mungkin pada akhirnya aku tak akan jatuh cinta, tapi kau.. kau datang dan mengubah segalanya.” Kata Key berkaca-kaca, mengingat betapa susahnya ia merubah ketakutannya pada dunia luar.

Dengan mata nanar, Hyunki menghampiri Key, memeluknya agar air mata yang selalu membuat hatinya sakit itu tak jadi terteteskan. Dipeluknya Key yang sedang duduk di bangku pantry, sehingga dada Key tepat berada di kuping Hyunki, membuatnya bisa mendengar getaran itu, dentuman tulus yang ia yakin akan selalu ia percaya.

“kau tak mau bertanya siapa itu Thunder?” tanya Hyunki menjauhkan wajahnya dari tubuh Key yang bisa membunuhnya jika ia tetap memeluknya untuk 10 detik kedepan. Wanginya terlalu menggoda Hyunki untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak.

“aku percaya, kok kalau Thun..”

“dia adik dari teman kuliahku.” Kata Hyunki santai. Ditariknya kerah blazer Key dan disapukannya ciuman manis itu sekilas di bibirnya. “kau tak perlu takut aku akan meninggalkanmu. Kau satu-satunya yang bisa membuatku mati dengan pesonamu dan hidup kembali dengan desahan nafasmu. Aku tak bisa jauh darimu.” Kata Hyunki sekali lagi mencium bibir itu.

Tentu saja Key tak bodoh, ditangkapnya tubuh Hyunki dan diseretnya tubuh mereka berdua, seraya terus berciuman, ke atas kasur.

“aku.. punya.. kunci kamar hyung.. jika kau mau..” kata Key ditengah-tengah ciuman mereka.

“wait.” Kata Hyunki tiba-tiba, membuat Key yang berada di bawahnya terpaku heran. “kurasa, kurasa aku tak bisa.” Kata Hyunki kagok.

“wae?”

“aku.. aku.. aku sedang datang bulan. Ne, aku sedang datang bulan. Ah, lebih baik aku buatkan kau kopi lagi, ne?” kata Hyunki beranjak dari atas tubuh Key dengan ringan. Key hanya tertawa dalam hati. Ia yakin benar Hyunki tak sedang datang bulan, ia bisa merasakannya saat menggendong Hyunki tadi. Tapi satu hal yang Key yakini, bahwa memang tak semudah itu mendapatkan Hyunki seutuhnya.

Tapi Key yakin, suatu saat nanti, Hyunki akan menjadi miliknya, seutuhnya.

“igeo..” kata Key menyerahkan kotak kecil, membuat Hyunki yang sedang sibuk membuat kopi berbalik menatap key.

“mwoya igeo?” ditimang-timangnya kotak itu, terdapat bunyi dentingan kecil di dalamnya. Key beranjak dari tempat duduknya dan membuka kotak itu dihadapan Hyunki.

“mungkin kita tak bisa segila Jonghyun hyung dan Hyebin, menikah di usia segini, kita berdua masing-masing masih saling ingin mengejar karir.” Kata Key sambil menarik lembut gelang kaki itu dari dalam kotaknya. Terdapat suara gemerincing halus. “tapi sampai saat itu tiba, aku mau kau mengingatku di setiap langkahmu, dan berjalan kembali padaku saat kau yakin sudah harus kembali.” Kata Key merapikan rambut Hyunki, menyematkannya dibelakang telinga. “sampai saat itu, aku akan selalu menjadi tempatmu untuk mengadu, Hyunki-ya. Jadi tetaplah begini, tetap mencintaiku, dan berada di sisiku, ne?” kata Key. Hyunki nyaris meneteskan air matanya, kontan ia langsung menarik ujung blazer Key.

“how can i say no?” tanya Hyunki lagi, disambut dengan senyum manis Key. “tell how to say no!” kata Hyunki yang langsung dibungkam oleh ciuman manis Key.

“all you have to do is say yes.” Kata Key melanjutkan ciuman mereka

~~~





[Fanfics] Bad Romance – Part I

30 04 2012

Comment please. i still work on it. idk. need some moodbooster lately. thankyou!

cast: Jonghyun, Key. Minho, Hyebin, Hyunki

length: wish its less than 10

enjoy!

 

“Micheosseo, Micheosseo! (gila, gila!)” teriak Key masuk ke ruang kuliahnya. Kelas masih kosong karena jadwal kedatangan dosen masih setengah jam lagi. Minho yang sedang terpaku dengan majalah yang ada di tangannya memperhatikan Key.

“Wae? (kenapa?)” tanya Minho dengan nada cool-nya

“Aku baru saja selesai dari klub basket dan pergi ke kafetaria untuk membeli minum. Di sepanjang jalan aku mendengar beberapa mahasiswi junior membicarakan gosipmu dengan Jessica berpacaran. Impossible.” Celoteh Key menjelaskan.

“kata siapa kami berpacaran?” tanya Minho menaikkan sebelah alisnya. “sudahlah.. Kibum-ah, aku pergi dulu. Kalau dosennya datang, segera kirimi aku pesan atau telfon. Arra? (mengerti?)” kata Minho sambil menyerahkan majalah yang sedari tadi dipandanginya lalu berlalu. Tulisan FHM tertera besar-besar di covernya.

“YAISH! Anak ini benar-benar tak bisa menjadi lebih dewasa!” gerutu Key kesal sambil melempar majalah itu dengan ekspresi jijik.

~~~

Flashback

Musim Panas 2009

“Ah~ Minho-ya.. keuman.. nan himdeuro.. (berhenti, aku sudah lelah.)” kata Key terengah-engah lalu menjatuhkan dirinya di pinggir lapangan basket. Minho yang hendak men-slam dunk bola basket yang ada di tangannya itu berhenti lalu mendekati Key.

“yah.. memang matahari hari ini terik sekali. Badan jadi cepat lelah.” Kata Minho seraya duduk di sebelah Key.

Segerombolan perempuan dengan seragam SMA yang membalut tubuh mereka baru saja keluar dari kantin hendak menuju kelas. Beberapa diantaranya berhenti di pinggir lapangan yang berseberangan dengan mereka. “Ya, Choi Minho,” panggil key pelan sambil mendudukkan tubuhnya. “kau tahu gadis yang itu?” kata Key sambil menunjuk salah satu diantara mereka.

“yang mana? Yang sedang berada di tengah mengobrol dengan yang lainnya?” tanya Minho. “Song.. Hyun.. Ki?” kata Minho mencoba membaca nama yang tertera pada seragam gadis itu.

“bukan, bodoh. Maksudku gadis yang diam terus itu. Manis kan?” kata Key menunjuk ke gadis yang memang hanya diam.

“Kang.. Hye..” kata Minho membaca nama yang ada di seragamnya. Tepat saat itu gadis yang bernama Song Hyunki mendatangi gadis itu dan mendorongnya ke tengah lapangan.

“o..oppa..” panggil gadis itu. manis memang. Badannya termasuk tinggi untuk ukuran anak kelas satu SMA. Wajah lugu itu ditutupi sebuah kacamata yang membingkai hampir setengah wajahnya. Rambutnya diikat sederhana serta seragamnya agak kebesaran. Dengan ragu ia berbalik ke arah teman-temannya tadi. Si gadis bernama Song Hyunki itu yang paling heboh menyemangatinya.

“KANG HYEBIN HWAITING!” kata Song Hyunki sambil berjingkrak-jingkrak girang.

“oppa.. igeo..” kata Hyebin mendekat ke arah Minho, memberinya sebuah minuman isotonik. “selamat menikmati, maaf mengganggu.” Kata Hyebin sopan. Gadis itu kemudian berbalik dan menghilang ditengah kerumunan teman-temannya.

~~~

Musim gugur 2012

Dengan langkah ringan Hyebin melangkahkan kakinya keluar dari sekolah. Hari ini adalah hari terakhir tes uji coba masuk perguruan tinggi yang berarti setelah ini ia akan mendapat dua minggu penuh libur sebelum akhirnya ia kembali ke sekolah untuk melanjutkan tes persiapan masuk perguruan tinggi yang akan diadakan dua bulan lagi. Berat memang menjadi siswi tahun ketiga di sebuah sekolah ternama. Namun motivasi Hyebin untuk bisa masuk Seoul National University demi bisa bertemu Minho setiap hari menjadi pemantik semangatnya ketika redup. Minho, kekasihnya yang selalu ada di sampingnya tak peduli apapun yang terjadi. Berawal dari sebotol minuman isotonik dan kencan-kencan kecil hingga akhirnya mereka resmi berpacaran.

Dibukanya handphonenya dan entah untuk keberapa kalinya dibaca pesan itu. mereka berjanji bertemu di kafetaria kampus karena Minho ingin mengajak Hyebin melihat bakal kampusnya nanti.

Tak sampai satu jam, Hyebin sudah memasuki gedung kampus dimana Minho selama ini belajar. Dicarinya letak kafetaria yang ternyata sangat dekat dengan fakultas yang akan ia masuki, fakultas Seni dan Budaya, Jurusan Musik Classic tepatnya. Berbeda dengan minho yang sekarang sudah berada di fakultas Seni dan Budaya Jurusan Acting.

Hampir dua jam Hyebin menunggu di kafetaria. Ruangan terbuka membuatnya kedinginan meski coat tebal sudah dieratkannya. Minho pun tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tak kuat menghalau rasa dingin, Hyebin memutuskan untuk masuk ke dalam gedung kampus. Dimasukinya ruangan-ruangan besar itu dengan rasa kagum, rasa keinginan yang membuncah.

Masuk ke ruangan ketiga, sebuah auditorium besar dengan Grand Piano dan sebuah panggung berukuran besar dengan tirai merahnya. Hyebin tak kuasa menahan keingin tahuannya sehingga ia berjalan mendekat ke arah piano sampai…

“Ah.. Pelan.. Jangan.. Ah.. Iya.. Disitu..” suara desahan seorang perempuan.

“sabar.. sedikit.. ergh.. sedikit lagi..” suara serak seorang lelaki membalasnya.

Suara serak yang iya biasa dengar, suara berat yang biasa mengisi harinya, suara itu.. suara…

“Oppa?” dihampirinya bangku yang bergerak tak menentu arah itu dan ditemukannya kekasihnya bersama gadis lain. Minho dengan segera bangkit dari posisinya dan menutup kembali kancing kemejanya sementara si gadis hanya menatap sinis ke arah Hyebin.

“aku.. aku bisa jelaskan, Hyebin.” Kata Minho dengan muka panik sambil mengejar Hyebin yang setengah berlari menuju pintu auditorium. Suara yang keluarpun bukan seperti suara Minho yang biasa.

“jelaskanlah.” Kata Hyebin dengan suara tersendat. Ditahannya segala rasa perih dan remuk redam di hatinya untuk berbalik dan melihat Minho. Orang yang dikaguminya itu kini berubah menjadi sesosok menyeramkan yang sangat dibenci Hyebin. Terselip rasa dendam dan sakit hati di rongga-rongga hatinya.

“aku.. Jessica..” Minho bingung harus menjelaskan darimana. Sementara Jessica di belakang hanya terdiam memperhatikan mereka. Tak berniat membantu Minho sama sekali.

“sudah sejak kapan?” tanya Hyebin. Ia tak mau tahu jawabannya, ia benar-benar tak mau tahu sejak kapan Minho sudah mengkhianatinya. Tapi rasa dendamnya menuntutnya untuk tahu lebih banyak lagi tentang hal yang telah menyakitinya.

“dua minggu..” kata Minho menarik nafas. “dua minggu setelah aku masuk Universitas ini. dia adalah sunbae (senior) ku.” Kata Minho menelan ludahnya. Meskipun tak mencintai Hyebin sejak awal, rasanya ia tak mau kehilangan orang yang selama ini selalu ada untuknya.

“berarti.. sudah nyaris setahun?” tanya Hyebin tak percaya. Pertanyaan bodoh dan tak perlu di jawab tentu saja. Pelupuk mata Hyebin berkedut, pertanda tanggul air matanya akan jebol sebentar lagi, sementara dari belakang dilihatnya tatapan mata Jessica yang seolah menginginkan sakit yang Hyebin rasakan lebih lagi.

“tapi… kau lah kekasihku, Hyebin-ah..” kata Minho yang langsung disambut tamparan keras dari tangan Hyebin. Hyebin sendiri tak percaya ia bisa punya energi lebih untuk menampar orang yang tak pernah ia ingin sakiti.

“kalau aku memang kekasihmu, tak seharusnya aku mendapat perlakuan seperti ini.” kata Hyebin kasar. Minho cukup terkejut mendengarnya. “akan ku buat kau menyesal.” Pekik Hyebin pelan, namun cukup didengar oleh Minho dan Jessica.

Dengan langkah gontai Hyebin menjauh, pergi ke tempat dimana hanya ia yang bisa melihat dirinya.





[Fanfics] Do You

29 04 2012

Cast: Hyebin, Hyunki. Key, Jonghyun, Onew, Taemin, Minho

length: oneshot

genre: A TOTAL FLUFFY LOLLLLL

author: @nisanessa

kindly check the previous story of it [FANFIC] Romantic

Hyunki mengangkat sebuah kotak besar dan masuk ke ruang pengantin wanita. Kotak ini berisi gaun pengantin, Hyunki sudah menyiapkannya sejak sebulan yang lalu. Bahkan Hyunki mendesign dan mencari bahan dengan keringatnya sendiri. Hyunki hanya ingin yang terbaik untuk pernikahan sahabatnya sore ini.Tiga malam Hyunki sampai tidak tidur karena masih terkagum dengan hasil designnya sendiri. Dengan bangga Hyunki membuka kotak itu, perlahan. Sampai-sampai Hyebin yang duduk diatas kursi rias harus membuka mulutnya selama beberapa detik.

“OH MY GOOOOOD!!!!!!” pekik Hyebin luar biasa kencang saat Hyunki menarik lembut sebuah gaun berwarna kelabu. Hyebin bisa merasakan mulutnya melongo sangat lebar. Hyunki hanya tersenyum bangga.

“try it, kalau kurang puas aku akan mencium mu” ujar Hyunki sambil menarik lengan Hyebin lembut.

Hyunki merapikan pita hitam yang melingkar di pinggang Hyebin, memberikan sentuhan mewah terhadap gaun strapless kelabu yang kini terlihat sangat cantik ditubuh Hyebin. Hyunki sengaja menambahkan berberapa permata dibagian depan gaun itu. Hyunki juga membentuk sayap di kedua dada Hyebin.Membuat gaun itu sangat menakjubkan dimata Hyebin.

“you like it, huh?” Tanya Hyunki seraya meneliti gaun hasil designnya di pantulan kaca. Hyebin masih terpaku kagum. “ini akan menjadi kejutan untuk Jonghyun nanti. Hihi” lanjut Hyunki masih tak bisa menyembunyikan senyum bangganya.

“gaun ini sangat indah. Hyunki-ah kau sangat hebat… aku tak menyangka… kau ..haaaa!!!! I love you!!! Haaaa” pekik Hyebin girang sambil memeluk sahabatnya erat, sangat erat sampai Hyunki sulit bernafas.

“ya! Hyebin-ah let me go!” Hyunki berusaha mencari oksigen saat Hyebin melepas pelukannya sambil terisak. Hyunki terkejut melihat air mata mengalir lembut di pipi Hyebin. “mwo??!!! Kenapa kau menangis??Mana yang tidak kau suka?Aish aku sudah duga tak seharusnya aku membuat sayap didadamu seperti yang Key katakan. Aish aish!!” Hyunki mengumpat.

“mana mungkin aku tidak suka? Gaun ini sangat indah! I love it! Really!” Hyebin menghapus airmatanya “hanya saja aku merasa takut.”

“hah? Kau takut? Berberapa jam lagi kau akan menikah dan kau bilang takut? Tenang saja aku sudah menambahkan busa di dada mu jadi jangan takut dada mu akan tampak sangat kecil” Hyunki mencubit pipi Hyebin gemas. Hyebin meringis kesakitan.

“Ya! Kau kira dada ku sekecil apa hah? Huh. Biar saja yang penting Jonghyun mencintai ku. Weeeek” Hyebin menjulurkan lidah nya yang disambut jitakan Hyunki. “hey apa yang kau lakukan?! Sakit tau!”

Hyunki menatap Hyebin lurus, tepat ke mata Hyebin membuat Hyebin sedikit terkejut.

“kalau gitu kau harus mengingatnya. Kau juga mencintai Jonghyun, saat nanti kau ragu, kau harus ingat dia pernah hadir dalam hidupmu, merubahnya menjadi lebih baik” Hyebin tak menyangka sahabatnya cepat sekali berubah suasana hati.

“aku melakukan sesuatu yang benar kan?” Tanya Hyebin masih dalam balutan gaun kelabu yang masih enggan dia lepas. Hyunki kini duduk dipinggir kasur bermain dengan iPhone nya.

“sangat benar! Kau mencintainya Hyebin-ah, kau menerima lamarannya, kalian berciuman didepanku dan Key, dan aku punya buktinya. Mau lihat?” Hyunki menyodorkan iPhone nya. Hyebin menggeleng tak mau melihat ekspresi bodohnya untuk kesekian kali. Hyunki tersenyum penuh kemenangan.

“kau sendiri dengan Key sudah sejauh mana?” kini Hyebin ikut duduk disebelah Hyunki yang gelagapan menerima pertanyaan Hyebin. Dan hyebin berani bersumpah kalau baru saja dia melihat wajah Hyunki bersemu merah. Untuk pertama kalinya, kerena seorang laki-laki yang bernama Kim Ki bum a.k.a Key. Hyebin tak percaya, tapi yakin dengan penglihatannya. Hyunki kini mengibas-ngibaskan tangannya tak jelas.

“apa maksudmu? Omo omo” Hyunki terkejut saat tiba-tiba iPhone nya berdering.

“Hello?” jawab Hyunki tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Sementara Hyebin masih sibuk mengaggumi gaunnya.

“apa??!! Bodoh! Apa maksud mu?Aku tidak mau tau sekali aku bilang harus Prada ya Prada!” caci Hyunki terhadap orang disebrang telfon yang entah siapa. Hyebin seraya menengok kearah suara marah Hyunki yang sudah mengangkat gaun merah Hermes nya dan bergerak kesana kemari. “ tunggu tunggu ini saya berbicara dengan siapa?” Hyunki menjauhkan iPhone nya dan menatap layar panggilan itu. Dan nyaris saja Hyebin yang menatap tingkah Hyunki meledakan tawanya karena ekspresi Hyunki yang langung berubah drastis. “oh Key.. mmm aku tak bermaksud mengatakan bodoh tadi… ya sudah sudah aku percaya pada mu. Tentu, tentu boleh.” Ujar Hyunki selembut mungkin. Sementara Hyebin sudah menggigit bibir menahan tawanya. “ya aku akan ke ruangan Jonghyun untuk menyiapkan tuxedo nya…” Hyunki mengakhiri panggilannya dengan wajah yang memelas dan saat itu lah tawa Hyebin meledak.

“hahahahaha! Oh my God, now I believe it if Key is totally almighty. Kau sudah di taklukan olehnya Hyunki!” Hyebin mengipas-ngipas wajahnya takut make-up diwajahnya luntur karena tawanya yang sangat lebar.

“ya! Kau jangan meledekku! Sudah aku akan ke tempat your-husband-soon-to-be” Hyunki segera beranjak keluar ruangan membawa kotak besar lainnya menyembunykan pipi nya yang merah merona. tak lama setelah itu seseorang mengetuk pintu ruangan dimana Hyebin berada. Hyebin menatap bayangan seseorang  masuk sambil tersenyum lebar dari cermin dihadapannya. Hyebin bisa melihat pipi laki laki itu sedikit memerah.

“ha? Key? Ah, maksudku, Kibum. Sejak kapan? Jangan-jangan kau mendengar semuanya?” Hyebin menengok kearah Key.

“aku hanya ingin mengantar sepatu mu.” Key mengacak ngacak rambutnya sambil meletakan kotak hitam di karpet ruangan itu. “am I that passionate?” Tanya Key sambil menatap Hyebin yang kembali meledakan tawanya.

“for Hyunki? she will answered a totally yes” jawab Hyebin yang sudah menghentikan tawanya karena lirikan tajam Key.

“good then. Aku akan terus membuatnya kelimpungan haha” Key menepuk pundak Hyebin. “let me give you a last touch in your eyes” ujar Key sambil mengambil botol eyeliner di meja rias. Dan menarik lembut wajah Hyebin. Jujur saja, Hyebin sedikit takut dengan Key. Hyebin tau Key adalah orang yang perfeksionis, bisa-bisa Hyebin kena damprat olehnya kalau melakukan sesuatu hal yang salah.

“jangan buka mata mu dulu” ujar Key memecah keheningan. Hyebin hanya mengagguk kaku saat merasakan sesuatu menyentuh kelopak matanya.

“Hyebin-ah aku punya permintaan” ujar Key. Hyebin hanya merasakan suara Key yang berubah lembut.

“apa?” Tanya Hyebin masih belum membuka matanya.

“Jonghyun akan menjadi suami mu, dua jam lagi. Jaga dia ya, aku tau dia bodoh, suka seenaknya, tapi dia sangat mencintaimu.” Key menatap bayangan Hyebin di cermin yang membuka matanya perlahan. “dan aku mohon kau jangan biarkan hubungan Jonghyun dengan sahabatnya renggang atau menjauh” lanjut Key sambil mengalihkan tatapannya. Hyebin memutar wajahnya mendapati Key sedang menggigit bibir bawahnya.

“aku janji. Aku akan menjaganya, Ki Bum. Jonghyun sangat bahagia punya sahabat seperti mu, dan yang lainnya.” Hyebin tersenyum saat melihat Key mengangkat wajahnya.

“errr… Hyebin bisa kah kau memanggil ku Key? Kita akan jadi saudara. Tak enak kalau kau memanggil ku seperti itu. haha” Key merapikan poninya sambil membalas senyum Hyebin. “Hyebin, kau tau, matamu sama dengan Jonghyun. Berbinar saat kalian menyebutkan nama orang yang kalian cintai.” lanjut Key.

Sementra itu di ruangan lain Hyunki merapikan dasi  silver dengan mata yang mencari-cari.

“Hyunki.. kau ingin mencekik ku ya?” sontak Hyunki sadar dan kembali memandang Jonghyun yang meringis.

“ah. sorry. Aku melamun.” Hyunki mengendurkan dasi Jonghyun yang sudah hampir saja membunuh sang pengantin laki-laki sahabatnya.

“kau mencari Key?” tegur sesorang dari belakang Jonghyun. Hyunki melihat Onew sedang merapikan mawar merah  yang disematkan didadanya. Hampir saja Hyunki terpesona kalau saja sang pemilik nama -Key- tidak masuk keruangan. Key langsung melirik tajam kearah Onew yang berjalan kaku pergi menghampiri Taemin dan Minho yang sedang memakai sepatu. Hyunki yang tak tau harus bertindak apa, tak sengaja menarik dasi Jonghyun dan mencekiknya lagi.

“Ukh, Hyunki! Kau ingin membunuh ku ya?!” Jonghyun menatap Key yang entah kenapa tersenyum.

“aku akan benar-benar membunuhmu kalau kau menyakiti Hyebin. Dan membuatnya menangis. Aku tak akan memaafkan mu.” Hyunki bisa merasakan suasana ruangan yang tiba-tiba menjadi hening. “sepertinya tugas ku selesai disini. Aku akan kembali ke tempat Hyebin.” Lanjut Hyunki kikuk karena Key yang sedari tadi menatapnya dengan senyum yang tak lepas di bibir pink nya. Baru saja Hyunki ingin membuka pintu suara Jonghyun menghentikannya.

“Hyunki-ah, aku mencintai sahabatmu seutuhnya. Tak hanya wajah, hati dan tubuhnya. Aku juga mencintai jiwa sahabatmu.” Jonghyun membiarkan Hyunki menatapnya dengan senyum dan beranjak pergi.

“Key… jangan bermain-main dengannya lagi. Nanti dia bias-bisa teralihkan perhatiannya ke Onew hyung” lanjut Jonghyun yang disambut anggukan Onew. “yah Hyung, kau jangan terlalu yakin. Hahaha” tawa Jonghyun dan Onew berhenti saat Key memberikan tatapan laser kearah mereka berdua. Onew dan Jonghyun menelan ludah bersamaan saat Key menaikan alisnya.

“aku tak pernah bermain main dengan gadis yang membuatku jatuh cinta” Ujar Key sambil beranjak keluar mencari sosok gadis dengan gaun merah yang terus hadir dipikirannya.

Hyunki menepuk peluh yang menetes didahinya.

“ya kalau begitu kita bisa memulai acaranya” ujar Hyunki kepada pemandu acara. Hyunki menatap para undangan tamu yang kurang lebih ada sekitar 300 orang sudah memenuhi hall. Hyunki sudah me-reserved salah satu hotel bintang lima milik ayahnya yang berada di pinggir Kota Seoul. Hyunki juga sudah meminta pamannya yang bekerja di bidang pemerintahan untuk mengatur rahasia keamanan perjalanan para tamu undangan –yang kebanyakan artis- untuk sampai ke tempat ini. Hyunki tak mau hari bersejarah ini tidak berjalan sempurna. Hyunki menatap kearah altar yang sudah dihiasi oleh berbagai bunga dan pita berwarna warni, pemandu acara sudah mulai membuka acaranya. Tiba tiba seseorang menarik pinggangnya. Seketika lutut Hyunki lemas saat matanya bertemu dengan mata tajam yang sangat ia kenal, mata yang selalu hadir di setiap detik dia berfikir.

“finally I found you” ujar Key dengan tatapan yang tak lepas dari mata Hyunki yang tak berkedip. Hyunki bisa merasakan seluruh darah di tubuhnya bergerak cepat. Tubuhnya kini berada di dekapan Key, untung saja para tamu sudah berada di hall jadi mereka tidak bisa mendengar detakan jantung Hyunki yang tidak karuan. “kau tidak perlu sampai terpesona seperti itu Hyunki-ah” lanjut Key dengan senyum yang bisa membuat Hyunki mati seketika itu juga kalau saja aroma nafas Key tak membuatnya tetap sadar.

“kau terlalu pede” Hyunki mengalihkan tatapannya dari wajah Key yang berjarak sekin centi. Uppps, mata Hyunki malah bertemu dengan leher Key yang sedikit terekspose. Hyunki menelan ludahnya.

“I know you like it.” Key mengusap pipi Hyunki yang terasa hangat ketika jemari Key menyentuhnya. Senyum Key pun semakin mengembang.

“I love it”  Hyunki langsung menutup mulutnya yang lepas kontrol. Semenatara Key sudah tak bisa menahan detak jantungnya yang bisa meledak saat itu juga.

“it? How about me?” Tanya Key sambil mendorong tubuh Hyunki lembut ke tembok. Hyunki merasakan tatapan Key seakan akan ingin menelannya. Key membiarkan Hyunki bersemu. Membiarkan kupu-kupu di perutnya terbang keluar setiap melihat gadis dihadapannya ini tersipu.

“you love me?” Tanya Key membiarkan Hyunki diam seribu bahasa. Untung saja pemandu acara masih sibuk menyambut para tamu, Key dengan yakin menarik lembut dagu Hyunki. Membiarkan mata mereka bertemu. “you love me?” kembali Key bertanya. Hyunki merasakan paru-paru nya tak bisa bernafas, bibirnya kaku, dan jantung nya sudah lupa berdetak.“I….” bibir Hyunki bergerak gerak. Sementara matanya tak bisa berhenti menatap mata Key. “I love yo-“ Hyunki bisa merasakan bibir Key yang sudah menempel di bibirnya. Kepala Hyunki sudah tak bisa berfikir lagi. Sementara Key membiarkan kupu-kupu yang terbang menari nari di perutnya mulai bergejolak.

“I know you love me” ujar Key sambil mengatur nafasnya setelah berberapa saat lupa untuk mengisi oksigen di paru-parunya.

“yeah, I love you. I love anything in you” Hyunki menarik Key kedalam ciuman yang memabukan itu lagi.

“Omo! Hyung kau merekamnya?” tiba-tiba sebuah suara mengahancurkan momen indah Key.

“ya Taemin suaramu!” ujar sang Leader.

“sshhh! Kalian berdua diam! Ini akan jadi balas dendam untuk Key” ujar Jonghyun kembali mengalihkan perhatiannya kearah layar iPhone nya. “lho mana Key?”

“dia dihadapanmu Hyung” ujar Minho yang sudah berjalan menyusul Taemin dan Onew yang kabur takut kena amuk.

“eh, Key… kau tak mau sahabat mu yang ingin menikah ini babak belur kan? Hehe aku harus ke altar.. hehe ” tanpa menunggu Jonghyun langsung berlari menuju hall. Sambil berteriak “Hyunki! terima kasih kau sudah membuat Key jatuh cinta!” Hyunki  hanya bisa melongo saat Key sudah berada di hadapannya.

“pukul dua belas malam nanti setelah Dino sialan itu dan Hyebin take off ke Paris, kau dan aku tak akan ada yang mengganggu lagi, baby. Sekarang kau jemput sang pengantin wanita ya. Kasihan Jonghyun sudah tak sabaran melihat Hyebin dengan baju pengantin buatan mu, sweetheart.” Key menarik tubuh Hyunki dan membiarkan Hyunki menariknya kedalam ciuman hangat itu lagi.

“Hyunki, kau kemana saja!” pekik Hyebin “OMO! Kalian….“

“yeah we’re finally together” ujar Key sambil mengusap bibir Hyunki dengan ibu jarinya. “I have to go Honey, meet me at the party ya..”  Hyunki mengangguk dengan senyumannya. Key beranjak pergi. Sementara Hyebin masih bermain mata dengan Hyunki.

“ya berhenti menatapku!” Hyunki berdecak pinggang. Hyebin hanya mengulum senyumnya saat melihat Hyunki  merapikan gaunnya.

“kau sudah siap?” suara laki-laki tua menyapa Hyebin dari belakang.

“ya appa, aku siap.” Hyebin menyambut  lengan appa nya dan berjalan menuju hall.

Hyebin mengatur nafasnya saat kakinya menapaki tangga altar yang berada ditengah hall. Hyebin merasakan jantung berdetak makin keras saat appa-nya melepaskan lengannya dan lengan besar itu menyambutnya. Hyebin menatap lengan itu, menelusurinya sampai mata nya bertemu dengan laki-laki pemiliknya.

“kau sangat cantik” ujar Jonghyun sambil membalikan tubuhnya mengahadap pendeta yang mulai memberikan petuah petuah.

“kau juga selalu tampan. Tapi kau lebih tampan sekarang dengan tuxedo itu” ujar Hyebin pelan tapi telinga Jonghyun bisa menangkap kegugupan dari suara itu. Jonghyun mememperat genggamannya memberi kekutan yang dia punya.

“saya, Kim Jonghyun, menyambut engkau, Kang Hyebin sebagai istriku, dan berjanji bahwa saya tetap setia kepadamu dalam untung dan malang, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia” sedetik pun Jonghyun tak mengalihkan tatapannya dari mata Hyebin yang berbinar karena air mata.

“saya, Kang Hyebin menyambut engkau, Kim Jonghyun, sebagai suamiku dan berjanji bahwa saya tetap setia kepadamu dalam untung dan malang, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia” Hyebin bisa merasakan air mata bahagia bergulir dipipinya.

“mulai sekarang kalian sah sebagai suami istri.” Ujar sang pendeta. Dan disaat itu lah Jonghyun menarik Hyebin kedalam pelukannya. Hyebin merasakan Jonghyun terisak dipelukannya. Sementara para tamu yang hadir pun semakin heboh saat Jonghyun mendaratkan ciuman di bibir Hyebin. Hyebin tak bisa mengingkari rasa bahangianya. Jonghyun manarik Hyebin ketengah altar dan menggangkat tubuh Hyebin. “finally you’re mine” ujar Jonghyun sambil terus menatap Hyebin yang menutupi wajahnya yang menangis bahagia. “I’m so happy” Jonghyun menurunkan tubuh Hyebin dan memeluknya sangat erat.

“jadi kalian sudah benar benar bersama?” ujar Hyebin saat Hyunki membuka kan pintu mobil BMW hitam. Hyebin menatap Key dan Hyunki bergantian.

“jadi kalian resmi bersama?” jawab Hyunki sambil menaikan salah satu alisnya.

“aish kau ini!” Hyebin memeluk sahabatnya “thank’s for everything Hyunki-ah.” Hyebin bisa merasakan air matanya tidak jadi jatuh saat Hyunki menjitaknya. ”awww! Apa sih yang kau lakukan!” Hyebin meringis.

“itu artinya sama-sama. Sudah sana! Kau harus mengejar penerbangan” Hyunki mendorong Hyebin masuk dan duduk disebelah Jonghyun. “Oh iya Jonghyun, dia ini belum berpengalaman. Jadi sabar ya malam pertama kalian bisa bisa…..” Hyunki sengaja menggantungkan kalimatnya. Key menutup pintu mobil itu dan melingkarkan lengannya di pinggang Hyunki.

“ya Hyung aku ingin segera mengendong keponakan” ujar Taemin memajukan kepalanya ke arah jendela mobil yang terbuka.

“kau bisa minta itu ke pada Key dan Hyunki, Taemin-ah” ujar Jonghyun membuat Key dan Hyunki salah tingkah.

“ya Jonghyun-ah kau dan Hyebin akan ketinggalan pesawat” ujar Onew menetralisir keadaan.

“ah Onew-oppa benar. thank you so much guys” ujar Hyebin sambil melambaikan tangannya seraya mobil mereka berajalan meninggalkan hotel yang sudah sepi sejak acara pernikahan mereka berakhir.

Seiring mobil itu hilang di tikungan, Onew berjalan masuk meninggalkan lobby hotel di ikuti Taemin dan Minho. Sementara itu Hyunki dan Key saling tatap dengan senyum jahil mereka.

“kau tak kedinginginan?” Tanya Jonghyun melirik Hyebin yang bersandar dipelukannya. Mobil mereka kini sudah memasuki kawasan bandara Incheon. “ah ya sebaiknya aku mengambil jaket ku. Dimana ya Hyunki menaruhnya” Hyebin membuka salah satu tas yang berada di bawah kakinya. Mata Hyebin hampir meloncat keluar saat tangannya menaik keluar sebuah… lingerie… tipis…

“SONG HYUNKI!!!!!!!” pekik  Hyebin tak percaya, Jonghyun langsung menengok, memperhatikan istrinya bingung.

“kau kenapa aegi-“ Jonghyun ikut terkejut saat melihat isi tas Hyebin yang berantakan. Jonghyun mengalihkan perhatian dari benda benda frontal yang sedang ditutupi “jangan-jangan…” Jonghyun membuka tas yang ada di bawah kakinya. Boxer… Boxer… dan Boxer….Jonghyun menahan nafasnya “Kim Ki Bum!!!!!!!”

~~~





[FANFICS/TEASER] Bad Romance

23 04 2012

uwouwouwo now now no im back xD its just the teaser guys LMAO tell me how is it and when i came back from SG couple days later, i’ll decide to go on this work or not :D

cast: Jonghyun, Hyebin, Key, Minho, Jessica

~

“kata siapa kami berpacaran?” tanya Minho menaikkan sebelah alisnya.

~

“KANG HYEBIN HWAITING!” kata Song Hyunki sambil berjingkrak-jingkrak girang.

~

“sudah sejak kapan?” tanya Hyebin. Ia tak mau tahu jawabannya, ia benar-benar tak mau tahu sejak kapan Minho sudah mengkhianatinya. Tapi rasa dendamnya menuntutnya untuk tahu lebih banyak lagi tentang hal yang telah menyakitinya.

~

Bodoh, dasar gadis bodoh. Siapapun lelaki itu, ia sudah membuatmu menangis, ia tak pantas mendapatkanmu, pekik Jonghyun dalam hati.

~

“akan kubuat kau menyesal.” 

“akan kupastikan gadis itu membuat kalian menyesal.” 

~

“kau terlalu besar.” Kata Hyebin memperhatikan badan Jonghyun yang hanya ditutup kaus tanpa lengan dan cardigan tipis. “badanmu, terlalu besar. Seperti hulk. Menyeramkan.”

~

“If you don’t go for it, you’ll spend your rest life wondering ‘what if?’.”

“selalu ada yang pertama untuk segalanya”

~

“NEO! Neon babo namjaya! (kau lelaki bodoh!) bagaimana bisa kau membuang gadis polos itu? kau tak tahu kan aku sudah merelakannya untukmu?” kata Key melontarkan semua yang ada di otaknya.

~

Dari saat pertama ia bertemu dengannya, ada rasa yang terselip di hati Key bahwa ia ingin melindungi gadis itu. Ia merasa senang hanya dengan melihat gadis itu berjalan dekatnya, atau hanya sekedar melihat gadis itu tertawa dengan teman-temannya.

~

Tak pernah dibayangkannya mimpi buruk itu akan datang. Melepaskan orang yang ia sukai untuk sahabatnya memang berat. Kini Key harus merelakan orang itu sekali lagi untuk orang lain.

~

UWOUWOUWOOOO~~ TELL ME TELL ME HOW IS IT LMAO yeah yeah i kinda failed at writing at the moment so i decided to upload the teaser first. gonna see how’s you guys react LOL.

 

with love, waiting for your respond :D








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 179 other followers